RM.id Rakyat Merdeka - Ketua Komisi I DPR RI, Drs. Utut Adianto, melalui Staf Khusus-nya Assoc. Prof. Riyanto menegaskan bahwa literasi keuangan adalah kecakapan hidup yang tidak bisa lagi dianggap remeh. Baginya, ini bukan sekadar kemampuan menghitung uang.
“Ini tentang memahami nilai uang, mengelola risiko, dan mengambil keputusan cerdas demi masa depan yang lebih aman secara finansial,” ujar Riyanto di acara Webinar Nasional bertema "Literasi Keuangan" yang digelar Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) dan Komisi I DPR-RI, Jumat (25/4/2025).
Riyanto mengatakan, literasi keuangan merupakan pilar penting dalam membangun kemandirian ekonomi di tengah kompleksitas zaman. Pesannya, generasi muda, khususnya mahasiswa harus siap menghadapi realitas ekonomi yang terus berubah.
Baca juga : Pengelolaan Zakat Profesional Ciptakan Kepercayaan Publik dan Gerakkan Ekonomi
“Kemampuan mengelola keuangan pribadi kini menjadi salah satu penentu keberhasilan di dunia pascakampus. Kami berharap, dari forum ini lahir kesadaran kolektif akan pentingnya literasi keuangan. Ini bukan semata urusan ekonomi, tapi juga soal masa depan bangsa,” pungkasnya.
Sementara, pegiat literasi digital Drs. Gun Gun Siswadi mengupas bagaimana keuangan digital atau fintech telah mengubah wajah transaksi finansial.
Teknologi, membuat akses pendanaan dan transaksi jadi lebih praktis, namun juga membuka celah bagi kejahatan siber dan perilaku konsumtif.
Baca juga : Regulasi Ojol Tumpang Tindih, Pakar: Paling Tepat di Kementerian UMKM
“Inovasi ini harus diimbangi dengan kesadaran. Cybercrime, ketergantungan pada jaringan, dan gaya hidup boros jadi risiko nyata yang mengintai,” kata Gun Gun.
Kemudian, Dosen STIE Jayakarta, Saprudin menyoroti pentingnya pengelolaan keuangan sejak dini. Ia menekankan pentingnya anggaran, tabungan, investasi, serta pemahaman risiko dan utang sebagai dasar keuangan sehat.
“Banyak orang terjebak utang bukan karena kurang uang, tapi karena salah kelola. Literasi keuangan adalah cara kita menyelamatkan diri dari jebakan itu,” ujar Saprudin.
Baca juga : Delegasi ZEEA Zanzibar Lakukan Benchmarking Pemberdayaan Ekonomi Di PNM
Ia juga memberikan tips praktis, seperti menerapkan aturan keuangan 50/30/20 dan memiliki dana darurat, serta menghindari skema investasi bodong dengan selalu memverifikasi legalitas lembaga keuangan.
Diketahui, acara ini dihadiri dari 70 persen mahasiswa, 20 persen dosen dan tenaga pengajar, serta 10 persen masyarakat umum.
Webinar ini terselenggara atas kerja sama antara Komisi I DPR RI, Ditjen Komunikasi Publik dan Media Kemkomdigi, serta STIE STMIK Jayakarta.
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.