BREAKING NEWS
 

Buntut El Nino

Suhu Memanas, Karhutla Dan Kekeringan Meluas

Reporter : KHOIRUL UMAM
Editor : ADITYA NUGROHO
Senin, 10 Agustus 2026 07:40 WIB
Asap dan kobaran api terlihat di kawasan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS), Kabupaten Probolinggo, Jawa Timur, Minggu (9/8/2026) dini hari. (Foto: ANTARA FOTO/Irfan Sumanjaya/tom)

RM.id  Rakyat Merdeka - Fenomena El Nino mulai dirasakan di sejumlah wilayah di Indonesia. Curah hujan yang berkurang membuat suhu udara semakin panas. Dampaknya, kekeringan serta kebakaran hutan dan lahan (karhutla) semakin meluas.

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memperkirakan El Nino bertahan hingga awal 2027. Dampak fenomena tersebut diperkirakan paling terasa pada Agustus-September 2026 yang bertepatan dengan puncak musim kemarau di banyak wilayah Indonesia.

BMKG memprediksi puncak musim kemarau pada Agustus terjadi di 369 Zona Musim (ZOM), atau mencakup sekitar 48,84 persen luas daratan Indonesia. Musim kemarau tahun ini juga diperkirakan lebih kering dan berlangsung lebih panjang dibandingkan kondisi normal di sejumlah wilayah.

Kondisi tersebut membuat suhu udara di sejumlah daerah terasa lebih panas, terutama pada siang hari. Pada sejumlah wilayah dataran rendah dan pesisir, suhu udara dapat mencapai kisaran 32-35 derajat Celsius atau lebih. 

Dampak lain yang mulai terlihat adalah meningkatnya potensi karhutla. BNPB mencatat karhutla dan kekeringan menjadi bencana yang mendominasi sejumlah kejadian di Indonesia pada penghujung Juli hingga awal Agustus. 

Baca juga : Dapur Berstandar Restoran Eks Driver Ojol Jadi Relawan

Misalnya karhutla yang terjadi di Kabupaten Pinrang, Sulawesi Selatan, pada akhir Juli. Kondisi cuaca yang sangat terik membuat lahan menjadi mudah terbakar dan api dengan cepat menjalar. Di Jawa Timur, karhutla juga terjadi di kawasan Gunung Bromo. Kebakaran juga terjadi juga di Alun-Alun Barat Surya Kencana, kawasan Taman Nasional Gunung Gede Pangrango (TNGGP). 

Selain karhutla, kekeringan mulai dirasakan masyarakat di sejumlah daerah. Kabupaten Bogor, Jawa Barat, menjadi salah satu wilayah yang terdampak dengan data BNPB pada akhir Juli menunjukkan kekeringan berdampak terhadap 16.291 kepala keluarga atau 52.602 jiwa. 

Kekeringan juga terjadi di sejumlah wilayah Jawa Tengah, termasuk Kabupaten Semarang. Kekeringan di Desa Plumutan dan Desa Bantal, Kecamatan Bancak, berdampak terhadap 586 kepala keluarga atau 1.224 jiwa yang membutuhkan pasokan air bersih. 

Adsense

Sementara di Yogyakarta, Kabupaten Gunungkidul telah menetapkan status siaga darurat kekeringan sejak 1 Juni hingga 31 Agustus 2026. Gunungkidul menjadi salah satu daerah yang diperkirakan menghadapi puncak kekeringan pada Juli-Agustus. 

Kepala BMKG Teuku Faisal Fathani mengatakan, dampak El Nino perlu diwaspadai karena dapat memberikan tekanan terhadap inflasi melalui gangguan produksi pangan dan berbagai aktivitas ekonomi. Pengalaman pada periode El Nino sebelumnya menunjukkan adanya keterkaitan antara kondisi iklim ekstrem, karhutla, dan tekanan harga. 

Baca juga : Kasus Bupati Pemalang, KPK Sita CCTV Hotel Tempat Pertemuan 3 TSK

Faisal mengatakan, saat El Nino sangat kuat pada 2015, luas karhutla mencapai sekitar 2,4 juta hektare dan inflasi berada pada kisaran 6-7 persen. Sementara pada 2019, luas karhutla turun sekitar separuh dibandingkan 2015 dan inflasi tercatat 2,72 persen. 

"El Nino kuat di 2023, kebakaran hutan tetap terjadi lebih dari 1 juta hektare dan inflasi terjadi walaupun lebih rendah 1,8 persen," ungkap Faisal dalam Dialog Nasional Kementerian PPN/Bappenas di Jakarta, Selasa (4/8/2026). 

Berbeda dengan penanganan El Nino pada 2015 yang lebih banyak berfokus pada pemadaman setelah kebakaran terjadi, Pemerintah kini memperkuat langkah pencegahan sejak dini. BMKG bersama Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) melakukan operasi modifikasi cuaca (OMC) untuk menjaga kelembapan lahan gambut dan mencegah terjadinya karhutla. 

Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) juga mengembangkan sejumlah teknologi untuk merespons El Nino. Teknologi tersebut mencakup modifikasi cuaca, desalinasi air laut, hingga pengolahan air menjadi air siap minum. 

“Saya diundang oleh Bapak Presiden untuk menyampaikan teknologi-teknologi apa yang dimiliki oleh BRIN untuk mengatasi El Nino,” ujar Kepala BRIN Arif Satria di Istana Kepresidenan, Jakarta, Kamis (6/8/2026). 

Baca juga : Ahmad Doli Kurnia: Jika Kembali Ke Parpol Bakal Kontraproduktif

BRIN mendapat tugas untuk menyempurnakan teknologi modifikasi cuaca dengan sejumlah pendekatan, mulai dari penggunaan natrium klorida (NaCl) berukuran 2-5 mikron, teknologi flare, hingga pemanfaatan pesawat nirawak atau drone

Menteri Pekerjaan Umum (PU) Dody Hanggodo mengatakan, optimalisasi operasi bendungan dan infrastruktur sumber daya air menjadi bagian dari strategi Pemerintah menjaga ketersediaan air selama musim kemarau. Langkah tersebut sekaligus diarahkan untuk mendukung target swasembada pangan. [UMM]

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Tags :

Berita Lainnya
 

TERPOPULER

Adsense