RM.id Rakyat Merdeka - Wakil Ketua DPD RI Gusti Kanjeng Ratu Hemas, mengingatkan generasi muda agar tidak terlena dengan pesatnya perkembangan kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI).
Di hadapan para peserta National Leadership Camp Rumah Kepemimpinan 2026 yang diselenggarakan di Auditorium Vokasi Universitas Indonesia, Sabtu (20/6/2026), Hemas menegaskan bahwa AI menyimpan potensi bahaya apabila tidak diimbangi karakter, integritas, dan identitas kebangsaan yang kuat.
Menurut Hemas, perkembangan AI akan berlangsung jauh lebih cepat dalam beberapa tahun ke depan sehingga generasi muda harus memiliki daya tahan moral agar tidak mudah terpengaruh berbagai bentuk rekayasa informasi yang dihasilkan teknologi tersebut.
"AI perkembangannya akan lebih cepat. Dua sampai tiga tahun lagi akan ada sesuatu yang baru yang berkaitan dengan AI. Itu harus diwaspadai. Kalau kita sendiri tidak kuat, berbagai rekayasa itu akan memengaruhi anak-anak muda kita," kata Hemas usai menghadiri kegiatan tersebut.
Ia menilai dampak kemajuan teknologi sudah terlihat melalui media sosial yang memengaruhi cara berkomunikasi generasi muda. Hemas mengaku prihatin karena mulai memudarnya sikap saling menghormati dalam kehidupan sehari-hari akibat derasnya pengaruh budaya global.
Wakil Ketua DPD bidang otonomi daerah, politik dan hukum ini lalu menyoroti dampak fenomena memprihatinkan di mana generasi muda sudah mulai kehilangan tata krama dan rasa hormat akibat gempuran media sosial dan budaya global yang tidak terbendung.
Baca juga : Koeman Percaya Diri Belanda Bisa Bangkit
"Sekarang contoh, kalau sudah ada YouTube, di sosmed, itu anak-anak muda kan sudah tidak terkendali jawaban-jawabannya. Ini yang saya lihat memprihatinkan. Sangat memprihatinkan. Tidak ada lagi rasa hormat," ujarnya.
Meski demikian, Hemas menegaskan generasi muda tidak boleh menolak kemajuan teknologi. Sebaliknya, mereka harus mampu mengikuti perkembangan zaman tanpa kehilangan jati diri sebagai bangsa Indonesia.
"Kita harus terus maju mengikuti zamannya, tetapi tetap memegang teguh budaya sendiri. Itu yang menjadi kekuatan manusia Indonesia," ujarnya.
Disinggung soal perlu tidaknya pendidikan AI dimasukkan ke dalam kurikulum sekolah, dia memilih hati-hati. "Jangan dulu. Kalau itu jangan dulu," jawabnya.
Sementara itu dalam pidatonya bertajuk "Membangun Identitas Kepemimpinan Bangsa Melalui Nilai-Nilai Kebudayaan", Hemas menyebut tantangan terbesar bangsa saat ini bukan hanya persoalan ekonomi maupun teknologi, melainkan krisis identitas di tengah arus globalisasi yang semakin kuat.
Dia mengingatkan bahwa generasi muda kini hidup pada masa yang jauh lebih kompleks dibanding generasi sebelumnya. Perkembangan teknologi digital, AI, arus informasi global hingga perubahan geopolitik menghadirkan peluang sekaligus ketidakpastian yang belum pernah terjadi sebelumnya.
Baca juga : Peruri Ungkap 5 Kompetensi Wajib Dimiliki Talenta Muda di Era AI
Menurut Hemas, persoalan mendasar bukan lagi sekadar bagaimana menjadi sukses, melainkan bagaimana tetap menjadi diri sendiri di tengah perubahan dunia yang sangat cepat.
"Kita menyaksikan anak muda semakin akrab dengan budaya global, tetapi berisiko semakin jauh dari akar budayanya sendiri. Ketika ukuran keberhasilan hanya ditentukan popularitas, kekayaan, dan pengakuan sosial, sementara nilai kebangsaan semakin tersisih, sesungguhnya kita sedang menghadapi krisis identitas," tegasnya.
Hemas menekankan bahwa kebudayaan tidak boleh dipahami sebatas kesenian, pakaian adat, atau tarian tradisional. Menurutnya, kebudayaan merupakan fondasi nilai yang membentuk karakter bangsa sekaligus menjadi dasar lahirnya kepemimpinan yang berintegritas.
Dia juga mengingatkan bahwa kemajuan teknologi tidak akan pernah mampu menggantikan karakter manusia. Kata dia, teknologi mampu mengolah data dan membantu mengambil keputusan. Namun teknologi tidak memiliki nurani dan tanggung jawab moral.
Karena itu, masa depan bukan ditentukan oleh siapa yang paling menguasai teknologi, tetapi siapa yang mampu menggunakannya untuk kemaslahatan manusia.
Dalam kesempatan tersebut, Hemas mengajak para peserta mempersiapkan diri menjadi pemimpin masa depan yang mampu menggabungkan kecerdasan, integritas, kepedulian, keberanian, serta kecintaan terhadap sejarah dan budaya bangsa.
Baca juga : IKA BEM Nusantara Bertemu Gibran, Bahas Kepemimpinan Generasi Muda
Dia berharap dari peserta National Leadership Camp Rumah Kepemimpinan 2026 ini akan lahir pemimpin nasional termasuk melahirkan kandidat tokoh Presiden Republik Indonesia di masa mendatang.
"Kalau bisa, salah satu peserta hari ini kelak menjadi Presiden Indonesia. Semua anak muda harus punya cita-cita setinggi mungkin. Yang penting memiliki integritas, kejujuran, dan moral yang baik," katanya.
Di akhir pidatonya, Hemas mengingatkan bahwa Indonesia Emas 2045 tidak akan tercapai hanya dengan bonus demografi, kemajuan ekonomi, maupun penguasaan teknologi. Menurutnya, masa depan Indonesia sangat ditentukan oleh karakter para pemimpinnya.
"Jadilah pemimpin yang mengenal akar budayanya tetapi terbuka terhadap perkembangan dunia. Mampu bersaing secara global tanpa kehilangan jati diri sebagai bangsa Indonesia. Kepemimpinan pada hakikatnya adalah pengabdian, keberanian mengambil tanggung jawab, dan kesediaan memberikan manfaat sebesar-besarnya bagi sesama," pungkasnya.
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.