RM.id Rakyat Merdeka - Anggota DPR RI Fraksi Gerindra Azis Subekti mengingatkan bahwa Indonesia tidak boleh cepat puas hanya karena banyak nota kesepahaman atau MoU investasi diteken dengan negara mitra.
Menurutnya, ukuran keberhasilan bukan terletak pada seremoni penandatanganan, melainkan pada realisasi di lapangan.
Azis mengatakan, dalam beberapa tahun terakhir Indonesia memang berhasil menarik perhatian banyak negara. Amerika Serikat, Jepang, Tiongkok, Prancis, Uni Emirat Arab, Arab Saudi, Korea Selatan, Australia, Singapura, Rusia, Brasil, India, dan sejumlah negara lain terus memperluas kerja sama dengan Indonesia.
Nilai komitmen investasi yang diumumkan bahkan disebut mendekati 175 miliar dolar AS. Namun, Azis menegaskan angka besar itu belum otomatis menjadi keberhasilan ekonomi.
Baca juga : Ciptakan 1,3 Juta Lapangan Kerja, Gerindra Tolak MBG Dihentikan
“Setiap kali kunjungan luar negeri menghasilkan MoU bernilai besar, kita sering langsung menyebutnya sukses. Padahal investor belum tentu mengeluarkan satu dolar pun. Pabrik belum berdiri. Lapangan kerja belum tercipta,” kata Azis dalam keterangannya, Rabu (1/7/2026).
Menurut Azis, Indonesia harus jujur melihat persoalan utama investasi, yaitu lambatnya realisasi. Banyak kesepakatan yang diumumkan dengan optimisme, tetapi membutuhkan waktu panjang untuk benar-benar berjalan.
Dia menyebut, persoalan klasik yang kerap menghambat investasi antara lain perizinan, tata ruang, koordinasi lintas lembaga, kepastian regulasi, dan pembebasan lahan.
Bagi investor, hambatan seperti itu bukan sekadar urusan administrasi, melainkan risiko nyata. “Investor tidak takut pada risiko. Mereka takut pada ketidakpastian. Risiko bisa dihitung, ketidakpastian tidak bisa dihitung,” ujarnya.
Baca juga : Azis Subekti Minta Pemerintah Jaga Harga Kebutuhan Pokok
Azis menilai Indonesia harus belajar dari negara-negara yang berhasil mengubah investasi menjadi kekuatan ekonomi. Korea Selatan, misalnya, tidak hanya menghitung berapa banyak kesepakatan yang diteken, tetapi berapa pabrik yang berdiri, berapa ekspor yang meningkat, dan berapa teknologi yang ditransfer.
Tiongkok juga dinilai berhasil karena negara hadir sebagai pemecah masalah. Ketika investor datang, lahan, listrik, pelabuhan, jalan, dan tenaga kerja disiapkan secara serius. Azis menegaskan, Indonesia punya semua syarat untuk menjadi negara besar.
Modal ada, mitra ada, sumber daya ada, dan pasar domestik besar. Namun semua itu tidak akan cukup jika negara tidak mampu mengorkestrasi eksekusi.
“Bangsa besar tidak dibedakan oleh banyaknya peluang, tetapi oleh kemampuan mengubah peluang menjadi kenyataan,” kata Azis.
Baca juga : JICT Salurkan 44 Hewan Kurban Untuk Warga Pelabuhan Tanjung Priok
Dia berharap, Pemerintah tidak lagi menjadikan jumlah MoU sebagai ukuran utama keberhasilan. Menurutnya, yang harus dihitung adalah realisasi investasi, lapangan kerja, peningkatan ekspor, transfer teknologi, dan manfaat langsung bagi rakyat.
“Masa depan bangsa tidak ditentukan oleh jumlah MoU yang tersimpan di lemari arsip negara. Masa depan ditentukan oleh seberapa banyak MoU yang keluar dari lemari itu dan hidup dalam ekonomi rakyat,” pungkasnya.
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.