Dark/Light Mode
BREAKINGNEWS
- Perbaikan Selesai, Kondisi Jalan Lenteng Agung Sudah Normal dan Bisa Dilewati
- Persib Mulai Susun Persiapan Hadapi Musim 2026/2027
- OTT Pejabat Imigrasi Jakbar, KPK Sita Mobil, Valas, Hingga Emas
- Erling Haaland Bisa Bawa Norwegia Bersaing di Piala Dunia 2026
- Davide Ancelotti Latih Lille, Calvin Verdonk Hadapi Tantangan Baru
Wamen Stella Minta Industri Jaga Produksi dan Tekan Emisi
Minggu, 19 April 2026 22:03 WIB
RM.id Rakyat Merdeka - Wakil Menteri Pendidikan Tinggi Sains dan Teknologi (Wamendiktisaintek) Stella Christie menyoroti tekanan global yang memaksa berbagai sektor beradaptasi, mulai dari teknologi hingga industri. Di tengah perubahan cepat, penguatan pengetahuan, investasi, dan infrastruktur dinilai jadi kunci agar Indonesia tidak tertinggal.
Stella menjelaskan, kesenjangan pemanfaatan kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) masih lebar dibanding negara maju. Indonesia perlu menentukan fokus spesialisasi agar mampu bersaing di tengah dinamika global.
“Maka di sanalah kuncinya,” ujarnya dalam Katadata IDE Future Forum 2026 di Jakarta, dikutip Minggu (19/4/2026).
Dia menyebut, penguasaan AI tidak bisa dilakukan secara umum di semua bidang. Indonesia perlu memilih sektor yang punya keunggulan, seperti keanekaragaman hayati.
“Tidak bisa membuat pengetahuan yang sama di setiap bidang, harus ada spesialisasinya,” katanya.
Selain itu, Stella menekankan pentingnya investasi dan pembangunan infrastruktur, termasuk pusat data sebagai fondasi pengembangan teknologi. “Kita galakkan lagi kedaulatan untuk menjaga data dengan aman,” ucapnya.
Baca juga : Kelola Aset Hasil Korupsi Zarof Ricar, Produser Film Jadi Tersangka TPPU
Tekanan untuk beradaptasi tidak hanya terjadi di sektor teknologi. Industri juga menghadapi tantangan serupa di tengah ketidakpastian geopolitik dan dorongan transisi energi global. Dalam situasi tersebut, sektor industri dituntut tetap menjaga produksi sambil menekan emisi. Keseimbangan ini menjadi tantangan utama yang tidak mudah.
Sekretaris Perusahaan PT Pupuk Indonesia (Persero) Yehezkiel Adiperwira mengatakan, industri harus mampu menjaga ketahanan operasional sekaligus memenuhi target keberlanjutan.
“Transformasi menuju ekonomi rendah karbon itu bukan lagi pilihan, tetapi sebuah keniscayaan,” ujarnya dalam forum yang sama.
Menurut Yehezkiel, ketersediaan bahan baku domestik menjadi kunci menjaga stabilitas produksi di tengah potensi gangguan global. Hal ini membuat industri nasional relatif lebih tahan terhadap gejolak eksternal.
Dia mencontohkan, potensi gangguan di Selat Hormuz yang memengaruhi sekitar 30 persen pasokan urea dunia. Kondisi itu tidak berdampak signifikan terhadap pupuk Indonesia. “Komitmen kami adalah memastikan kebutuhan pupuk dalam negeri terpenuhi terlebih dahulu,” katanya.
Saat ini, produksi urea nasional ditargetkan mencapai sekitar 7,8 juta ton, sementara kebutuhan domestik berada di kisaran 6,3 juta ton. Kondisi ini memberikan ruang untuk menjaga stabilitas pasokan di dalam negeri.
Baca juga : Kemenperin Siapkan Insentif Kerek Daya Saing Industri Tekstil
Di sisi lain, upaya menekan emisi juga mulai dijalankan secara bertahap. Industri tidak hanya fokus pada produksi, tetapi juga transformasi menuju energi yang lebih bersih.
“Kami secara bertahap menyiapkan strategi untuk mengurangi ketergantungan pada gas alam,” ujar Yehezkiel.
Pengembangan green ammonia berbasis energi terbarukan dan blue ammonia dengan teknologi Carbon Capture, Utilization, and Storage (CCUS) menjadi langkah utama dalam strategi tersebut. Selain itu, pengembangan pabrik metanol di Aceh dan Kalimantan Timur juga disiapkan untuk mendukung transisi energi nasional sekaligus memperkuat kemandirian industri.
Pendekatan berbasis alam juga dilakukan melalui pemanfaatan lahan tidur dan pemberdayaan kelompok tani. Langkah ini menjadi bagian dari strategi untuk menyerap emisi sekaligus mendukung sektor pertanian.
Kombinasi antara ketahanan produksi dan inovasi teknologi dinilai menjadi kunci menghadapi tekanan global. Industri tidak hanya dituntut bertahan, tetapi juga bertransformasi secara berkelanjutan.
Sementara itu, Country Director WhaTap Indonesia & Malaysia Andy Phan menilai tantangan adopsi AI di industri kini bergeser. Persoalan utama bukan lagi teknologi, melainkan visibilitas sistem. “Outcome-nya bukan sekadar monitoring, tetapi bagaimana kita bereaksi lebih cepat,” kata Andy.
Baca juga : ASN WFH, Kemenperin Pastikan Layanan Industri Tak Terganggu
Menurut Andy, tanpa visibilitas yang memadai, pemanfaatan AI berisiko menghasilkan analisis yang tidak akurat. Karena itu, pendekatan observability menjadi penting agar sistem lebih transparan dan terukur.
Dia menambahkan, AI seharusnya tidak menggantikan manusia, melainkan memperkuat pengambilan keputusan melalui data yang lebih akurat. “Ini bukan soal menghilangkan human judgment, tetapi meng-augmentasi dengan data,” katanya.
Di tengah tekanan global dan tuntutan transisi energi, industri Indonesia dituntut bergerak cepat. Adaptasi menjadi kebutuhan agar tetap bertahan dan bersaing di tingkat global.
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
Tags :
Berita Lainnya