BREAKING NEWS
 

Guru Besar Dukung Menteri Bahlil Jaga Ketahanan Energi Lewat B50 Dan E20

Reporter : BOY SAKTI HAPSORO
Editor : FAQIH MUBAROK
Kamis, 5 November 2026 15:05 WIB
Menteri Koordinator Hilirisasi dan Transisi Energi/Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia. Foto: Dwi Pambudo/RM

RM.id  Rakyat Merdeka - Sejumlah guru besar di Tanah Air mendukung langkah Menteri Koordinator Hilirisasi dan Transisi Energi/Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia yang mendorong pengembangan biodiesel B50 dan bioetanol E20 hingga E50.

Kebijakan tersebut dinilai strategis untuk mengurangi ketergantungan Indonesia terhadap impor bahan bakar minyak (BBM) sekaligus memperkuat kemandirian energi nasional.

Guru Besar Institut Teknologi Bandung (ITB), Prof. Bonar Tua Halomoan Marbun, menilai pengembangan bahan bakar nabati merupakan langkah positif untuk mengurangi ketergantungan terhadap pasokan energi dari luar negeri.

"Secara konsep teori dasar, strategi pemerintah untuk menjaga ketahanan energi dan meminimalisasi impor sangat mulia dan patut dipuji," kata Bonar, Kamis (5/11/2026).

Guru besar Kelompok Keahlian Teknik Pengeboran, Produksi, dan Manajemen Migas (TPPM), Fakultas Teknik Pertambangan dan Perminyakan (FTTM) ITB itu menjelaskan, program B50 memanfaatkan campuran 50 persen Fatty Acid Methyl Ester (FAME) berbasis kelapa sawit dan 50 persen solar.

Dengan memanfaatkan produksi sawit dan solar dalam negeri, Indonesia berpeluang mengurangi kebutuhan impor solar jadi.

"Indonesia tidak lagi impor BBM jenis solar. Dengan hanya melihat bahan jadinya saja, Indonesia sudah tidak lagi mengimpor solar dari luar dan mampu mandiri," ujarnya.

Baca juga : JRBM Raih Apresiasi ESDM Berkat Program Regenerasi Petani Kakao

Meski demikian, Bonar mengingatkan pentingnya memperkuat industri pendukung agar implementasi B50 berjalan optimal. Dia memperkirakan kebutuhan metanol untuk produksi biodiesel B50 mencapai 2,5 juta ton per tahun.

Sementara kapasitas produksi dalam negeri baru sekitar 600 ribu ton. Kesenjangan tersebut menunjukkan perlunya peningkatan kapasitas industri metanol nasional. Jangan sampai upaya mengurangi impor solar justru memunculkan ketergantungan baru terhadap impor bahan baku.

Selain itu, kesiapan infrastruktur penyimpanan dan distribusi bahan bakar nabati, khususnya di luar Pulau Jawa, juga perlu diperhatikan.

"Karakteristik biodiesel yang mudah menyerap kelembapan membutuhkan fasilitas penyimpanan khusus dan proses pencampuran yang presisi. Sementara pengembangan E20 hingga E50 perlu mempertimbangkan kompatibilitas mesin kendaraan, standar mutu bahan bakar, serta keberlanjutan pasokan bioetanol," jelasnya.

Senada, pakar ekonomi sekaligus Guru Besar Universitas Ciputra Surabaya, Prof. Dr. Murpin Josua Sembiring, menilai pengembangan B50 dan E20 hingga E50 merupakan langkah diversifikasi energi yang layak didukung.

Menurut Murpin, pengembangan bioetanol dapat mengurangi kerentanan Indonesia terhadap risiko impor energi dan ketidakpastian geopolitik global. Namun, pemerintah harus memastikan kebijakan tersebut ditopang kesiapan teknologi, industri, serta pasokan bahan baku domestik.

Adsense

Dia menjelaskan, program B50 dan E20 hingga E50 memiliki sasaran berbeda, tetapi saling melengkapi dalam mengurangi konsumsi bahan bakar fosil. B50 diarahkan untuk menggantikan sebagian penggunaan solar, sedangkan E20 hingga E50 menyasar konsumsi bensin.

Baca juga : Cegah Kebocoran Margin Dagang, DEN Dukung Bahlil Tertibkan Ekspor SDA

"Sinerginya masuk akal, tetapi harus diuji holistik terhadap harga minyak, harga sawit, cuaca ekstrem, pasokan bahan baku, dan kebutuhan subsidi," kata Murpin.

Menurutnya, pengembangan bioetanol juga berpotensi menciptakan sumber pertumbuhan ekonomi baru melalui peningkatan aktivitas pertanian, industri pengolahan, serta penciptaan lapangan kerja di pedesaan.

Namun, manfaat ekonomi tersebut harus benar-benar dirasakan petani. Caranya melalui kontrak pembelian yang adil, transparansi harga, akses pembiayaan, serta keterlibatan petani dalam rantai nilai industri.

"Petani harus menjadi pemenang, bukan pemasok murah," tegasnya.

Murpin menambahkan, keberhasilan kebijakan E20 hingga E50 juga harus diukur dari manfaat ekonomi yang nyata, terutama penurunan impor bensin dan penghematan devisa negara. Perhitungan tersebut perlu mempertimbangkan biaya produksi etanol, investasi infrastruktur, subsidi, logistik, hingga dampaknya terhadap anggaran negara.

Dengan begitu, pengembangan bahan bakar nabati tidak hanya memperkuat ketahanan energi, tetapi juga memberikan keuntungan ekonomi yang terukur. Lebih jauh, dia menegaskan, keberhasilan strategi kemandirian energi tidak cukup diukur dari besarnya target pengembangan bahan bakar nabati maupun pembangunan infrastruktur.

Kebijakan tersebut harus menghasilkan manfaat konkret berupa penurunan impor, peningkatan kesejahteraan petani, harga energi yang terjangkau, serta penguatan industri dalam negeri.

Baca juga : Pakar: Kebijakan Bahlil Tertibkan Ekspor SDA Dongkrak Penerimaan Negara

"Ukuran keberhasilan bukan seremoni expose proyek, melainkan impor turun, petani sejahtera, harga terjangkau, industri tangguh, dan APBN terlindungi," pungkasnya.

Sebelumnya, Menteri ESDM Bahlil Lahadalia mengatakan pemerintah telah menyiapkan rencana strategis pengembangan bioetanol secara bertahap, mulai dari E20 hingga E50. Hal tersebut disampaikan Bahlil dalam rapat terbatas bersama Presiden Prabowo Subianto di Istana Merdeka, Jakarta, Selasa (3/11/2026).

Pengembangan program tersebut akan dilakukan melalui kolaborasi lintas kementerian, khususnya Kementerian ESDM dan Kementerian Pertanian, untuk memastikan kesiapan bahan baku dari sektor hulu.

"E20 sampai dengan E50 dan kami sudah menyiapkan renstranya. Saya dengan Pak Mentan, karena hulunya itu adalah kolaborasi antara Pak Mentan dengan ESDM," ujar Bahlil.

Di sisi lain, Bahlil memastikan implementasi program mandatori biodiesel B50 tetap berlanjut.

Kebijakan ini menjadi bagian dari strategi pemerintah untuk memperkuat pemanfaatan sumber energi domestik, mengurangi ketergantungan terhadap impor bahan bakar fosil, serta meningkatkan nilai tambah sumber daya nasional.

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Tags :

Berita Lainnya
 

TERPOPULER

Adsense