BREAKING NEWS
 

Buntut Kekeringan, Warga Mulai Kekurangan Air Bersih

Reporter : BHAYU AJI PRIHARTANTO
Editor : SISWANTO
Minggu, 2 Agustus 2026 07:35 WIB
Warga mengantre untuk mendapatkan bantuan air bersih di Desa Cidokom, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, Kamis (30/7/2026). (Foto: Putu Wahyu Rama/RM.id)

 Sebelumnya 
Selain kekeringan, pemerintah juga mewaspadai meningkatnya risiko kebakaran di kawasan permukiman. Menurut Pramono, sebagian besar kebakaran di Jakarta dipicu korsleting listrik yang risikonya meningkat saat cuaca panas berkepanjangan. 

Sementara itu, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memperkirakan puncak musim kemarau akan terjadi pada Agustus hingga September 2026. Sebagian besar wilayah Jawa, Bali, Nusa Tenggara, Kalimantan bagian selatan, dan Sulawesi Selatan diprediksi mengalami curah hujan di bawah normal hingga awal Oktober. 

Sekretaris Utama BMKG, Guswanto mengatakan, kondisi tersebut meningkatkan potensi kekeringan, krisis air bersih, karhutla, serta gangguan terhadap sektor pertanian. Menurutnya, fenomena El Nino masih akan memengaruhi kondisi cuaca hingga awal 2027, meski diperkirakan mulai melemah pada pertengahan Oktober. 

Baca juga : Kasus Dugaan TPPU Febrie, LPSK Telaah Permohonan Perlindungan Saksi FYH

"Awal musim hujan mulai masuk pada Oktober di sebagian wilayah barat Indonesia dan akan meluas pada November," kata Guswanto kepada wartawan, Jumat (31/7/2026). 

BMKG mengingatkan sejumlah dampak yang perlu diantisipasi selama puncak kemarau. Di sektor pertanian, kekeringan berpotensi menurunkan produksi pangan, terutama di Jawa dan Nusa Tenggara. Risiko kebakaran hutan dan lahan juga diperkirakan meningkat, terutama di Kalimantan dan Riau yang selama musim kemarau kerap mencatat banyak titik panas. 

Selain itu, potensi krisis air bersih juga perlu menjadi perhatian, terutama di wilayah berpenduduk padat dan daerah yang memiliki keterbatasan sumber air. BMKG mengimbau pemerintah daerah dan masyarakat melakukan langkah mitigasi sejak dini untuk mengurangi dampak musim kemarau yang diperkirakan masih berlangsung hingga September. 

Baca juga : Ubaid Matraji: Kami Kecewa, Kasih Transisi Hingga 2028

Menghadapi kondisi tersebut, pemerintah menyiapkan sejumlah langkah antisipasi. Mulai dari memastikan ketersediaan air di bendungan dan waduk, mengoptimalkan operasi modifikasi cuaca, hingga menyiagakan satgas darat dan udara untuk mengantisipasi kebakaran hutan dan lahan. 

Menteri Koordinator Bidang Infrastruktur dan Kewilayahan Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) mengatakan, kesiapan infrastruktur sumber daya air menjadi perhatian utama pemerintah. Menurutnya, debit air di bendungan dan waduk harus dijaga agar kebutuhan air bersih, air baku, dan irigasi pertanian tetap terpenuhi. 

"Secara umum, berdasarkan data Kementerian Pekerjaan Umum, secara total neraca air kita ini masih memadai, masih mencukupi. Artinya masih aman," ujar AHY usai rapat terbatas di Istana Kepresidenan, Selasa (28/7/2026). 

Baca juga : Abdul Fikri Faqih: Putusan MK Jadi Catatan Yang Penting Bagi Kami

Meski begitu, pemerintah tidak ingin lengah. Berdasarkan prediksi BMKG, tren peningkatan El Nino masih perlu diwaspadai karena berpotensi memperparah musim kemarau sekaligus meningkatkan risiko kebakaran hutan dan lahan. 

Presiden Prabowo Subianto telah menginstruksikan seluruh kementerian, lembaga, hingga pemerintah daerah meningkatkan kewaspadaan penuh. Pemerintah juga diminta memastikan seluruh langkah mitigasi berjalan agar dampak kekeringan terhadap masyarakat dapat ditekan semaksimal mungkin. 

"Ada trendline yang harus kita antisipasi bersama, terutama jika masih berhimpit antara El Nino dengan masa kemarau," pungkas AHY. [BYU]

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Tags :

Berita Lainnya
 

TERPOPULER

Adsense