BREAKING NEWS
 

Dua Tahun Asta Cita, Sahabat Hijau Nasional Dorong Transformasi Ekonomi Kaltim

Reporter : AHMAD LATHIF ROSYIDI
Editor : OKTAVIAN SURYA DEWANGGA
Minggu, 1 November 2026 02:11 WIB
Foto: Sahabat Hijau.

RM.id  Rakyat Merdeka - Ketergantungan Kalimantan Timur (Kaltim) terhadap sektor pertambangan menjadi tantangan serius dalam menyiapkan masa depan ekonomi daerah.

Di tengah keterbatasan sumber daya alam yang tidak terbarukan, percepatan transformasi menuju ekonomi hijau dinilai penting untuk membuka lapangan kerja baru sekaligus menjamin keberlanjutan penghidupan masyarakat pascatambang.

Persoalan tersebut mengemuka dalam Diskusi Publik Dua Tahun Asta Cita yang digelar Sahabat Hijau Nusantara di Yen’s Delight Coffee Pastry & Resto, Samarinda, Sabtu (31/10/2026).

Mengusung tema “Hidup Setelah Tambang, Ekonomi Hijau Daerah”, diskusi ini menghadirkan sejumlah pemerhati lingkungan dan pemberdayaan masyarakat untuk membahas arah pembangunan Kaltim yang berkeadilan dan berkelanjutan.

Berdasarkan data DJPb Kanwil Kaltim dan Biro Perekonomian Setda Provinsi Kaltim tahun 2025, sektor pertambangan dan penggalian menyumbang 35,34 persen terhadap produk domestik regional bruto (PDRB) Kaltim pada Triwulan I-2025.

Sementara itu, hingga Juli 2025, sebanyak 76,54 persen nilai ekspor Kaltim masih ditopang komoditas pertambangan.

Direktur Eksekutif PROGRESS INDONESIA yang juga Ketua Umum PP KAMMI Taufik Amrullah mengatakan, besarnya kontribusi sektor pertambangan seharusnya menjadi modal untuk mempersiapkan transformasi ekonomi, bukan justru menjadi alasan untuk saling menyalahkan.

Baca juga : Dari Perut Bumi ke Nilai Tambah: Hilirisasi Nikel dan Asa Ekonomi Hijau Pomalaa

Menurut dia, karakteristik pertambangan yang mengandalkan sumber daya tidak terbarukan menuntut pemerintah dan masyarakat mulai menyiapkan sumber ekonomi alternatif sejak dini.

“Tambang bukan sumber daya yang bisa diandalkan selamanya. Karena itu, kita harus mulai mempersiapkan kehidupan setelah tambang dari sekarang. Potensi ekonomi yang dimiliki daerah harus menjadi modal untuk membangun kemandirian masyarakat,” ujarnya.

Taufik juga menilai, Kaltim sebenarnya telah memiliki fondasi untuk mengembangkan ekonomi hijau melalui Low Carbon Growth Strategy (LCGS) dan Green Growth Compact yang dimulai sejak Mei 2016 dengan melibatkan berbagai pemangku kepentingan.

Namun, menurut dia, keberadaan berbagai kebijakan tersebut perlu diikuti langkah konkret agar manfaatnya benar-benar dirasakan masyarakat.

Rimbawan senior Kementerian Kehutanan Ismail Akbar, menilai tantangan utama pengembangan ekonomi hijau saat ini bukan sekadar menyusun konsep dan kebijakan, melainkan memastikan implementasinya memberikan dampak nyata hingga tingkat desa.

Adsense

“Keberhasilan ekonomi hijau jangan hanya diukur dari banyaknya program atau dokumen kebijakan. Yang lebih penting adalah apakah masyarakat memperoleh pekerjaan dan pendapatan, produk lokal memiliki pasar yang berkelanjutan, serta kondisi lahannya semakin membaik,” kata Ismail.

Dia menjelaskan, sejumlah peluang ekonomi alternatif dapat dikembangkan melalui agroforestri, seperti kakao, rempah-rempah, dan hasil hutan bukan kayu.

Baca juga : Zulhas Tawarkan 5 Mesin Hijau Untuk Dongkrak Pertumbuhan

Selain itu, jasa lingkungan dan energi bersih juga berpotensi menjadi sumber ekonomi baru bagi masyarakat desa.

Menurut Ismail, pengembangan potensi tersebut harus melibatkan seluruh kelompok masyarakat.

Perempuan perlu mendapatkan ruang sebagai penjaga ketahanan pangan, sedangkan generasi muda dapat berperan dalam mendorong pemanfaatan teknologi dan pemasaran digital.

Senada dengan Ismail, pemerhati pemberdayaan perempuan sekaligus kandidat doktor Ilmu Kehutanan Universitas Mulawarman, Dina Riska menegaskan, ekonomi hijau harus memberikan manfaat yang adil bagi masyarakat, bukan hanya berorientasi pada pertumbuhan ekonomi.

“Ekonomi hijau harus memastikan tiga hal berjalan bersamaan, yakni mengurangi tekanan terhadap lingkungan, menciptakan sumber pendapatan yang layak, serta membuka akses yang inklusif bagi perempuan dan generasi muda,” ujarnya.

Selain membahas transformasi ekonomi, diskusi tersebut juga menyoroti pentingnya menjaga persatuan masyarakat di tengah perubahan sosial dan ekonomi.

Perwakilan Pemuda Samarinda menyampaikan pesan kebangsaan agar masyarakat tidak mudah terpecah oleh hoaks, disinformasi, fitnah, maupun ujaran kebencian.

Baca juga : Menkop Tegaskan Koperasi Bagian Dari Transformasi Ekonomi Indonesia

“Kami pemuda Samarinda ingin menyampaikan pesan kepada seluruh rakyat Indonesia bahwa kita bersaudara. Mari jaga persatuan dan kesatuan, serta bersama-sama memerangi hoax, disinformasi, fitnah, dan kebencian. Indonesia, kita jaga bersama!” serunya.

Pesan tersebut menjadi pengingat bahwa keberhasilan pembangunan berkelanjutan tidak hanya bergantung pada kebijakan ekonomi dan lingkungan, tetapi juga membutuhkan kohesi sosial serta ketahanan masyarakat terhadap informasi yang menyesatkan.

Diskusi kemudian ditutup dengan kesepakatan mengenai lima indikator evaluasi yang perlu diperhatikan sebelum memulai inisiatif ekonomi hijau di daerah.

Seluruh pembahasan dirangkum dalam prinsip bahwa transisi ekonomi harus berjalan dengan memperhatikan keberlanjutan lingkungan dan kesejahteraan masyarakat, yakni lahan dirawat, usaha dikuatkan, dan manfaat dibagi bersama.

Sebagai informasi, Sahabat Hijau Nusantara merupakan komunitas atau organisasi yang bergerak di bidang advokasi lingkungan, pembangunan berkelanjutan, dan pemberdayaan masyarakat untuk mendorong transisi ekonomi hijau di Indonesia.

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Tags :

Berita Lainnya
 

TERPOPULER

Adsense