Dark/Light Mode

Sistem Hotspot BRIN Deteksi Dini Karhutla, Olah Data Satelit dalam 30 Menit

Sabtu, 5 September 2026 16:32 WIB
Foto: Dok. BRIN
Foto: Dok. BRIN

RM.id  Rakyat Merdeka - Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) terus mengembangkan sistem pemantauan titik panas (hotspot) berbasis data satelit untuk mendukung deteksi dini kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Indonesia.

Sistem tersebut mengolah data satelit menjadi informasi titik panas dalam sekitar 30 menit sehingga potensi kebakaran dapat segera direspons sebelum meluas.

Peneliti Ahli Madya Pusat Riset Teknologi memantau wilayah Indonesia yang luas dan sulit dijangkau secara manual, terutama daerah terpencil.

Sistem ini memungkinkan potensi kebakaran diketahui lebih awal sehingga respons di lapangan dapat dilakukan sebelum api meluas.

“Sistem deteksi dini ini memungkinkan kita mengetahui sedini mungkin adanya kebakaran di suatu wilayah di Indonesia,” kata Andy dalam keterangan tertulisnya, Sabtu (5/9/2026).

Sistem hotspot BRIN bekerja berdasarkan prinsip fisika radiasi elektromagnetik. Setiap objek di permukaan bumi memancarkan radiasi termal sesuai suhunya.

Baca juga : Prabowo Gandeng Peraih Nobel Perkuat Ekosistem Riset Indonesia

Sedangkan kebakaran menghasilkan anomali suhu yang lebih tinggi dibandingkan lingkungan sekitarnya.

“Temperatur kebakaran diperkirakan sekitar 1.000 Kelvin sehingga dapat dideteksi dengan baik pada panjang gelombang sekitar 4 mikrometer,”  katanya.

Data utama sistem hotspot BRIN saat ini berasal dari sensor VIIRS pada satelit Suomi NPP dan NOAA-20.

Sensor tersebut menggantikan MODIS pada satelit Terra dan Aqua yang telah beroperasi lebih dari 20 tahun dan mengalami penurunan akurasi deteksi, sehingga tidak lagi digunakan dalam sistem saat ini.

Data yang diterima stasiun bumi kemudian dikirim ke pusat pengolahan Cloud BRIN untuk diolah menjadi titik hotspot.

Data tersebut selanjutnya disaring untuk mengurangi kesalahan deteksi, seperti aktivitas industri, pertambangan batu bara, dan kawah gunung berapi, sebelum dikelompokkan dan ditampilkan pada dasbor.

Baca juga : Prabowo Minta BRIN Kembangkan Teknologi Untuk Atasi karhutla

“Waktu yang diperlukan untuk keseluruhan proses ini sekitar 30 menit. Durasi tersebut bergantung pada kecepatan transfer data dari stasiun bumi ke Cloud BRIN,” tuturnya.

Andy mengungkapkan, jumlah titik hotspot harian di Indonesia dapat mencapai ribuan, terutama di Sumatera dan Kalimantan.

Kondisi tersebut menunjukkan pentingnya sistem pemantauan hotspot, mengingat asap kebakaran berpotensi menyebar hingga ke negara tetangga.

Untuk menentukan lokasi yang perlu segera diverifikasi, sistem BRIN menyediakan indikator tingkat kepercayaan (confidence level) dan radius kemungkinan hasil pengelompokan (clustering).

Semakin besar radius tersebut, semakin luas indikasi area yang terbakar. Informasi hotspot BRIN telah dimanfaatkan sejumlah instansi, antara lain Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), kepolisian di Sumatera dan Kalimantan, Polri, serta Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) sebagai wali data.

Andy menjelaskan, pola karhutla berbeda di setiap wilayah. Sumatera bagian utara dan tengah umumnya mengalami peningkatan titik hotspot pada Januari–Februari dan Juni, sedangkan Sumatera bagian selatan mencapai puncak sekitar September.

Baca juga : PTPN III Dan BRIN Kerja Sama Riset Untuk Percepat Swasembada Pangan

Di Kalimantan, puncak kebakaran biasanya terjadi pada musim kemarau, sekitar Juli–Oktober, seiring dengan mengeringnya lahan gambut.

Andry menekankan, manfaat utama sistem hotspot bukan sekadar mencatat kejadian kebakaran, tetapi memperpendek waktu antara munculnya titik api dan penanganan di lapangan.

“Hotspot tidak hanya dilihat sebagai catatan setelah kebakaran terjadi. Sistem ini dapat memperpendek waktu antara munculnya kebakaran dan respons cepat penanganannya,” ujarnya. 

BRIN terus mengembangkan sistem tersebut melalui penjajakan pemanfaatan data satelit NOAA-21, penguatan stasiun bumi cadangan di Rancabungur sebagai penopang stasiun utama di Parepare, serta penyempurnaan metode penyaringan berbasis data historis untuk mengurangi kesalahan deteksi dalam mendukung mitigasi karhutla di Indonesia.

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.