Dark/Light Mode
BREAKINGNEWS
ESGIN, KPCI, dan KKDC Perkuat Ekosistem Ekonomi Hijau
Kamis, 10 September 2026 22:21 WIB
RM.id Rakyat Merdeka - PT ESGIN Global Partners (ESGIN), Koperasi Pangan Cendekia Indonesia (KPCI), dan Koperasi Kencana Darma Cendekia (KKDC) menandatangani nota kesepahaman (MoU) untuk memperkuat ekosistem ekonomi hijau, mulai dari pertanian berkelanjutan hingga pengembangan proyek karbon.
Penandatanganan MoU dilakukan di Ballroom Bank Mega Syariah, Jakarta Selatan, Kamis (10/9/2026), dalam rangkaian Seminar Nasional Green Education.
MoU ditandatangani Vice President PT ESGIN Global Partners Yayang Ruzaldy, Ketua KPCI–MPP ICMI Dr Marwah Daud Ibrahim, serta Ketua KKDC Rhesa Yogaswara.
Kerja sama tersebut mencakup pengembangan pertanian berkelanjutan, rantai pasok pangan, ekonomi sirkular, teknologi digital lingkungan, proyek hijau (green project), proyek iklim (climate project), serta pemberdayaan masyarakat.
Seminar Nasional Green Education mengangkat tema “Green Education: Talenta Masa Depan, Talenta Melek Ketahanan Energy dan Pangan, yang Ramah Lingkungan, Bersahabat dengan Alam”.
Kegiatan tersebut juga melibatkan Bank Mega Syariah. Kolaborasi lintas sektor itu diarahkan untuk memperkuat pendidikan dan literasi ekonomi hijau, ketahanan pangan dan energi, serta pemanfaatan teknologi dalam mempersiapkan talenta masa depan yang adaptif terhadap tantangan keberlanjutan.
Dalam seminar tersebut, Yayang Ruzaldy menjadi pembicara utama. Ia menekankan pentingnya pendidikan hijau sebagai fondasi untuk mempersiapkan generasi yang akan terlibat dalam transformasi menuju ekonomi hijau.
“Talenta masa depan harus memahami bahwa pertumbuhan ekonomi dan keberlanjutan lingkungan bukan dua agenda yang terpisah. Anak-anak kita hari ini akan menjadi entrepreneur, profesional, konsumen, pemimpin, dan pengambil keputusan di masa depan. Karena itu, wawasan ekonomi hijau perlu mulai dibangun sejak mereka masih berada di bangku sekolah,” ujar Yayang Ruzaldy.
Menurut Yayang, pendidikan hijau perlu diarahkan dari sekadar pemahaman konsep menuju tindakan nyata.
Baca juga : ADUPI, IDCTA, ESGIN Bangun Infrastruktur Digital Industri Daur Ulang
“Green Education harus bergerak dari knowledge menuju action. Kita perlu memberikan ruang kepada generasi muda untuk melakukan aktivitas nyata, mulai dari mengurangi sampah dan food waste, menghemat energi dan air, menjaga lingkungan, hingga berpartisipasi dalam ekonomi sirkular. Teknologi kemudian dapat membantu mencatat dan mengukur aktivitas tersebut sehingga Green Action dapat berkembang menjadi Measurable Green Impact,” lanjutnya.
Pembagian Peran
Dalam kerja sama tersebut, KPCI berperan memperkuat ekosistem hulu melalui jaringan petani, kelompok tani, koperasi, wilayah dan komoditas pertanian potensial.
KPCI juga akan mengembangkan pola kemitraan usaha pertanian dan contract farming. Sementara itu, KKDC memperkuat sisi hilir melalui pengembangan rantai pasok, distribusi, pemasaran, akses pasar, jaringan konsumen, dan komunitas.
Jaringan tersebut juga membuka peluang sinergi dengan Bank Sampah Unit (BSU) dan berbagai kegiatan ekonomi sirkular berbasis masyarakat.
ESGIN akan mendukung pengembangan green project dan infrastruktur lingkungan digital.
Dukungan tersebut mencakup pemanfaatan platform ESG-in, traceability, pengukuran dampak lingkungan, serta Digital Measurement, Reporting and Verification (Digital MRV).
Teknologi tersebut juga digunakan untuk mengidentifikasi potensi green project, climate project, serta proyek penurunan atau pengurangan emisi gas rumah kaca.
Kolaborasi diarahkan untuk menghubungkan produksi pertanian berkelanjutan dengan rantai pasok dan pasar. Selain itu, partisipasi masyarakat dihubungkan dengan ekonomi sirkular, sedangkan aktivitas lingkungan didukung teknologi pengukuran dampak.
Dari Aksi ke Proyek Karbon
Ekosistem tersebut diharapkan mendorong berbagai aksi lingkungan di sekolah, sektor pertanian, koperasi, dan masyarakat. Aktivitas itu selanjutnya dapat dicatat dan dipantau menggunakan teknologi digital.
Baca juga : ESGIN Gandeng HKTI dan PPTTI Kembangkan Ekonomi Hijau di Lampung
Data serta dampak yang dihasilkan dapat menjadi dasar untuk mengidentifikasi kegiatan yang berpotensi dikembangkan menjadi green project.
Untuk kegiatan yang memenuhi persyaratan teknis, metodologi, MRV, kelayakan komersial, dan regulasi, pengembangannya dapat dijajaki menjadi climate project maupun carbon project.
Pertanian menjadi salah satu sektor strategis dalam kerja sama karena berkaitan langsung dengan ketahanan pangan, penggunaan lahan, air dan energi, biomassa, limbah organik, serta emisi gas rumah kaca.
Melalui jaringan KPCI, para pihak dapat memetakan wilayah, petani, kelompok tani, koperasi, komoditas, serta praktik pertanian yang berpotensi dikembangkan secara lebih produktif dan berkelanjutan.
Contract farming menjadi salah satu instrumen yang dapat digunakan untuk memperkuat hubungan antara petani, kepastian produksi, koperasi, rantai pasok, dan pasar.
Selain pertanian, kerja sama mencakup pengembangan ekonomi sirkular dan pengelolaan sampah berbasis masyarakat melalui jaringan Bank Sampah Unit.
Kegiatan yang dikembangkan antara lain pemilahan sampah, daur ulang, pemanfaatan kembali material, dan pengurangan food waste.
ESGIN juga memperkuat keterlibatannya melalui Muthia Eka Pratiwi, BSU Manager PT ESGIN Global Partners, yang menjadi pembicara pada Sesi 4 dengan topik “Program Stimulus yang dapat diimplementasikan di sektor Pendidikan, dengan melibatkan stakeholder pendidikan.”
Dorong Proyek Hijau
Teknologi digital menjadi bagian penting dalam ekosistem tersebut.
Baca juga : ESGIN dan Agraus Resources Percepat Pengembangan Proyek Karbon
Platform ESG-in dan Digital MRV digunakan untuk mendukung pencatatan, pemantauan, pengukuran, pelaporan, serta kebutuhan verifikasi berbagai aktivitas lingkungan.
Khusus proyek karbon, pengembangannya tetap harus memenuhi sejumlah persyaratan, antara lain metodologi, baseline, additionality, penghitungan penurunan atau pengurangan emisi, MRV, validasi, verifikasi, registrasi, dan ketentuan regulasi yang berlaku.
Sebagai tindak lanjut MoU, ESGIN, KPCI, dan KKDC dapat membentuk tim kerja bersama untuk memetakan wilayah, petani, kelompok tani, komoditas, koperasi, komunitas, BSU, rantai pasok, pasar, serta potensi green project dan climate project.
Hasil pemetaan akan menjadi dasar penentuan program prioritas dan calon pilot project. Proyek yang dinilai layak selanjutnya dapat dituangkan dalam Perjanjian Kerja Sama (PKS) atau perjanjian definitif tersendiri.
Kolaborasi tersebut diharapkan membangun ekosistem ekonomi hijau yang menghubungkan pendidikan, pertanian, koperasi, masyarakat, teknologi, proyek hijau, dan pembiayaan berkelanjutan.
“From Green Knowledge to Green Action. From Green Action to Measurable Impact. From Measurable Impact to Green Economic Value."
“Green economy harus dibangun dari kekuatan ekonomi masyarakat, dan pertanian merupakan salah satu fondasi terpentingnya. Melalui kolaborasi ini, kami ingin memperkuat posisi petani dan koperasi dalam ekosistem yang menghubungkan produksi pangan berkelanjutan dengan kepastian pasar, teknologi, ekonomi sirkular, serta peluang pengembangan green project. Dengan demikian, ketahanan pangan tidak hanya menjadi agenda produksi, tetapi juga menjadi bagian dari upaya membangun ekonomi yang lebih tangguh, inklusif, dan selaras dengan kelestarian alam,” ujar Dr. Marwah Daud Ibrahim, Ketua Koperasi Pangan Cendekia Indonesia (KPCI) – MPP ICMI.
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
Tags :
Berita Lainnya