Dark/Light Mode
BREAKINGNEWS
Tokoh Dunia Bahas Dampak AI, dari Kesenjangan Teknologi hingga Masa Depan
Minggu, 6 September 2026 08:52 WIB
RM.id Rakyat Merdeka - Perkembangan kecerdasan buatan (AI) yang melaju pesat memunculkan pertanyaan besar tentang masa depan manusia.
Di tengah euforia teknologi, dunia dihadapkan pada pilihan apakah AI akan membuat kehidupan manusia lebih baik atau justru mengikis hal-hal mendasar yang menjadi bagian dari kemanusiaan.
Pertanyaan tersebut menjadi salah satu fokus pembahasan dalam World Encounter Summit 2026 yang mempertemukan pemimpin pemerintahan, pemuda, akademisi, tokoh agama, perusahaan teknologi, hingga masyarakat sipil dari berbagai negara di Bali.
Rangkaian forum diawali melalui Bali Harmony Dialogue, Kamis (3/9/2026), di United In Diversity (UID) Bali Campus, Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Kura Kura Bali.
Baca juga : Usung Konsep AI, Axioo Hadirkan Seri Hype AI G3
Forum kemudian dilanjutkan dengan XI International Scholas Chairs Congress 2026 pada 4-6 September 2026.
Peserta dari lima benua membahas dampak AI terhadap berbagai aspek kehidupan, mulai dari pendidikan, dunia kerja, kesehatan mental generasi muda, demokrasi, hingga hubungan sosial.
Salah satu perhatian utama dalam forum tersebut adalah kesenjangan dalam perkembangan AI.
Tidak semua negara memiliki akses yang sama terhadap data, daya komputasi, infrastruktur digital, talenta, maupun kemampuan untuk mengatur teknologi tersebut.
Baca juga : Pameran INTI 2026 Dorong Transformasi Digital Nasional
Karena itu, pemerataan manfaat AI dinilai bukan semata-mata persoalan teknologi. Isu tersebut juga berkaitan dengan keadilan sosial, ekonomi, moral, dan lingkungan.
Ketua Dewan Ekonomi Nasional RI Luhut B. Pandjaitan mengatakan, Indonesia harus membangun kapasitas teknologi sendiri agar tidak hanya menjadi pengguna AI.
"Salah satunya melalui pengembangan AI yang ditopang energi bersih serta pendidikan STEM," ucap Luhut.
Sementara itu, Menteri Komunikasi dan Digital (Menkomdigi) Meutya Hafid menegaskan, tingginya penggunaan AI oleh generasi muda Indonesia harus diikuti dengan penguatan riset, talenta, infrastruktur, dan kebijakan.
Baca juga : Menjadi Apoteker di Era AI: Siapkah Kita Beradaptasi Menuju Era Digital?
"Penggunaan saja tidak otomatis menjadi kapasitas nasional," ujar Meutya.
Menurut dia, Indonesia memiliki peluang untuk menjadi pencipta teknologi, bukan sekadar pasar bagi produk AI dari negara lain.
Direktur Eksekutif Scholas Occurrentes Maria Paz Jurado mengingatkan, pertanyaan terbesar di era AI bukan hanya mengenai apa yang mampu dilakukan mesin.
Menurutnya, dunia juga harus menentukan manusia seperti apa yang ingin dibangun bersama teknologi tersebut.
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
Tags :
Berita Lainnya