RM.id Rakyat Merdeka - Kementerian Kehutanan (Kemenhut) mencatat jumlah titik panas atau hotspot dengan tingkat kepercayaan tinggi (high confidence) secara nasional menurun pada 5 September 2026 dibandingkan sehari sebelumnya.
Berdasarkan pemantauan Sistem Informasi Pengendalian Kebakaran Hutan dan Lahan (SiPongi) Kementerian Kehutanan, terdeteksi 558 hotspot high confidence pada Sabtu (5/9/2026), turun 260 titik dibandingkan 818 titik pada Jumat (4/9/2026).
Meski secara nasional menunjukkan penurunan, Kemenhut bersama tim gabungan tetap siaga penuh dan memperkuat pengendalian kebakaran hutan dan lahan (karhutla), khususnya di Sumatera Selatan, tanpa mengurangi kewaspadaan di wilayah prioritas lainnya.
Data SiPongi yang bersumber dari satelit NASA Terra/Aqua, SNPP, dan NOAA-20 pada Sabtu pukul 21.05 WIB menunjukkan Kalimantan Tengah masih mencatat jumlah hotspot high confidence tertinggi dengan 178 titik, turun dari 252 titik sehari sebelumnya.
Sumatera Selatan berada di posisi kedua dengan 120 titik, turun dari 165 titik, disusul Kalimantan Barat sebanyak 54 titik dari sebelumnya 124 titik. Sementara itu, Kalimantan Selatan mencatat 14 titik atau meningkat dibandingkan empat titik pada sehari sebelumnya, sedangkan Riau tercatat 12 titik, turun dari 13 titik, dan Jambi enam titik, turun dari 14 titik.
Secara umum, lima dari enam provinsi prioritas menunjukkan penurunan jumlah hotspot high confidence. Namun, Kemenhut tetap memperkuat operasi di sejumlah wilayah untuk mencegah kebakaran meluas dan menekan potensi dampak asap terhadap masyarakat.
Kemenhut menegaskan bahwa hotspot merupakan indikasi anomali suhu permukaan yang terdeteksi melalui satelit dan tidak serta-merta menunjukkan satu kejadian kebakaran.
Satu kejadian kebakaran dapat terdeteksi sebagai beberapa hotspot, sehingga seluruh indikasi tersebut tetap harus diverifikasi melalui pemeriksaan lapangan (groundcheck) dan pemantauan kondisi aktual.
Baca juga : Polri Usut Penyebab Karhutla, 112 Orang Jadi Tersangka
Kemenhut memperkuat perhatian terhadap penanganan karhutla di Sumatera Selatan meskipun jumlah hotspot high confidence di wilayah tersebut telah menurun 45 titik, dari 165 titik pada 4 September menjadi 120 titik pada 5 September. Jumlah tersebut masih menjadi yang kedua tertinggi di antara enam provinsi prioritas setelah Kalimantan Tengah.
Kementerian Kehutanan bersama tim gabungan terus melakukan patroli, groundcheck, pemadaman langsung, penyekatan penjalaran api, mopping up, serta pendinginan pada areal yang telah terbakar.
Pengawasan juga diperkuat untuk memastikan titik api yang telah ditangani tidak kembali menyala.
Operasi pengendalian karhutla melibatkan Manggala Agni Kemenhut bersama TNI, Polri, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), BPBD, Pemerintah Daerah, masyarakat, dunia usaha, serta para pihak terkait lainnya.
Selain operasi darat, sebanyak 53 unit armada udara dikerahkan untuk mendukung pengendalian karhutla di enam provinsi prioritas, yakni Riau, Jambi, Sumatera Selatan, Kalimantan Selatan, Kalimantan Tengah, dan Kalimantan Barat.
Sebanyak 19 armada digunakan untuk patroli udara dan mendukung Operasi Modifikasi Cuaca (OMC), sedangkan 34 armada lainnya digunakan dalam operasi pengeboman air (water bombing).
Pengerahan armada udara dilakukan berdasarkan kondisi dan kebutuhan di lapangan. OMC juga terus diupayakan pada wilayah dan waktu yang memenuhi kondisi meteorologis untuk membantu pembasahan lahan dan mendukung operasi pengendalian karhutla.
Kalimantan Barat Turun Signifikan
Baca juga : 113 Orang Jadi Tersangka Karhutla, Ini Motif Mereka
Perkembangan positif juga terjadi di Kalimantan Barat setelah hujan dengan intensitas sedang hingga lebat mengguyur sebagian wilayah tersebut pada malam 4 September.
Kondisi itu membantu pembasahan lahan di tengah operasi pengendalian karhutla, yang diikuti penurunan jumlah hotspot high confidence dari 124 titik menjadi 54 titik atau berkurang 70 titik.
Namun, Kemenhut menyatakan operasi dan pemantauan tetap dilanjutkan karena hujan belum terjadi secara merata dan kondisi asap masih terpantau di sejumlah lokasi.
Pembasahan, mopping up, patroli, dan pengecekan lapangan tetap diperlukan, terutama di lahan gambut yang berpotensi menyimpan bara api di bawah permukaan.
Selain memantau perkembangan titik panas dan kebakaran, Pemerintah bersama instansi terkait juga terus memantau kualitas udara, kondisi asap, serta jarak pandang.
Peta kualitas udara BMKG berbasis partikulat PM2,5 menunjukkan kondisi yang masih bervariasi, dengan sebagian wilayah Sumatera dan Kalimantan berada pada kategori tidak sehat hingga sangat tidak sehat.
Sementara itu, banyak wilayah lainnya di Indonesia masih berada pada kategori kualitas udara baik hingga sedang.
Berdasarkan informasi penerbangan BMKG pada malam 5 September, jarak pandang di Palembang mencapai 10 kilometer atau lebih dengan kondisi berawan, Palangka Raya sekitar delapan kilometer, Banjarmasin sembilan kilometer, Pekanbaru delapan kilometer, dan Jambi tujuh kilometer.
Baca juga : Negara Tidak Bekerja Di Satu Front
Adapun Pontianak tercatat memiliki jarak pandang sekitar dua kilometer dengan kondisi berasap. Di wilayah Kalimantan Barat lainnya, Putussibau bahkan dilaporkan mengalami kondisi berasap dengan jarak pandang sekitar satu kilometer.
Kondisi di Sumatera Selatan juga menjadi perhatian setelah pada siang hari BMKG sempat mencatat jarak pandang di Bandara Sultan Mahmud Badaruddin II Palembang sekitar lima kilometer dengan kondisi berasap.
Pada pengamatan malam hari, kondisi tersebut membaik dengan jarak pandang mencapai 10 kilometer atau lebih dan cuaca berawan.
Kemenhut menilai perubahan tersebut menunjukkan bahwa kondisi asap dan jarak pandang dapat berubah relatif cepat mengikuti aktivitas kebakaran, arah angin, kelembapan, dan kondisi atmosfer.
Kementerian Kehutanan bersama instansi terkait akan terus memantau hotspot, kondisi kebakaran di lapangan, curah hujan, kualitas udara, sebaran asap, cuaca, dan jarak pandang secara terpadu.
Informasi tersebut digunakan untuk menentukan prioritas pengerahan personel, pelaksanaan operasi darat dan udara, serta langkah-langkah perlindungan bagi masyarakat.
Kemenhut juga mengimbau masyarakat agar tidak membuka atau membersihkan lahan dengan cara membakar.
Masyarakat di wilayah terdampak asap diminta terus mengikuti informasi resmi mengenai kualitas udara, cuaca, dan jarak pandang serta menyesuaikan aktivitas apabila kondisi lingkungan memburuk.
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.