Sebelumnya
Salah satu strategi yang bisa dilakukan, kata Yuris, dengan menggandeng off-taker untuk pembiayaan Kredit usaha Rakyat (KUR). Seperti halnya yang dilaksanakan di Solo pada Senin (14/2), Kementan memfasilitasi MoU antara Perbankan Himbara dengan pihak perusahaan off-taker. Ini sebagai langkah pemenuhan target pengembangan kedelai dengan dana KUR tahun 2022.
Lahan pertanaman kedelai ini tersebar di berbagai wilayah di Indonesia. Lahan tersebut berada di Provinsi Sulawesi Selatan, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), Jawa Tengah, Jawa Barat, Jawa Timur, Nusa Tenggara Barat, Kalimantan Selatan, Lampung, Jambi, dan Banten.
Baca juga : Harga Kedelai Naik, Syarief Dorong Kebijakan Kemandirian Pangan
“Kita akan tanam di sentra yang sudah ada. Kita harapkan produktivitas bisa ditingkatkan, selama ini kuncinya ada di ketersediaan benih. Dengan pengawalan ketat akan dilakukan tanam di lahan kering, sebagian tumpang sisip dengan jagung, tebu dan kelapa sawit sebelum 4 tahun,” jelas Yuris.
Pakar Pangan dari Universitas Brawijaya, Sujarwo, mendukung upaya Kementan dalam meningkatkan produksi lokal untuk memenuhi kebutuhan pasar nasional. Terutama yang berkaitan dengan optimalisasi perwilayahan komoditas kedelai dan supporting sistemnya. “Saya berharap hal ini menjadi real sebagai buah dari semakin baiknya kelembagaan petani,” ujar Sujarwo.
Baca juga : Kelangkaan Minyak Goreng Dan Kedelai Jangan Berlarut-larut
Meski demikian, Sujarwo menilai perlu ada analisis yang presisi terkait lahan dan juga pasarnya. Jangan sampai pasar kedelai tidak dijaga, sehingga nantinya akan memiliki efek terhadap ketidakpastian harga yang tinggi.
“Dalam hal ini, petani kedelai butuh bantuan pemerintah untuk mengawal produksinya dan membutuhkan lembaga penelitian untuk menghasilkan varietas yang lebih cocok adaptif dengan iklim tropis. Terutama untuk meningkatkan produktivitasnya,” katanya.
Baca juga : Mantan Kabais: Usia Pensiun Militer Nggak Bisa Disamakan Dengan Polri
Sebelumnya, Direktur Jenderal Perdagangan Dalam Negeri Kemendag Oke Nurwan mengatakan harga tahu dan tempe di dalam negeri mengalami kenaikan akibat melonjaknya harga kedelai di tingkat internasional. “Kondisi kedelai di dunia saat ini terjadi gangguan suplai,” katanya.
Oke mengatakan, Brasil terjadi penurunan produksi kedelai, di mana awalnya diprediksi mampu memproduksi 140 juta ton pada Januari, menurun menjadi 125 juta ton. Penurunan produksi ini berdampak pada kenaikan harga kedelai dunia. Penyebab lainnya yakni inflasi di Amerika Serikat yang mencapai 7 persen, yang berdampak pada kenaikan harga daripada input produk kedelai. [KAL]
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.