Sebelumnya
Sementara itu, pencetus Sawah Mini Mina Padi IP-500, Yayan Juherman menjelaskan bahwa metode tersebut dirancang menggunakan sistem budidaya terpadu antara tanaman padi dan ikan dalam kolam terpal dengan dukungan teknologi Biosaka.
Media tanam menggunakan polibag yang diisi campuran tanah, kotoran hewan atau kohe yang telah diproses menggunakan Biosaka Jilid 3, serta sekam bakar.
Komposisinya terdiri atas 10 bagian tanah, tujuh bagian kotoran hewan, dan tiga bagian sekam bakar. Benih padi ditanam langsung ke polibag melalui metode tanam benih langsung (tabela). Selama 20 hari pertama, tanaman dipelihara di darat.
Baca juga : Esa Unggul Latih Warga Kebagusan Gunakan Pekarangan untuk Ketahanan Pangan
Memasuki umur 21 hari, polibag dipindahkan ke dalam kolam terpal yang sebelumnya telah disiapkan dengan rendaman rumput selama tiga hingga tujuh hari.
Di dalam kolam, tanaman padi dan ikan lele tumbuh secara bersamaan. Ketinggian air dipertahankan sekitar 25-35 sentimeter, sementara polibag ditempatkan pada rakit bambu atau penyangga agar tersedia ruang bagi ikan untuk bergerak di bawahnya.
Yayan menjelaskan, sistem tersebut memungkinkan proses tanam dan panen berlangsung secara bergantian. Ketika tanaman padi memasuki masa pemindahan kembali ke darat, bibit padi berikutnya sudah disiapkan sehingga siklus produksi dapat terus berjalan.
Baca juga : Kementan Dorong Pengembangan Pertanian Organik
"Kenapa disebut IP-500, karena sistemnya dirancang untuk memungkinkan lima kali panen padi dan lima kali panen ikan dalam satu tahun. Kuncinya ada pada pengaturan siklus dan penerapan Biosaka," jelasnya.
Ia menyebutkan, lele dipilih karena memiliki pertumbuhan relatif cepat dan daya tahan yang baik dibandingkan sejumlah jenis ikan lainnya. Untuk ukuran kolam 10 x 10 meter, kapasitas dasar penebaran ikan mencapai sekitar 100 ekor per meter persegi, dengan penyesuaian terhadap ruang yang tersedia di dalam kolam.
Menurut Yayan, keberhasilan sistem tersebut juga bergantung pada penerapan lima komponen utama yang disebut sebagai rumus 5+1, yakni Biosaka Basic, rendaman rumput, parfum urin sebagai pengusir hama, nutrisi fase generatif atau MKP ala Biosaka, serta Biosaka Jilid 3 untuk mengolah kotoran hewan menjadi pupuk organik.
Baca juga : Mentan Beri Penghargaan Ke Penggagas Elisitor Biosaka
Yayan menegaskan, pendekatan tersebut dirancang agar masyarakat dapat menjalankan budidaya dengan memanfaatkan bahan-bahan yang tersedia di lingkungan sekitar, sehingga ketergantungan terhadap produk kimia dan biaya produksi dapat ditekan.
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.