Dark/Light Mode
BREAKINGNEWS
- Man City Vs Brighton, Ancaman Produktivitas The Seagulls
- Rupiah Menguat Ke Rp 18.123, Ini Sentimen Pendorongnya
- OMC Berhasil Tekan Titik Panas Karhutla di Papua Selatan
- Chelsea vs Man United, Ujian Terakhir Michael Carrick
- Pramono Minta Bina Marga Kebut Perbaikan Jalan Gelap dan Bergelombang Rawamangun
Dari Perut Bumi ke Nilai Tambah: Hilirisasi Nikel dan Asa Ekonomi Hijau Pomalaa
Jumat, 30 Oktober 2026 20:57 WIB
RM.id Rakyat Merdeka - Di antara deretan bibit yang tumbuh di bawah naungan jaring peneduh, masa depan Pomalaa, Kabupaten Kolaka, Sulawesi Tenggara, sedang dirawat.
Kayu kuku, kolaka, hingga anggrek seruni menjadi bagian dari kekayaan hayati Bumi Mekongga yang berusaha dipertahankan di tengah ekspansi industri nikel.
Tak jauh dari sana, konstruksi fasilitas pengolahan nikel terus dikebut. Baja, pipa, dan rangkaian peralatan industri menjadi penanda perubahan Pomalaa dari kawasan penghasil mineral menjadi bagian dari rantai pasok bahan baku baterai kendaraan listrik.
Namun, perubahan itu tidak hanya berlangsung di kawasan industri. Di Desa Puuroda, Indah Susanti menemukan harapan baru dari kebun sayurnya.
Sementara di Desa Bende, petani mulai menghidupkan kembali kebun kakao yang sempat kehilangan produktivitas. Ketiga lanskap tersebut memperlihatkan sisi lain hilirisasi.
Di satu sisi, nikel diolah untuk meningkatkan nilai ekonomi sumber daya mineral. Di sisi lain, kekayaan hayati perlu dijaga dan masyarakat harus memperoleh manfaat ekonomi dari perubahan yang berlangsung di daerahnya.
Pertanyaannya, mampukah pertumbuhan industri berjalan beriringan dengan perlindungan lingkungan dan peningkatan kesejahteraan masyarakat?
Selama empat hari, 25–28 Oktober 2026, Rakyat Merdeka bersama sejumlah jurnalis finalis Media MIND ID meninjau operasional PT Vale Indonesia Tbk di Pomalaa.
Dari kawasan konstruksi pabrik, persemaian tanaman, area pertambangan, hingga program pemberdayaan masyarakat, kunjungan tersebut memperlihatkan berbagai dimensi yang menyertai transformasi industri nikel.
Kawasan pembangunan fasilitas pengolahan nikel berteknologi High-Pressure Acid Leach (HPAL) dalam proyek Indonesia Growth Project (IGP) Pomalaa, Kabupaten Kolaka, Sulawesi Tenggara. Fasilitas ini dirancang mengolah bijih nikel limonit menjadi Mixed Hydroxide Precipitate (MHP), bahan antara untuk rantai pasok baterai kendaraan listrik. (Dok. PT Vale Indonesia Tbk)
Dari Bijih Nikel Menuju Industri Baterai
Di kawasan Indonesia Growth Project (IGP) Pomalaa, penciptaan nilai tambah diwujudkan melalui pembangunan fasilitas pengolahan nikel berteknologi High-Pressure Acid Leach (HPAL).
Teknologi ini dirancang untuk mengolah bijih nikel limonit berkadar rendah menjadi Mixed Hydroxide Precipitate (MHP), produk antara yang dapat diproses lebih lanjut untuk memenuhi kebutuhan rantai pasok baterai kendaraan listrik.
IGP Pomalaa dikembangkan melalui kerja sama PT Vale Indonesia Tbk, Zhejiang Huayou Cobalt Co., Ltd., dan Ford Motor Company.
Nilai investasi pengembangan tambang dan fasilitas HPAL tersebut diperkirakan mencapai 4,5 miliar dollar AS.
Hingga kuartal III 2026, progres pembangunan fasilitas HPAL mencapai 96,97 persen, sedangkan pembangunan tambang mencapai 88,98 persen.
Fasilitas pengolahan dilaporkan mulai memasuki tahap commissioning pada September 2026, yakni pengujian dan pengoperasian awal sistem sebelum produksi komersial.
Kepala Departemen Pusat Penjadwalan Produksi PT Kolaka Nickel Indonesia (KNI), Yu Pan, menjelaskan bahwa perusahaan tengah mempersiapkan tahapan uji coba produksi.
"Sudah mulai uji coba satu rangkaian. Kemudian untuk bulan November kami akan mulai uji coba produksi, dan setelah uji coba sekitar akhir November atau awal Desember, kami akan mulai memproduksi produk HPAL. Jadi, diperkirakan produksi penuh dimulai sekitar bulan Desember, paling lambat Januari 2027," jelas Yu Pan kepada Rakyat Merdeka di lokasi site.
Tahap tersebut menjadi penanda penting bagi hilirisasi Pomalaa. Setelah konstruksi mendekati penyelesaian, tantangan berikutnya adalah memastikan fasilitas beroperasi secara stabil, efisien, dan memenuhi ketentuan lingkungan.
Sebab, nilai tambah tidak cukup diukur dari keberhasilan mengolah bijih menjadi produk antara. Efisiensi produksi, penyerapan tenaga kerja, peningkatan kompetensi, serta keterkaitan industri dengan ekonomi lokal juga menentukan manfaat jangka panjang proyek tersebut.
Energi untuk Hilirisasi, Efisiensi untuk Keberlanjutan Pengolahan mineral membutuhkan pasokan energi yang andal.
Sumber energi dan efisiensi penggunaannya juga menentukan besarnya dampak lingkungan dari proses produksi.
Project Manager JV Pomalaa, Ridwan Setiawan, menjelaskan bahwa proyek tersebut tidak menggunakan pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) berbahan bakar batu bara.
"Kami tidak menggunakan PLTU batu bara, melainkan menggunakan LNG Power Plant dan Heat Recovery System dari Acid Plant," tegas Ridwan.
Baca juga : Danantara Buka Peluang Mitra Strategis, MIND ID Perkuat Hilirisasi Nikel
LNG merupakan singkatan dari liquefied natural gas atau gas alam cair. Adapun Heat Recovery System memanfaatkan kembali panas dari proses industri untuk mendukung kebutuhan energi.
Penggunaan gas alam dan pemanfaatan kembali panas menjadi pendekatan untuk memenuhi kebutuhan energi proyek tanpa mengandalkan PLTU batu bara.
Meski demikian, gas alam tetap menghasilkan emisi. Karena itu, manfaat lingkungan dari pendekatan tersebut perlu dilihat berdasarkan data konsumsi energi, intensitas emisi, dan efektivitas pemulihan panas.
Dalam industri yang ditujukan untuk mendukung transisi menuju kendaraan listrik, aspek tersebut tidak bisa diabaikan. Bahan baku baterai tetap harus dihasilkan melalui proses yang memperhitungkan dampak energi dan lingkungan.
Gerbang fasilitas persemaian tanaman (nursery) PT Vale Indonesia Tbk di Tangketada, Kabupaten Kolaka. Fasilitas seluas 4,6 hektare ini dirancang mampu memproduksi hingga satu juta bibit per tahun untuk mendukung reklamasi, pemulihan lahan, dan kebutuhan masyarakat. (Foto: FAZRY/Rakyat Merdeka).
Menyelamatkan Kekayaan Hayati Sebelum Lahan Dibuka
Jika fasilitas HPAL menggambarkan upaya menciptakan nilai tambah ekonomi, persemaian tanaman di Tangketada memperlihatkan sisi lain pengelolaan keberlanjutan: menjaga kekayaan hayati di tengah perubahan bentang alam.
Di kawasan Kebun Raya Kolaka seluas 50 hektare, PT Vale mengembangkan fasilitas persemaian atau nursery dengan area khusus seluas 4,6 hektare. Diresmikan pada akhir Februari 2026, fasilitas tersebut dirancang mampu memproduksi hingga satu juta bibit per tahun.
Sistem penyiraman otomatis dilengkapi pengatur waktu dan sensor untuk merespons kondisi lingkungan ketika suhu melampaui 35 derajat Celsius dan kelembapan turun di bawah 60 persen.
Laboratorium kultur jaringan juga disiapkan untuk memperbanyak tanaman. Sebanyak 35 persen komposisi bibit dialokasikan untuk tanaman lokal dan endemik, seperti kayu kuku, kolaka, dan anggrek seruni.
Sebelum pembukaan lahan tambang, anakan pohon yang tumbuh di alam diselamatkan melalui proses rescue untuk dikembangbiakkan. Bibit tersebut nantinya dapat dimanfaatkan dalam reklamasi dan pemulihan lahan pascatambang.
Perusahaan juga mengembangkan upaya adaptasi tanaman mangrove menggunakan air asin dan lumpur laut asli untuk mendukung perlindungan kawasan pesisir dari abrasi.
Hingga Oktober 2026, fasilitas itu telah memproduksi lebih dari 161.000 bibit. Produksinya tidak hanya ditujukan untuk reklamasi perusahaan, tetapi juga disiapkan untuk mendukung kebutuhan masyarakat, pemerintah daerah, dan lembaga lainnya.
"Bibit di sini tidak hanya dipakai untuk kegiatan PT Vale saja, reklamasi, tapi memang ini kami siapkan untuk support kebutuhan masyarakat, pemerintah daerah, juga untuk perusahaan-perusahaan lainnya," ujar Senior Manager Environmental and Permit Management PT Vale Indonesia Tbk, Firman Gunawan.
Upaya penyelamatan tanaman sebelum pembukaan lahan merupakan langkah penting untuk mengurangi risiko hilangnya kekayaan hayati.
Namun, keberhasilan persemaian tidak cukup diukur dari jumlah bibit yang diproduksi. Tingkat hidup tanaman setelah ditanam, kesesuaian habitat, dan kontribusinya terhadap pemulihan ekosistem juga perlu menjadi ukuran.
Indah Susanti menunjukkan produk beras organik Mekora hasil pertanian yang dikembangkan melalui program Pertanian Sehat Ramah Lingkungan Berkelanjutan (PSRLB) PT Vale Indonesia di Desa Puuroda, Kabupaten Kolaka, Sulawesi Tenggara. (Foto: Fazry/Rakyat Merdeka)
Dari Kebun Organik, Indah Menemukan Kemandirian
Nilai tambah juga tumbuh dari tanah yang dikelola masyarakat. Di Desa Puuroda, Kecamatan Baula, Kabupaten Kolaka, Indah Susanti (43) membuktikan bahwa perubahan cara bertani dapat membuka jalan menuju kehidupan yang lebih mandiri.
Dahulu, lahan di belakang rumahnya tidak produktif. Keterbatasan ekonomi membuat pemenuhan kebutuhan keluarga, termasuk biaya pendidikan anak, menjadi tantangan.
Perubahan mulai terasa ketika Indah mengikuti program Pertanian Sehat Ramah Lingkungan Berkelanjutan (PSRLB), bagian dari Program Pengembangan dan Pemberdayaan Masyarakat (PPM) PT Vale Indonesia Tbk melalui IGP Pomalaa.
Diinisiasi sejak 2021, program tersebut mendampingi petani beralih menuju pertanian organik dengan mengolah bahan alami dan mengurangi ketergantungan pada pupuk sintetis (pupuk kimia). Peralihan itu tidak mudah.
Pada tiga bulan pertama, tanaman Indah menguning dan layu setelah penggunaan pupuk kimia dihentikan.
Tanah yang selama bertahun-tahun bergantung pada pupuk sintetis membutuhkan proses pemulihan. Dengan pendampingan intensif, Indah bertahan.
Tanah perlahan pulih dan kebun sayurnya kembali produktif. Kini, kebun sayur Indah menghasilkan pemasukan sekitar Rp5 juta per bulan. Tanaman seledri di pekarangan memberikan tambahan pendapatan sekitar Rp100.000 per hari, sedangkan panen sawah menyumbang sekitar Rp12 juta setiap kali panen.
Ia juga memanfaatkan batang pisang yang sebelumnya berpotensi menjadi limbah untuk diolah menjadi kompos.
Bahan organik tersebut dikembalikan ke tanah guna mendukung pertumbuhan tanaman, sekaligus membantu menekan kebutuhan pupuk dari luar.
Baca juga : Hilirisasi Nikel Bawa Harapan Baru Bagi Anak Muda Di Maluku Utara
Hasilnya bukan hanya peningkatan pendapatan. Indah juga mampu menciptakan pekerjaan bagi suami dan anak-anaknya di rumah sendiri.
"Alhamdulillah, saya sangat-sangat bersyukur karena adanya Vale. Saya sangat bersyukur karena dari saya yang tidak tahu apa-apa, dari saya yang bukan siapa-siapa, karena organik ini dulu saya tidak pernah mimpi. Tapi karena organik ini saya bisa terbang ke Jakarta, sekarang sudah tiga kali, untuk ikut event," ungkap Indah.
Ia juga menyampaikan apresiasi kepada para pendamping yang membantunya menjalani proses perubahan tersebut.
"Terima kasih kepada Pak Le (Lalu Nofa Setiawan Putra, Senior Manager Social Development Program Vale Indonesia). Terima kasih kepada pendampingan Pak Ali (Ir. Alik Sutaryat, Pendiri Aliksa Organik SRI Consultant), karena dari saya yang bukan siapa-siapa, dari saya yang tidak berdaya, sekarang untuk lapangan pekerjaan suami dan anak saya, saya ciptakan sendiri di rumah saya."
Kisah Indah memperlihatkan bahwa keberlanjutan dapat dimulai dari skala rumah tangga. Pengetahuan pertanian, pendampingan, dan pemanfaatan sumber daya lokal mengubah pekarangan yang sebelumnya tidak produktif menjadi sumber pendapatan sekaligus ruang usaha keluarga.
Kepala Desa Bende, Hamzah M., berada di kawasan perkebunan kakao Desa Bende, Kecamatan Wundulako, Kolaka. Program pendampingan petani kakao mendorong peningkatan produktivitas dan pengembangan nilai tambah hasil perkebunan. (Foto: Fazry/ Rakyat Merdeka)
Menghidupkan Kembali Kakao, Menumbuhkan Ekonomi Desa
Transformasi serupa berlangsung di Desa Bende, Kecamatan Wundulako, Kabupaten Kolaka.
Di desa ini, kakao yang dahulu menjadi andalan petani sempat kehilangan daya tarik akibat serangan hama dan penurunan hasil panen.
Sebagian petani kesulitan mempertahankan produktivitas kebun. Anak-anak muda pun cenderung memilih merantau atau bekerja di sektor pertambangan yang dianggap menawarkan pendapatan lebih menjanjikan.
Perubahan mulai terjadi melalui program Cocoa Demplot PT Vale Indonesia. Petani tidak hanya mendapatkan bantuan bibit dan pupuk, tetapi juga pendampingan melalui Sekolah Lapang untuk memperbaiki teknik budidaya.
Materi pendampingan mencakup pembibitan, teknik sambung pucuk, perawatan tanaman, pemupukan, hingga manajemen panen. Dengan pendekatan tersebut, petani didorong mengelola kebun secara lebih terencana.
Kepala Desa Bende, Hamzah M., menggambarkan perubahan yang dirasakan masyarakat setelah program pendampingan berjalan.
"Ditambah lagi dengan ada serangan hama. Alhamdulillah, dua tahun terakhir ini saya ketemu Pak Agus, koordinasi sama PPL dan kelompok tani, masuklah program dari PT Vale ini melalui teman-teman A-Plus CSR to PPM, dari sisi ekonomi hasilnya keliatan," ujarnya.
Senior Manager Social Development Program PT Vale Indonesia, Lalu Nofa Setiawan Putra, menjelaskan bahwa program dirancang dengan melibatkan masyarakat dalam pemetaan potensi dan penyusunan solusi.
"Fase satu ini sebenarnya kami fokuskan di budidaya, dan ternyata dari budidayanya sudah menunjukkan keberhasilan dan bahkan sudah ada pengolahan hasil," ungkap Lalu Nofa.
Hasil pendampingan terlihat dari peningkatan produktivitas. Jika sebelumnya panen petani berkisar 400–500 kilogram, hasilnya kini dilaporkan meningkat hingga 1,2 ton.
Harga jual biji kakao yang sebelumnya sekitar Rp30.000–Rp40.000 per kilogram juga dilaporkan naik menjadi Rp80.000–Rp90.000 per kilogram.
Program tersebut menjangkau Kelurahan Silea dan Desa Bende, melibatkan 11 kelompok tani dengan total 150 anggota aktif, serta memanfaatkan lahan seluas 105 hektare.
Pengembangan tidak berhenti pada peningkatan hasil panen. Petani mulai mengolah kakao secara mandiri untuk memperbesar nilai ekonomi produk.
Tahap berikutnya diarahkan pada penguatan pemasaran dan konsolidasi forum petani, agar hasil produksi dapat dipasarkan secara lebih terkoordinasi.
Cita-citanya, Desa Bende berkembang menjadi pusat pengolahan terpadu yang menampung hasil kakao dari berbagai wilayah di Kolaka.
Perjalanan kakao Bende menunjukkan bahwa penciptaan nilai tambah tidak selalu membutuhkan pabrik berskala besar. Peningkatan produktivitas, kualitas hasil, pengolahan, dan akses pasar juga dapat memperbesar nilai ekonomi yang diterima masyarakat.
Produk cokelat BenChoco merupakan hasil pengolahan kakao petani Desa Bende, Kabupaten Kolaka. Pengembangan produk olahan menjadi salah satu upaya meningkatkan nilai tambah komoditas kakao dan memperluas peluang usaha masyarakat. (Foto: Fazry Rakyat Merdeka)
Menjaga Air, Menjaga Keberlanjutan
Tambang Di balik peluang ekonomi yang tercipta, pengembangan industri nikel tetap membawa tanggung jawab terhadap lingkungan.
Salah satu aspek pentingnya adalah pengelolaan air di kawasan pertambangan. Pembukaan lahan, penggalian, dan penumpukan bijih berpotensi mengubah aliran air hujan serta meningkatkan risiko terbawanya material padat ke lingkungan sekitar.
Baca juga : Kuasai 41 Persen Nikel Olahan Dunia, Ekonom Apresiasi Hilirisasi Bahlil
Manager Mine Engineering PT Vale Indonesia Site Pomalaa, Ronny Luhansa, menjelaskan bahwa kegiatan logistik tambang ditopang lima stockpile dengan kapasitas total sekitar delapan juta ton.
Fasilitas tersebut digunakan untuk menampung bijih limonit dan saprolit agar pasokan material tetap terjaga.
Untuk mengendalikan limpasan air hujan, perusahaan mengoperasikan saluran drainase keliling atau perimeter ditch yang mengalirkan air menuju kolam pengendapan atau sedimentation pond (SDP).
Secara keseluruhan, luas fasilitas kolam pengendapan di Site Pomalaa mencapai lebih dari 20 hektare.
Senior Hydrology Engineer PT Vale Indonesia Tbk, Yunus Surya Anggara, menjelaskan bahwa terdapat 17 titik kolam pengendapan atau Sedimentation Pond (SDP) yang tersebar di area tambang dan stockpile. Salah satu fasilitasnya adalah SDP 24.
Kolam seluas 5–6 hektare dengan kapasitas sekitar 120.000 meter kubik tersebut melayani bukaan tambang Pit PB1.
Pemantauan kualitas air di kolam itu dirancang berlangsung secara waktu nyata (real-time), seiring proses pengurusan Sertifikat Laik Operasi (SLO) dari instansi berwenang.
Saluran drainase dan kolam pengendapan merupakan bagian dari upaya mengendalikan risiko pencemaran. Namun, efektivitasnya tetap perlu dibuktikan melalui hasil pemantauan kualitas air, kepatuhan terhadap baku mutu, dan konsistensi pengoperasian sistem.
Sebab, keberlanjutan operasi tambang tidak hanya ditentukan oleh kelancaran produksi, tetapi juga kemampuan mengendalikan dampaknya terhadap lingkungan.
Diolah Rakyat Merdeka
Menguji Nilai Tambah di Bumi Mekongga
Di Pomalaa, penciptaan nilai tambah memiliki beberapa lapisan. Pada sektor pertambangan, bijih nikel disiapkan untuk diolah menjadi produk antara bagi industri baterai kendaraan listrik.
Pada sektor lingkungan, persemaian tanaman mendukung upaya pemulihan lahan dan perlindungan keanekaragaman hayati.
Sementara itu, di tingkat masyarakat, pertanian organik dan pengembangan kakao memperlihatkan bagaimana pendampingan dapat memperbaiki produktivitas, meningkatkan nilai hasil panen, dan membuka peluang usaha.
Kisah Indah Susanti menunjukkan bahwa pemanfaatan bahan organik dapat mendukung pendapatan keluarga sekaligus mengurangi limbah.
Di Desa Bende, perbaikan budidaya dan pengolahan kakao membuka peluang bagi petani untuk memperoleh nilai ekonomi lebih besar dari kebun mereka.
Meski demikian, keberhasilan program masyarakat tidak cukup diukur dari peningkatan hasil panen atau pendapatan sesaat.
Akses pasar yang stabil, keberlanjutan usaha, dan kemampuan masyarakat mempertahankan hasil program dalam jangka panjang juga menjadi ukuran penting.
Hal serupa berlaku bagi pengelolaan lingkungan. Jumlah bibit yang diproduksi dan luas kolam pengendapan belum dengan sendirinya membuktikan keberhasilan pemulihan ekosistem.
Hasil penanaman, kualitas air, pengendalian emisi, serta pengelolaan limbah perlu dipantau dan dievaluasi secara terukur. Di sinilah komitmen hilirisasi berkelanjutan diuji.
Penciptaan nilai tambah bukan semata-mata meningkatkan nilai mineral melalui proses pengolahan, melainkan membangun hubungan yang lebih kuat antara kegiatan industri, perlindungan lingkungan, dan kemandirian ekonomi masyarakat.
Di Bumi Mekongga, masa depan hilirisasi nikel tidak hanya ditentukan oleh seberapa cepat pabrik beroperasi atau seberapa besar produk yang dihasilkan.
Masa depan itu juga ditentukan oleh kemampuan menjaga kekayaan hayati, memulihkan lingkungan, dan memastikan masyarakat sekitar memperoleh manfaat yang berkelanjutan.
Sebab, nilai tambah yang sesungguhnya bukan hanya nilai yang tercipta ketika bijih nikel keluar dari perut bumi. Nilai itu juga hadir ketika tanah tetap terjaga, petani memperoleh penghidupan yang lebih baik, dan masyarakat memiliki kesempatan untuk tumbuh bersama perubahan industri. (FAZRY)
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
Tags :
Berita Lainnya