RM.id Rakyat Merdeka - Harga pangan jelang Ramadan dan Idulfitri diperkirakan melonjak imbas kenaikan Harga Pembelian Pemerintah (HPP) untuk gabah kering panen sebesar Rp 6.500 per kilogram.
Anggota Komisi VI DPR Herman Khaeron mengatakan, pihaknya tengah mencermati potensi lonjakan harga beras jelang Ramadan ini. Hal ini setelah adanya Instruksi Presiden (Inpres) yang mewajibkan setiap penggilingan padi membeli gabah petani seharga Rp 6.500 per kilogram.
Menurutnya, harga ekonomis gabah kering panen Rp 6.500 per kilogram ini ketika diolah menjadi beras medium akan menjadi Rp 12.500 per kilogram. Sementara Harga Eceran Tertinggi (HET) beras di tingkat konsumen sebesar Rp 12.500 per kilogram.
Baca juga : Hibank Target Satu Juta Nasabah Baru
“Nah ini akan mempengaruhi tingkat harga, karena pasti pedagang beras akan mendorong kualitas beras ke beras premium. Kalau (gabah petani) ini didorong ke kategori beras premium, maka yang akan terjadi adalah ada peningkatan harga di pasar,” kata Herman saat menghadiri diskusi di Parlemen, belum lama ini.
Komisi VI DPR, lanjutnya, mengingatkan Kementerian Perdagangan agar beras medium ini betul-betul dicukupi pada wilayah-wilayah yang terindikasi akan terjadi permintaan cukup tinggi.
“Belum lagi minyak. Minyak kita kemarin ada sedikit persoalan, bahkan ada pemalsuan. Ada memalsukan hak merk dagang ‘Minyakita, yang memang minyak itu adalah minyak yang disubsidi,” sambungnya.
Baca juga : Rupiah Perkasa, Ekonomi Nasional Tahan Banting
Dia meyakini, kalau harga beras, minyak, gula, kemudian suplai gas juga terjamin, maka yang akan terjadi adalah stabilitas harga. Walau demikian, persoalan pangan ini tidak bisa hanya dilihat dari sisi harga dan pasokan saja.
Dia lalu mengungkap peribahasa di kampung yang menyatakan, kalau hari lebaran harganya naik itu biasa saja. Biasa dalam arti masih dalam tahap psikologis. Akan tetapi kalau kemudian sudah di luar nalar, maka problemnya bisa saja dari aspek distribusi, baik dalam hal ketersediaan atau produksi, atau aspek lainnya.
“Bisa saja terjadi pemanfaatan, biasanya para spekulan bermain dalam event-event tertentu. Momentum tertentu yang ini harus kita dijaga bersama. Undang-undangnya sudah cukup kuat untuk menindak pada pelanggar aturan sistem perdagangan,” ungkapnya.
Selanjutnya
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.