RM.id Rakyat Merdeka - Ketua MPR periode 2019-2024 Bambang Soesatyo (Bamsoet) mengingatkan, salah satu ancaman bangsa Indonesia adalah demoralisasi generasi muda bangsa. Hal ini tercermin dari memudarnya Pancasila sebagai ideologi bangsa di kalangan muda.
Merujuk pada hasil survei yang dirilis Setara Institute dan Forum on Indonesian Development (INFID) pada 17 Mei 2023, 83,3 persen pelajar SMA berpandangan bahwa Pancasila adalah ideologi yang tidak permanen atau dapat digantikan. Bamsoet menegaskan, survei ini harus disikapi dengan serius. Terlebih, temuan ini kontras dengan hasil beberapa survei sebelumnya.
Survei SMRC pada Juni 2022 menyatakan, 82 persen masyarakat menganggap Pancasila sebagai ideologi negara tidak boleh diubah. "Sementara, hasil survei Pusat Studi Kebangsaan Indonesia dan Litbang KOMPAS pada Januari 2023 mengungkap bahwa 86,1 persen mahasiswa tidak setuju jika Pancasila diganti," ujar Bamsoet, usai mengikuti Upacara Peringatan Hari Kesaktian Pancasila di Monumen Pancasila Sakti, Jakarta Timur, Selasa (1/10/2024).
Baca juga : Mendikbudristek Ingatkan Pentingnya Pendidikan Karakter
Hadir sebagai Inspektur Upacara Presiden Jokowi. Bamsoet bertugas membacakan teks Pancasila, Ketua DPD periode 2019-2024 La Nyalla Mattalitti membacakan naskah Pembukaan UUD 1945, lalu Ketua DPR periode 2019-2024 Puan Maharani melakukan penandatanganan dan pembacaan ikrar, dan Menteri Agama Yaqut Cholil Qoumas membacakan doa.
Hadir pula Presiden Terpilih Prabowo Subianto, Panglima TNI Jenderal Agus Subiyanto, Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo, Menko Polhukam Hadi Tjahjanto, Menko Perekonomian Airlangga Hartarto, Menteri PPN/Kepala Bapenas Suharso Monoarfa, Menkes Budi Gunadi Sadikin, Menkominfo Budi Arie Setiadi, Mensos Saifullah Yusuf, Menteri ATR/BPN Agus Harimurti Yudhoyono, Menteri Kelautan dan Perikanan Sakti Wahyu Trenggono, Menhub Budi Karya Sumadi, Mensesneg Pratikno, Menteri Investasi Rosan Roeslani serta Kepala BIN Budi Gunawan.
Bamsoet menjelaskan, permasalahan lain yang terus menggelayuti generasi muda adalah maraknya keterlibatan generasi muda dalam berbagai aksi kriminalitas, anarkisme dan vandalisme, perilaku seks bebas, hingga penyalahgunaan narkoba. Berdasarkan data Badan Narkotika Nasional (BNN), selama periode 2022-2023 ditemukan sekitar 4,8 juta penduduk usia produktif yang tercatat sebagai pengguna narkoba.
Baca juga : Hadiri Harmony of Tradition, Bamsoet Dorong Peningkatan Kerja Sama Indonesia-Saudi
"Berbagai fenomena yang ada tersebut setidaknya mengisyaratkan dua hal penting. Pertama, proses internalisasi Pancasila, belum sepenuhnya menjangkau generasi muda bangsa. Kedua, persepsi dan sikap generasi muda terhadap ideologi negara bersifat dinamis, sehingga perlu untuk terus dibangun dan dikembangkan," kata Bamsoet.
Wakil Ketua Umum Pemuda Pancasila ini menegaskan, salah satu cara menguatkan kembali nilai-nilai Pancasila adalah melalui implementasi pada berbagai bidang, khususnya pendidikan. Pembukaan UUD NRI Tahun 1945 menyatakan bahwa salah satu tujuan negara Republik Indonesia adalah mencerdaskan kehidupan bangsa. Karena itu, setiap warga negara tanpa memandang status sosial, ras, etnis, agama, dan gender berhak memperoleh pendidikan yang bermutu, termasuk pendidikan Pancasila.
Bamsoet menekankan, implementasi Pancasila dalam dunia pendidikan harus dengan menjadikan Pancasila sebagai sistem nilai. "Bukan sekadar bahan untuk dihafal atau dimengerti saja, tetapi juga perlu diterima dan dihayati, dipraktikkan sebagai kebiasaan, bahkan dijadikan sifat yang menetap pada setiap diri warga negara Indonesia," pungkas Bamsoet.
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.