BREAKING NEWS
 

Debu Vulkanik Anak Krakatau Bercampur Polusi Jakarta, BMKG: Jangan Lepas Masker

Reporter & Editor :
FIRSTY HESTYARINI
Selasa, 8 September 2026 10:50 WIB
Ditlantas Polda Metro bagikan 10.000 masker di seluruh Samsat jajaran, untuk mengantisipasi dampak abu vulkanik Anak Krakatau. (Foto: Humas PMJ)

RM.id  Rakyat Merdeka - Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengingatkan warga Jakarta agar tetap memakai masker, saat berada di luar ruangan. Sebab, meski konsentrasinya mulai menurun, debu vulkanik sisa erupsi Gunung Anak Krakatau membaur dengan polusi perkotaan di Jakarta. Ditambah lagi, saat ini Indonesia masih berada di puncak musim kemarau yang kering.

Belum turunnya hujan membuat campuran partikel berbahaya ini tertahan dan melayang lebih lama di udara.

"Karena itu, tetap gunakan masker saat beraktivitas di luar ruangan! Jangan terkecoh dan melepas masker hanya karena mengira langit yang berkabut itu polusi biasa. Padahal kenyataannya, itu adalah paparan ganda yang masih bercampur dengan material debu vulkanik," kata BMKG melalui Instagram resminya, Selasa (8/9/2026).

Pantauan BMKG pada 5 September 2026 menunjukkan adanya lonjakan konsentrasi PM2,5 di Lampung dan Jakarta, melebihi tanggal-tanggal sebelumnya.

Baca juga : BMKG: Sebaran Abu Vulkanik Anak Krakatau Bergerak Menjauhi Wilayah Indonesia

Namun, angka konsentrasi PM 2.5 di Jakarta memang sudah terlihat tinggi sebelum tanggal 5 September, diakibatkan polusi yang biasa terjadi di wilayah perkotaan.

PM2,5 adalah partikel polutan udara yang ukurannya sangat kecil, berdiameter 2,5 mikrometer (µm) atau lebih kecil. Partikel halus ini bisa terhirup hingga jauh masuk ke paru-paru dan berpotensi masuk ke aliran darah.

Analisis parameter partikel di udara juga mendeteksi adanya intrusi debu vulkanik (partikel kasar) yang melesat tinggi pada 6 September, sebelum akhirnya mulai mengalami peluruhan secara perlahan pada 7 September.

Bercampur Emisi Kendaraan & Industri

Adsense

Meski ketebalan aerosol (AOD) tidak bisa membedakan jenis polusi, parameter AE (Angström Exponent) bisa melacak masuknya debu vulkanik dari ukuran partikelnya.

Baca juga : Gunung Anak Krakatau Batuk 10 Detik, Tinggi Kolom Erupsi Tidak Teramati

Dalam periode pengamatan 1-7 September pada pukul 06.00-07.30 WIB, nilai AE dilaporkan berada di titik terendah. Mengingat hubungan nilai AE berbanding terbalik dengan jari-jari partikel, penurunan di bawah 1.0 ini membuktikan adanya intrusi dominan partikel kasar dari erupsi.

Memasuki siang hari, nilai AE naik kembali karena abu mengendap, dan udara kembali bercampur dengan emisi halus kendaraan serta industri.

Dominasi partikel halus dengan rentang ukuran diameter 0.11 ug - 0.25 um, distribusi volume aerosol berukuran halus mencapai puncak (tertinggi) pada 5 September 2026. Ini mengindikasikan adanya akumulasi emisi polusi lokal atau pembentukan aerosol sekunder yang kuat.

Pada 6 September 2026, terjadi pergeseran pola secara signifikan. Jumlah partikel berukuran kecil menurun tajam, tetapi partikel kasar melonjak tinggi hingga mencapai puncak tertinggi mingguan pada diameter 3.86 - 5.06 um yang berasal dari erupsi.

Baca juga : BUMN Perkuat Layanan Transportasi Alternatif

Partikel debu memiliki ukuran partikel kasar (>2.5 micron). Pada 7 September 2026, volume distribusi partikel aerosol halus dan kasar mengalami penurunan menyeluruh.

Kurva melandai mendekati level terendah, menandakan terjadinya peluruhan aerosol di atmosfer.

 

 

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Tags :

Berita Lainnya
 

TERPOPULER

Adsense