BREAKING NEWS
 

Muktamar NU Akan Ditutup Presiden

Menag Calon Kuat Gantikan Gus Yahya

Reporter : BHAYU AJI PRIHARTANTO
Editor : ADITYA NUGROHO
Kamis, 18 Juni 2026 07:50 WIB
Menteri Agama Nasaruddin Umar dan Ketua Umum PBNU KH. Yahya Cholil Staquf (Gus Yahya). (Foto: Instagram)

RM.id  Rakyat Merdeka - Menjelang Muktamar NU ke-35, Menteri Agama Nasaruddin Umar disebut-sebut jadi calon kuat pengganti KH. Yahya Cholil Staquf (Gus Yahya) sebagai Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU). 

Hal tersebut disampaikan oleh Sekretaris Jenderal PBNU Saifullah Yusuf atau Gus Ipul saat menghadiri rapat koordinasi persiapan Musyawarah Nasional (Munas) dan Konferensi Besar (Konbes) NU 2026 di Pondok Pesantren Al Falah, Ploso, Kediri, Jawa Timur, Selasa (16/6/2026). 

Menurut Menteri Sosial itu, Nasaruddin memiliki rekam jejak organisasi yang sesuai dengan pola kepemimpinan yang berkembang di lingkungan NU dalam beberapa dekade terakhir. 

"Kalau kita lihat sejak zaman KH. Abdurrahman Wahid (Gus Dur), paling tidak 40 tahun terakhir ini, tiga ketua umum sebelumnya pernah menjadi Katib Aam," kata Gus Ipul.

Menurut dia, sejumlah Ketua Umum PBNU sebelumnya, mulai dari KH. Abdurrahman Wahid, KH. Said Aqil Siradj hingga KH. Yahya Cholil Staquf, pernah menjabat sebagai Katib Aam sebelum dipercaya memimpin PBNU. Nasaruddin yang saat ini menjabat Katib Aam PBNU juga dinilai memiliki pengalaman serupa. 

Baca juga : Menyaksikan Bergantinya Kiswah Di Malam Tahun Baru Hijriah

Meski demikian, Gus Ipul menegaskan, pemilihan Ketua Umum PBNU sepenuhnya menjadi kewenangan peserta muktamar melalui mekanisme organisasi yang berlaku. 

Ia juga memastikan, tidak akan maju maupun dicalonkan sebagai Ketua Umum PBNU pada Muktamar NU ke-35. 

Muktamar NU ke-35 rencananya akan digelar pada 1-5 Agustus 2026. Sebelum pelaksanaan muktamar, PBNU akan menggelar Munas dan Konbes NU pada 20-23 Juni 2026. Rangkaian kegiatan diawali di Pondok Pesantren Al Falah Ploso, Kediri, dilanjutkan napak tilas pendiri NU di Pondok Pesantren Tebuireng, Jombang, dan direncanakan ditutup di Bangkalan, Madura. 

Adsense

Gus Ipul mengatakan, PBNU telah mengundang Presiden Prabowo Subianto untuk memberikan amanat pada penutupan Munas dan Konbes NU. Namun, lokasi penutupan masih bersifat tentatif dan menyesuaikan jadwal Presiden. 

Jika Presiden dapat hadir, penutupan akan digelar di Bangkalan. Sebaliknya, apabila jadwal tidak memungkinkan, kegiatan akan ditutup di Ploso. 

Baca juga : Meksiko Vs Korsel, Laga Penentuan Juara Grup

Sementara itu, Rais Syuriyah PBNU Prof. Mohammad Nuh mengatakan, salah satu agenda penting yang akan dibahas dalam Munas dan Konbes NU adalah wacana pelembagaan Ahlul Halli wal Aqdi (AHWA). 

Menurut dia, AHWA yang selama ini bersifat ad hoc untuk memilih Rais Aam diusulkan menjadi lembaga permanen yang mendampingi Rais Aam sekaligus menjadi bagian dari Majelis Tahkim. Selain persoalan organisasi, forum tersebut juga akan membahas berbagai isu keagamaan kontemporer sebagai respons terhadap perkembangan zaman. 

Pengasuh Pondok Pesantren Tebuireng Jombang KH. Abdul Hakim Mahfudz atau Gus Kikin berharap, Munas dan Konbes NU menghasilkan keputusan strategis yang dapat memperkuat tata kelola organisasi menjelang Muktamar Abad Kedua NU. 

"Kami optimistis forum tersebut akan menjadi sarana konsolidasi organisasi menjelang Muktamar ke-35 atau Muktamar Abad Kedua Nahdlatul Ulama," katanya. 

Di sisi lain, Bendahara PCNU Kabupaten Cianjur KH. Ahmad Yusup mengusulkan, agar Muktamar NU ke-35 digelar di Pondok Pesantren Lirboyo, Kediri, karena dinilai memiliki kapasitas, pengalaman, dan legitimasi historis yang memadai untuk menjadi tuan rumah forum tertinggi NU tersebut. 

Baca juga : Kejagung Dalami 26 Nama Yang Diajukan Sony Sonjaya

Sementara Ketua PBNU Bidang Keagamaan KH. Ahmad Fahrur Rozi mengusulkan, mekanisme pemilihan Ketua Umum PBNU tetap melalui AHWA dengan jumlah anggota diperluas menjadi 17 kiai. 

Menurut dia, penambahan anggota AHWA akan memperkuat keterwakilan ulama dari berbagai daerah di Indonesia sekaligus meningkatkan legitimasi keputusan yang dihasilkan muktamar. "Namun, yang lebih penting dari sekadar simbol adalah semangat untuk memperluas keterwakilan ulama NU dari berbagai daerah di Indonesia," ujar Fahrur. [FAQ/BYU]

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Tags :

Berita Lainnya
 

TERPOPULER

Adsense