RM.id Rakyat Merdeka - Pemerintah menyiapkan langkah antisipasi menghadapi potensi banjir dan tanah longsor pada musim hujan akhir 2026 hingga awal 2027. Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat 253 kabupaten/kota berpotensi mengalami banjir, dengan sekitar 113,8 juta orang di seluruh Indonesia berisiko terdampak hujan lebat.
Pelaksana Tugas (Plt.) Kepala Pusat Data, Informasi dan Komunikasi Kebencanaan BNPB Berton Panjaitan mengimbau masyarakat meningkatkan kewaspadaan, terutama ketika hujan turun dalam durasi panjang.
“Kami mengimbau warga untuk tetap waspada ketika hujan sudah mulai turun dan hujan terjadi cukup lama. (Segera) mengambil langkah-langkah kesiapsiagaan seperti meninggalkan daerah yang berpotensi longsor, pergi ke tempat yang aman, ataupun ketika banjir pergi ke lokasi yang lebih tinggi,” kata Berton, Selasa (27/10/2026).
Berton menjelaskan, musim hujan diperkirakan mulai berlangsung pada Desember 2026. Waktu puncaknya berbeda di setiap daerah, sehingga pemerintah daerah perlu menyesuaikan langkah kesiapsiagaan dengan kondisi wilayah masing-masing.
Berdasarkan data historis BNPB, Sumatera menjadi wilayah dengan jumlah kabupaten/kota berpotensi banjir terbanyak, yakni 87 daerah. Puncak musim hujan di wilayah ini diperkirakan berlangsung pada Desember 2026 hingga Januari 2027.
Baca juga : Pemerintah Ajak Mahasiswa Jaga Aksi 28 Oktober Tetap Damai
Di Jawa, sebanyak 50 kabupaten/kota berpotensi mengalami banjir dengan puncak musim hujan pada Januari hingga Februari 2027. Sementara itu, Sulawesi mencatat 41 kabupaten/kota, Kalimantan 26 kabupaten/kota, Bali dan Kepulauan Nusa Tenggara 19 kabupaten/kota, Papua 17 kabupaten/kota, serta Maluku 13 kabupaten/kota.
Puncak musim hujan di sejumlah wilayah tersebut diperkirakan berlangsung pada Januari hingga Juni 2027.
Selain banjir, BNPB mencatat 202 kabupaten/kota berpotensi mengalami tanah longsor pada akhir 2026 hingga awal 2027. Rinciannya, 75 kabupaten/kota di Jawa, 48 di Sumatera, 31 di Sulawesi, 12 di Kalimantan, 18 di Bali dan Nusa Tenggara, 11 di Papua, serta tujuh di Maluku.
Daerah Diminta Bersiap Lebih Awal
Menghadapi potensi bencana tersebut, BNPB meminta pemerintah daerah, terutama di Sumatera dan Kalimantan, meningkatkan kesiapsiagaan sejak dini. Kedua wilayah itu diperkirakan menghadapi puncak musim hujan pada Desember 2026 dan Januari 2027.
“Kami mengimbau pemerintah daerah khususnya BPBD (Badan Penanggulangan Bencana Daerah) Sumatera dan Kalimantan bersiap lebih awal karena puncak musim hujan jatuh di bulan Desember (2026) dan Januari (2027), sehingga mulai sekarang memastikan kesiapsiagaan di dua wilayah atau dua pulau ini,” ujar Berton.
Baca juga : Prabowo Minta BRIN Percepat Riset Pencegahan Karhutla hingga Vaksin
Pemerintah daerah diminta memperbarui rencana kontingensi bencana. Rencana tersebut mencakup skenario bencana, koordinasi antarinstansi, pemicu aktivasi penanganan darurat, jalur evakuasi, serta kesiapan sumber daya yang dibutuhkan.
BNPB juga menekankan perlunya menguji sistem peringatan dini hingga tingkat desa. Pemerintah daerah diminta menghitung ulang ketersediaan logistik berdasarkan perkiraan kebutuhan pengungsi jika bencana terjadi.
Langkah antisipasi juga perlu menyasar kawasan rawan longsor. Pemerintah daerah diminta memantau lereng bekas kebakaran hutan dan lahan (karhutla), terutama di Jawa Timur dan Jawa Tengah, sejak awal musim hujan.
Pemantauan tersebut meliputi kondisi vegetasi dan kemungkinan munculnya retakan tanah yang dapat menjadi tanda awal terjadinya longsor maupun banjir bandang.
“Perlu melakukan siaga lapangan seperti aktifkan posko, perahu karet diperhatikan, sarana prasarana juga dicek, tim reaksi cepat bisa dilatih atau diberikan pembimbingan. Pemantauan tinggi muka air tentu ini perlu dilakukan di sungai-sungai serta dapur umum sebelum musim puncak ini terjadi perlu disiagakan,” tegas Berton.
Baca juga : Sestama BNPB Ngaku Serahkan Dokumen
Kesiapan posko, perahu karet, sarana dan prasarana evakuasi, tim reaksi cepat, serta dapur umum menjadi perhatian dalam menghadapi puncak musim hujan. Pemantauan tinggi muka air sungai juga perlu dilakukan untuk membantu mengantisipasi banjir dan mempercepat respons ketika kondisi memburuk.
BNPB mengingatkan masyarakat agar tidak menunggu bencana terjadi untuk melakukan evakuasi. Warga yang tinggal di kawasan rawan banjir dan longsor diminta mengenali jalur evakuasi serta segera menuju tempat aman ketika muncul tanda-tanda bahaya.
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.