RM.id Rakyat Merdeka - Ayam krispi menjadi menu yang paling ditunggu para siswa penerima Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Kelurahan Paccerakkang, Kecamatan Biringkanaya, Makassar. Setiap kali disajikan, menu ini selalu habis.
SETIAP hari, SPPG Polda Sulawesi Selatan menyiapkan dan mendistribusikan 2.946 porsi makanan bergizi ke 23 titik layanan. Distribusi ini mencakup 17 sekolah dari jenjang TK, SD, MI, dan SMP. Selain itu, ada juga tiga posyandu yang melayani kelompok 3B, yaitu ibu hamil, ibu menyusui, dan balita.
Salah satu sekolah penerima manfaat adalah SD Negeri Paccerakkang. Sebanyak 372 siswa di sekolah ini menerima makanan bergizi setiap hari.
Kepala SD Negeri Paccerakkang Siti Halijah mengatakan, para siswa selalu antusias menunggu makanan dari SPPG Polda Sulsel. Ia juga menegaskan pihak sekolah tidak khawatir terhadap kualitas makanan karena seluruh prosesnya telah melalui pengawasan ketat.
“Menunya juga beragam, jadi anak-anak tidak bosan. Selalu ada sayur dan buah, jadi tetap sehat dan bergizi,” kata Siti saat ditemui Rakyat Merdeka, di ruang kepala sekolah, Selasa (4/8/2026).
Selain soal menu, Siti juga menyoroti dampak Program MBG bagi keluarga siswa. Ia menjelaskan, sebagian besar orang tua siswa bekerja sebagai buruh harian lepas, tukang bangunan, petani, dan pedagang kecil. Karena itu, program ini sangat membantu meringankan pengeluaran keluarga. Antusiasme orang tua pun masih terasa, bahkan setelah anak mereka lulus.
Ia bahkan menceritakan satu pengalaman yang cukup membekas. Suatu kali, ada seorang orang tua murid kelas VI yang datang ke sekolah meski anaknya sudah lulus dan menunggu masuk SMP.
“Orang tua itu masih berharap anaknya tetap dapat jatah MBG. Karena di SMP belum mendapat MBG,” tuturnya.
Baca juga : Wamendagri: Penanaman Bukan Sekadar Seremoni
Harapan orang tua itu bukan tanpa alasan. Bagi anak-anak, Program MBG telah menjadi bagian dari rutinitas yang selalu dinantikan setiap hari.
Atika Aurelia, siswi kelas V SD Negeri Paccerakkang, mengaku hampir selalu menghabiskan makanannya.
Saat ditemui, Atika baru saja menyantap menu MBG. Hari itu menunya nasi putih, tahu krispi, telur bulat, tumis sawi dan wortel, serta jeruk. Ia pun tersenyum saat ditanya soal rasa makanannya.
“Enak, habis semua,” kata Atika sambil mengacungkan jempol.
Atika menceritakan, ia sudah menerima MBG sejak kelas IV. Jadi, sudah mengenal berbagai menu yang disajikan. Selama hampir setahun, dia sudah mengenal dan mencoba banyak menu. Mulai dari beragam olahan telur, ayam, hingga daging.
Dari semua menu tersebut, ayam goreng yang menjadi favoritnya.
“Saya paling suka ayam krispi,” ujarnya.
Pengakuan Atika sejalan dengan evaluasi tim ahli gizi SPPG Polda Sulsel. Respons siswa menjadi salah satu bahan penting dalam menyusun menu setiap pekan.
Baca juga : Tertinggi Di Survei IPO, Gerindra Tak Berpuas Diri
Ahli Gizi SPPG Polda Sulsel Ivana Putri mengatakan, tugasnya bukan hanya menghitung kebutuhan gizi, tetapi juga memastikan makanan yang disajikan disukai anak-anak agar tidak banyak terbuang.
“Jadi menu harus memenuhi gizi sekaligus disukai anak-anak,” ujarnya.
Ivana menjelaskan, sebelum menu ditetapkan, tim gizi SPPG Polda Sulsel terlebih dahulu melakukan rapat perencanaan mingguan. Dalam rapat tersebut, mereka menyusun siklus menu 10-14 hari, menghitung kebutuhan gizi sesuai Angka Kecukupan Gizi (AKG), serta menyesuaikan dengan petunjuk teknis Badan Gizi Nasional (BGN).
Setelah itu, dilakukan uji coba dapur (trial menu) dan food tasting internal sebelum menu disebarkan ke sekolah. Tim juga berkoordinasi dengan penyedia bahan pangan untuk memastikan ketersediaan dan kesegaran bahan, serta menyesuaikan dengan musim dan harga pasar.
Menurut Ivana, penyusunan menu mengikuti petunjuk teknis BGN. Selain aspek gizi, tim juga mempertimbangkan ketersediaan bahan, kebiasaan makan anak, serta kelancaran distribusi.
Setiap pekan, menu dibuat bervariasi. Mulai dari masakan Nusantara hingga menu bergaya Barat (western). Namun, semuanya tetap dievaluasi berdasarkan respons siswa.
“Kalau ternyata tidak diminati dan sisa makanannya banyak, berarti tidak kami pakai lagi di siklus berikutnya,” jelasnya.
Dari hasil evaluasi, menu berbahan ayam masih menjadi favorit. Ayam krispi atau ayam goreng hampir selalu habis.
Baca juga : Task Force Hanura Lakukan Safari Keliling Indonesia
“Kalau ayam krispi disajikan, biasanya food waste-nya sangat sedikit. Hampir semua SPPG merasakan hal yang sama. Menu favorit anak-anak yaitu ayam krispi atau ayam Kentucky,” kata Ivana.
Meski demikian, tim SPPG terus berupaya mengenalkan variasi menu kepada para penerima manfaat. Sesuai petunjuk teknis Badan Gizi Nasional (BGN), menu menggunakan empat sumber protein utama, yakni ayam, telur, daging sapi, dan ikan. Namun, untuk menu berbahan ikan, pemilihannya dilakukan secara selektif, terutama ikan air tawar.
Hal itu dilakukan untuk meminimalkan risiko adanya duri serta kendala lain yang dapat mengganggu kenyamanan dan keamanan siswa saat mengonsumsi makanan. Karena itu, penggunaan menu berbahan ikan hingga kini masih terbatas.
Selain ayam, ada juga menu khas daerah seperti sup saudara dan coto Makassar, serta menu Nusantara seperti nasi pecel. Sesekali, anak-anak juga dikenalkan menu Barat seperti salad coleslaw agar terbiasa mengonsumsi sayur dalam berbagai bentuk. BCG
Artikel ini tayang di Harian Rakyat Merdeka Cetak, Halaman 4, edisi Senin, 10 Agustus 2026 dengan judul "Ayam Krispi Menu Favorit Anak Makan Lahap, Ahli Gizi Ikut Senang"
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.