BREAKING NEWS
 

Wamen Stella Beberkan Strategi Negara Berkembang Tak Sekadar Jadi Konsumen AI

Reporter : NUR ROCHMANNUDIN
Editor : BAMBANG TRISMAWAN
Selasa, 8 September 2026 17:14 WIB
Suasana Bali Harmony Dialogue 2026 di UID Bali Campus, KEK Kura Kura Bali, yang membahas masa depan kecerdasan buatan (AI) dan perdamaian global. Dok. Ist

RM.id  Rakyat Merdeka - Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Wamendiktisaintek) Stella Christie memaparkan strategi agar negara berkembang, termasuk Indonesia, tidak hanya menjadi konsumen teknologi kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI). Indonesia dinilai memiliki peluang untuk berperan lebih aktif dalam riset dan tata kelola AI global.

“Negara berkembang dapat bertransformasi dari sekadar konsumen teknologi pasif menjadi arsitek aktif dalam tata kelola dan riset AI global,” kata Stella melalui siaran pers yang diterima, Selasa (8/9/2026).

Hal tersebut disampaikan Stella dalam kuliah umum bertajuk Intelligence: Natural and Artificial dalam rangkaian Bali Harmony Encounter Week 2026 di Bali.

Menurut Stella, perkembangan AI tidak hanya menghadirkan perubahan teknologi, tetapi juga memunculkan tantangan baru terkait kesenjangan penguasaan teknologi antarnegara. Negara berkembang perlu memiliki strategi agar tidak terus berada di posisi sebagai pengguna produk teknologi yang dikembangkan negara lain.

Bali Harmony Encounter Week 2026 berlangsung pada 2-7 September 2026. Kegiatan tersebut mempertemukan delegasi dari lebih dari 70 negara yang berasal dari unsur pemerintah, sektor teknologi, akademisi, masyarakat sipil, hingga komunitas lokal.

Dialog mengenai masa depan AI menjadi bagian dari Bali Harmony Dialogue yang digelar pada 3 September 2026 di United In Diversity (UID) Bali Campus, Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Kura Kura Bali.

Baca juga : Tokoh Dunia Bahas Dampak AI, dari Kesenjangan Teknologi hingga Masa Depan

Forum tersebut mempertemukan para pakar dari tiga sektor atau tri-sector untuk membahas kesenjangan AI global yang dinilai semakin melebar.

Ketua Yayasan UID Suyoto mengatakan, forum tersebut juga menjadi ruang untuk membangun dialog mengenai perdamaian dan masa depan kemanusiaan di tengah perkembangan teknologi.

Menurutnya, perdamaian tidak cukup dipandang sebagai tujuan akhir, tetapi harus terus dirawat dalam kehidupan sehari-hari.

“Kedamaian bukanlah sekadar tujuan akhir yang dicapai melalui teori, melainkan sebuah hubungan yang harus kita rawat secara aktif setiap hari,” ujar Suyoto.

Dia mengatakan Indonesia terus mencatatkan peningkatan dalam Indeks Kemajuan Manusia dan kerukunan umat beragama.

Adsense

Melalui THK Universal Reflection Forum, Yayasan UID mengemban semangat Tri Hita Karana yang diyakini menjadi salah satu nilai penting dalam kehidupan masyarakat Indonesia.

Baca juga : Sekolah Garuda Beroperasi 20 Juli, Pemerintah Perluas Akses Pendidikan Unggul

“Melalui THK Universal Reflection Forum, Yayasan UID mengemban semangat Tri Hita Karana yang kami yakini menjadi inti ajaran di seluruh agama dan tradisi di Indonesia,” katanya.

Sementara itu, Sekretaris Direktorat Jenderal Pendidikan Islam Kementerian Agama Prof. Dr. M. Arskal Salim, GP., M.Ag. yang mewakili Menteri Agama Nasaruddin Umar, menekankan pentingnya kepemimpinan moral dalam menghadapi perubahan global.

“Transformasi besar tidak lahir dari satu cahaya raksasa, melainkan dari lilin-lilin kecil yang kita bawa bersama,” kata Arskal.

Dia mengajak generasi muda dan seluruh umat beragama untuk menjaga komitmen terhadap perdamaian mulai dari lingkungan terdekat.

“Kedamaian dalam diri, kedamaian antarsesama, kedamaian dengan seluruh kehidupan, ini bukan sekadar slogan, melainkan seruan aksi nyata yang dimulai dari kita sendiri hari ini,” ujarnya.

Selain Bali Harmony Dialogue, rangkaian kegiatan Bali Harmony Encounter Week 2026 juga diisi dengan Consultative Dialogue on Youth.

Baca juga : Wamen Stella Minta Industri Jaga Produksi dan Tekan Emisi

Selanjutnya, pada 4-6 September 2026 digelar World Encounter Summit Bali: XI International Scholas Chairs Congress yang melibatkan delegasi dari lebih dari 140 universitas di 70 negara.

Kongres tersebut mengusung tema Artificial Intelligence and Human Meaning. Forum ini membahas hubungan antara perkembangan kecerdasan buatan dengan nilai, makna, dan masa depan manusia.

Puncak rangkaian kegiatan ditandai dengan Tri Hita Karana Universal Reflection Ceremony 2026 yang digelar di Sunset Mandala, Sira Village, KEK Kura Kura Bali, pada 5 September 2026.

Mengusung tema Holding Space for Peace: Peace Within, Peace Among Us, Peace with All Life, kegiatan tersebut menjadi ruang refleksi bagi para delegasi untuk membahas makna perdamaian di tengah pesatnya disrupsi teknologi dan fragmentasi global.

Melalui forum internasional tersebut, isu AI tidak hanya ditempatkan sebagai persoalan pengembangan teknologi. Lebih dari itu, perkembangan kecerdasan buatan juga dipandang perlu diiringi penguatan riset, tata kelola, kepemimpinan moral, serta kerja sama global.

Bagi Indonesia dan negara berkembang lainnya, tantangannya kini bukan sekadar mampu menggunakan teknologi AI. Negara-negara berkembang juga dituntut mengambil peran dalam menentukan arah pengembangan dan tata kelola teknologi yang akan memengaruhi kehidupan masyarakat dunia.

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Tags :

Berita Lainnya
 

TERPOPULER

Adsense