RM.id Rakyat Merdeka - Langit Malinau tampak cerah pada Sabtu pagi, 3 Oktober 2026. Hujan yang turun menjelang Subuh membasuh udara. Asap yang sebelumnya menyelimuti wilayah itu akibat kebakaran hutan dan lahan, tak lagi terlihat.
Sekitar pukul 10.00 WITA, Menteri Pertahanan Republik Indonesia Jenderal TNI (Purn) Sjafrie Sjamsoeddin bersama rombongan Kementerian Pertahanan tiba di Marshalling Area Batalyon Infanteri Teritorial Pembangunan (Yonif TP) 921/Alang Impang, Desa Loreh, Kabupaten Malinau. Bupati Malinau Wempi Wellem Mawa bersama sejumlah pejabat daerah menyambut kedatangan mereka.
Kunjungan tersebut merupakan bagian rangkaian perjalanan Sjafrie ke empat satuan YTP di Kalimantan Utara. Sehari sebelumnya, Jumat, 2 Oktober, dia mengunjungi Yonif TP 880/Banuanta di Bulungan dan Yonif TP 881/Baratama Dharma di Sebuku, Nunukan. Pada Sabtu, setelah Malinau, perjalanan dilanjutkan ke Kabupaten Tana Tidung.
Keempat wilayah itu berada dalam kawasan strategis perbatasan. Nunukan dan Malinau berbatasan langsung dengan Malaysia, sedangkan Bulungan dan Tana Tidung menjadi kawasan penyangga dengan akses sungai dan laut yang memiliki arti penting bagi pertahanan dan konektivitas wilayah.
Baca juga : Menhan Sjafrie Kobarkan Semangat Prajurit TNI di Perbatasan NKRI
Di Malinau, Sjafrie terlebih dahulu bersilaturahmi dengan Bupati Wempi, kemudian menerima paparan Wakil Komandan Yonif TP 921/Alang Impang mengenai kondisi kesatrian dan kesiapan operasional prajurit. Dia lalu meninjau Marshalling Area dan memberikan pengarahan kepada seluruh prajurit.
Sjafrie menegaskan, Yonif TP memiliki dua wajah: satuan tempur, sekaligus satuan teritorial pembangunan. Prajurit harus menguasai kemampuan menembak, bela diri, dan patroli di tengah belantara perbatasan. Namun, mereka juga harus mampu membantu masyarakat dan mendukung program Pemerintah Daerah.
“Kalian sebagai prajurit mendapat kepercayaan dari rakyat dan negara untuk bertugas di Kabupaten Malinau, menjaga kedaulatan NKRI dan membuat rakyat merasa aman serta nyaman atas kehadiranmu,” tegas Sjafrie.
Dia mengingatkan, prajurit memegang teguh Sapta Marga, Sumpah Prajurit, dan 8 Wajib TNI. Hubungan dengan masyarakat harus dijaga. Prajurit diminta membantu pembangunan fasilitas pedesaan dan tidak menyakiti hati rakyat.
Baca juga : Kunjungi Natuna, Ketua MPR Soroti Penguatan Kesejahteraan Masyarakat Perbatasan
Sementara Bupati Wempi menyampaikan persoalan akses menuju wilayah perbatasan kepada Menhan, terutama jalur menuju Apau Kayan serta jalan yang menghubungkan Malinau dengan Kabupaten Nunukan melalui Krayan dan Kabudaya.
“Saya diskusikan dengan Bapak Menhan, terutama kendala akses di wilayah perbatasan, baik yang ada di Apau Kayan maupun yang menghubungkan wilayah Kabupaten Malinau dengan Kabupaten Nunukan, yaitu Krayan dan Kabudaya,” ujar Wempi.
Menurut Wempi, Sjafrie juga menyampaikan harapan agar keberadaan Yonif TP di Loreh tidak hanya memperkuat pertahanan dan kehormatan bangsa, tetapi ikut mendorong percepatan pembangunan.
Perhatian Menhan juga tertuju pada kehidupan prajurit. Sjafrie menerima laporan masih ada bintara dan perwira yang menyewa tempat tinggal di luar pangkalan. Dia meminta, hunian segera disiapkan di dalam pangkalan, sembari menunggu pembangunan pangkalan permanen.
Baca juga : 105 Unit Ranpur Amfibi Buatan AS Perkuat Korps Marinir
“Ke depan, saya berharap seluruh prajurit dapat tinggal di dalam pangkalan sehingga lebih mudah menjalankan tugas dan menjaga kesiapsiagaan. Negara akan memastikan kebutuhan dasar prajurit terpenuhi, termasuk penyediaan makanan melalui dapur pangkalan,” ujarnya.
Selanjutnya
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.