BREAKING NEWS
 

Fikrul Hanif Sufyan Gelar Riset Dokumentasi Budaya

2 Abad Wafatnya Tuanku Pamansiangan, Menjahit Memori Kolektif

Reporter & Editor :
MUHAMMAD RUSMADI
Rabu, 29 Juli 2026 16:26 WIB
Kompleks Pemakaman Tuanku Pamansiangan di Nagari Koto Laweh, Kabupaten Tanah Datar. [Foto: Dok]

RM.id  Rakyat Merdeka - Riset Fikrul Hanif Sufyan dan tim, menelusuri jejak sejarah, ingatan masyarakat, serta hubungan dua situs penting di Tanah Datar dengan ulama Tarekat Syattariyah dan perlawanan terhadap Kumpeni Belanda pada masa Paderi.

(*) 

Upaya merawat sejarah lokal tidak selalu dimulai dari arsip besar atau monumen megah. Ia dapat berangkat dari surau, makam, cerita keluarga, dan ingatan warga yang diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya.

Semangat itulah yang melandasi riset bertajuk "Menjahit Memori Kolektif melalui Dokumentasi Budaya: Surau dan Makam Tuanku Pamansiangan di Nagari Koto Laweh, Kabupaten Tanah Datar". Riset tersebut dilaksanakan oleh Fikrul Hanif Sufyan bersama tim risetnya pada 13 sampai 26 Juli 2026.

Kegiatan lapangan berlangsung di Nagari Koto Laweh dan Nagari Paninjauan, Kabupaten Tanah Datar. Dua wilayah ini menjadi ruang penting untuk menelusuri kembali jejak Tuanku Pamansiangan, tokoh ulama yang hidup dalam ingatan masyarakat sekaligus terhubung dengan pergulatan sosial, keagamaan, dan politik pada masa Paderi.

Baca juga : Rasio Utang Indonesia Aman, Manfaatnya Nyata Untuk Pembangunan Infrastruktur

Surau dan makam Tuanku Pamansiangan bukan sekadar bangunan dan tempat pemakaman. Keduanya merupakan penanda ruang yang menyimpan lapisan sejarah.

Periset Fikrul Hanif Sufyan (kanan) sedang melakukan wawancara dengan dua orang informan di Kompleks Pemakaman Tuanku Pamansiangan di Nagari Koto Laweh Kabupaten Tanah Datar. [Foto: Dok]

Di dalamnya, tersambung kisah tentang pendidikan keagamaan, jaringan ulama, kehidupan masyarakat nagari, serta perlawanan terhadap kekuasaan kolonial. Dokumentasi terhadap dua situs tersebut karena itu menjadi penting agar pengetahuan yang masih tersimpan dalam ingatan masyarakat tidak hilang akibat perubahan zaman.

Jejak Surau, Makam, dan Perlawanan

Berdasarkan penelusuran tim riset, surau dan makam Tuanku Pamansiangan memiliki hubungan erat dengan jaringan ulama Tarekat Syattariyah. Jaringan tersebut tak hanya berperan dalam pengajaran agama dan pembentukan kehidupan spiritual masyarakat, tetapi juga hadir dalam dinamika perlawanan terhadap serdadu Kumpeni Belanda pada masa Paderi.

Baca juga : Dubes Okto Dorinus Manik, Gelar Pentas Budaya Dan Pasar Malam Di Dili

Pada mulanya, gerakan Paderi berkembang sebagai gerakan pembaruan keagamaan pada awal abad ke-19. Sejumlah ulama berusaha memperbaiki kehidupan masyarakat dan menghapus kebiasaan yang dinilai bertentangan dengan ajaran Islam.

Namun, perbedaan pandangan antara kelompok pembaru dan sebagian pemimpin adat kemudian berkembang menjadi pertentangan terbuka. Belanda memanfaatkan perpecahan tersebut untuk memperluas pengaruh politik dan militernya di pedalaman Minangkabau.

Tuanku Pamansiangan dikenal berkolaborasi dengan Haji Miskin, salah seorang tokoh penting dalam gerakan Paderi. Kolaborasi keduanya memperlihatkan bahwa surau pada masa itu tidak semata-mata berfungsi sebagai tempat ibadah dan belajar agama.

Surau juga menjadi ruang pembentukan gagasan, pertemuan tokoh, penguatan solidaritas, dan penyusunan sikap masyarakat menghadapi tekanan politik kolonial. Belanda berusaha mengendalikan nagari melalui perjanjian, pengangkatan pejabat yang mendukung pemerintah kolonial, pembangunan benteng, serta operasi militer.

Baca juga : Gardu Ganjar Gelar Maiyah Rakyat, Wadah Bersatunya Rakyat Banten Demi Indonesia Sejahtera 

Sebaliknya, masyarakat melakukan perlawanan dengan memanfaatkan hubungan antarnagari, pengetahuan mengenai medan pegunungan, serta jaringan ulama dan surau yang telah terbentuk sejak lama. Dengan demikian, perlawanan Paderi bukan hanya berlangsung di medan terbuka, tetapi juga digerakkan melalui jaringan sosial, pendidikan agama, komunikasi antarpemimpin, dan dukungan masyarakat nagari.

Surau Tuanku Pamansiangan mempunyai kedudukan penting dalam jaringan tersebut. Surau tidak semata-mata menjadi tempat mengaji dan beribadah, tetapi juga menjadi ruang pertemuan, pendidikan, pembentukan kepemimpinan, dan penyebaran gagasan.
 Selanjutnya 

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Tags :

Berita Lainnya
 

TERPOPULER

Adsense