BREAKING NEWS
 

Prof Didik: NU Harus Jadi Agen Perubahan, Bukan Sekadar Kekuatan Politik

Reporter & Editor :
ADITYA NUGROHO
Selasa, 1 September 2026 09:02 WIB
Prof Didik J Rachbini. (Foto: Univ Paramadina)

RM.id  Rakyat Merdeka - Rektor Universitas Paramadina Prof. Didik J Rachbini mendorong Nahdlatul Ulama (NU) untuk memperkuat perannya sebagai agen perubahan dalam pembangunan masyarakat, bukan sekadar menjadi kekuatan politik.

Menurut Didik, NU memiliki modal sosial yang besar melalui jaringan masyarakat dan pesantren yang telah mengakar kuat hingga tingkat akar rumput. Kekuatan tersebut, kata dia, perlu diarahkan untuk mendorong transformasi di bidang pendidikan, ekonomi, teknologi, serta peningkatan kesejahteraan masyarakat Nahdliyin.

“Dengan demikian, para elite dan Pemerintah sepatutnya menjadikan NU sebagai agent of change,” kata Didik dalam catatan pasca-muktamar yang diterima di Jakarta, Selasa (1/9/2026).

Ia menilai, kekuatan sosial dan politik yang dimiliki NU tidak semestinya hanya dimanfaatkan untuk kepentingan politik praktis dan perebutan kekuasaan. Sebaliknya, kekuatan tersebut perlu dikonsolidasikan untuk mempercepat pembangunan dan pemberdayaan masyarakat.

“Tidak bisa lagi massa NU diposisikan sebagai objek politik praktis untuk mengais suara dan mendukung elite-elite yang berkiprah, bergantung, dan bergelantungan di kekuasaan,” ujarnya.

Baca juga : Pasca Muktamar, Elite NU Didorong Kembali Fokus Modernisasi Pesantren

Didik mengatakan, besarnya jumlah warga Nahdliyin dan luasnya jaringan NU memberikan organisasi tersebut posisi strategis dalam kehidupan sosial dan politik nasional. Kondisi itu juga menjadi modal bagi NU untuk memiliki daya tawar yang kuat dalam memperjuangkan kepentingan masyarakat.

Menurut dia, daya tawar tersebut seharusnya dimanfaatkan untuk memperkuat akses masyarakat pesantren terhadap pendidikan, kesehatan, teknologi, dan pengembangan sumber daya manusia.

Program pembangunan di berbagai sektor, kata dia, juga perlu diarahkan secara lebih luas ke lingkungan masyarakat pesantren dan Nahdliyin agar kekuatan sosial yang dimiliki dapat berkembang menjadi kekuatan ekonomi dan intelektual.

Adsense

Didik menilai, transformasi pesantren menjadi salah satu agenda penting yang dapat memperkuat peran NU sebagai agen perubahan. Pesantren, menurut dia, telah mengalami perkembangan signifikan dibandingkan kondisi sekitar setengah abad lalu.

Pada dekade 1980-an, pesantren dan masyarakat pedesaan masih menghadapi berbagai persoalan, seperti kemiskinan, keterbatasan akses pendidikan, serta rendahnya keterampilan. Seiring waktu, mobilitas sosial masyarakat pesantren berkembang dan melahirkan kelompok kelas menengah serta kalangan intelektual.

Baca juga : BSN Permudah Akses Keuangan Syariah di Muktamar NU

Meski demikian, Didik mengatakan, masih terdapat ketimpangan dan pekerjaan rumah yang perlu diselesaikan. Karena itu, agenda modernisasi pesantren yang berkembang sejak beberapa dekade lalu dinilai masih relevan untuk dilanjutkan sesuai dengan kebutuhan zaman.

Menurut dia, pesantren tidak hanya perlu diperkuat sebagai lembaga pendidikan keagamaan, tetapi juga didorong menjadi pusat pengembangan ekonomi, teknologi, kemandirian pangan, serta pemberdayaan masyarakat di sekitarnya.

“Pesantren telah dan harus terus menjadi mesin mobilitas sosial dan menjadi kanal mobilitas vertikal. Jadi, perubahan pesantren bukan sekadar perubahan kelembagaan pendidikan, tetapi perubahan struktur sosial masyarakat Muslim Indonesia,” katanya.

Didik mengatakan, agenda NU ke depan perlu diarahkan untuk membawa pesantren dari ketertinggalan menuju keunggulan. Pesantren juga didorong bertransformasi dari penerima pembangunan menjadi pelaku pembangunan yang mampu menciptakan perubahan di lingkungan masyarakat.

Dengan jaringan sosial yang luas dan modal sosial yang kuat, NU dinilai memiliki potensi untuk berkembang tidak hanya sebagai kekuatan sosial dan politik, tetapi juga sebagai kekuatan intelektual, ekonomi, dan teknologi.

Baca juga : Muktamar Diwarnai Riak-riak Perdebatan, Ketua Umum NU Dipilih Tim AHWA

“Agenda NU yang utama seharusnya bukan di wilayah politik praktis kekuasaan, tetapi konsolidasi pembangunan, menjadikan kekuatan sosial dan politik yang dimiliki untuk mempercepat transformasi pesantren dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat Nahdliyin,” kata Didik.

Ia menambahkan, arah transformasi tersebut penting untuk memastikan kekuatan besar NU dapat memberikan dampak yang lebih luas bagi pembangunan nasional dan turut menentukan masa depan Indonesia.

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Tags :

Berita Lainnya
 

TERPOPULER

Adsense