Dark/Light Mode
BREAKINGNEWS
- Perbaikan Selesai, Kondisi Jalan Lenteng Agung Sudah Normal dan Bisa Dilewati
- Persib Mulai Susun Persiapan Hadapi Musim 2026/2027
- OTT Pejabat Imigrasi Jakbar, KPK Sita Mobil, Valas, Hingga Emas
- Erling Haaland Bisa Bawa Norwegia Bersaing di Piala Dunia 2026
- Davide Ancelotti Latih Lille, Calvin Verdonk Hadapi Tantangan Baru
RM.id Rakyat Merdeka - Anggota DPR RI Fraksi Gerindra Azis Subekti, menilai tekanan terhadap nilai tukar rupiah harus dibaca secara jernih dan tidak semata-mata dilihat dari pergerakan kurs terhadap dolar Amerika Serikat (AS).
Menurut Azis, ukuran terpenting dari stabilitas ekonomi nasional bukan hanya kuat atau lemahnya nilai tukar, melainkan kemampuan negara menjaga harga kebutuhan pokok, daya beli masyarakat, dan keberlangsungan ekonomi rakyat.
“Nilai tukar rupiah tentu penting untuk dijaga. Tetapi bagi sebagian besar rakyat, yang paling mereka rasakan bukan angka kurs, melainkan harga beras, cabai, bawang, minyak goreng, ongkos angkutan, dan kebutuhan harian keluarga,” ujar Azis dalam keterangannya di Jakarta, Kamis (4/6/2026).
Azis mengatakan, pelemahan rupiah menjadi persoalan serius apabila dampaknya telah masuk ke dapur rakyat. Karena itu, Pemerintah perlu membangun pertahanan ekonomi yang tidak hanya bertumpu pada pasar keuangan, tetapi juga pada stabilisasi harga pangan dan kebutuhan pokok.
Ia mencontohkan data Badan Pusat Statistik (BPS) pada Mei 2026 yang menunjukkan inflasi tahunan Indonesia berada di level 3,08 persen. Angka tersebut, menurutnya, masih menunjukkan kondisi ekonomi yang relatif terkendali.
Baca juga : LPI: Rombak BGN Bukti Pemerintah Dengarkan Masukan Publik
Namun, Azis menyoroti, tekanan terbesar inflasi berasal dari kelompok makanan, minuman, dan tembakau yang mengalami inflasi 4,94 persen dengan andil 1,43 persen terhadap inflasi nasional.
“Artinya, hampir separuh tekanan inflasi nasional berasal dari kebutuhan dasar masyarakat. Ini menunjukkan bahwa medan pertempuran ekonomi kita bukan hanya di pasar valuta asing, tetapi juga di pasar rakyat,” kata Azis.
Dia juga menyoroti kenaikan sejumlah komoditas pangan pada Mei 2026, antara lain cabai merah, tomat, bawang merah, minyak goreng, serta mulai munculnya tekanan pada harga beras.
Menurut Azis, kenaikan harga komoditas pangan tidak selalu disebabkan oleh pelemahan rupiah. Sebagian besar persoalan justru berakar pada distribusi yang belum efisien, rantai pasok yang panjang, cuaca, biaya logistik tinggi, ketidaksinkronan produksi antardaerah, serta keterlambatan intervensi pasar.
“Karena itu, solusi ekonomi tidak boleh hanya dipikirkan dari ruang pasar uang, tetapi harus turun ke gudang pangan, sentra produksi, pasar induk, koperasi desa, pelabuhan, dan jalur distribusi,” tegasnya.
Baca juga : MTI Minta Pemerintah Perkuat Sistem Keselamatan Transportasi
Azis menilai, strategi menghadapi tekanan global harus dijalankan melalui dua lapis pertahanan. Pertahanan pertama dilakukan oleh Bank Indonesia dan otoritas keuangan untuk menjaga stabilitas nilai tukar dan kepercayaan pasar. Sementara pertahanan kedua harus dilakukan melalui stabilisasi harga kebutuhan pokok.
“Pertahanan kedua ini harus melibatkan Bulog, Badan Pangan Nasional, Kementerian Pertanian, Kementerian Perdagangan, pemerintah daerah, koperasi, BUMDes, hingga jaringan pasar rakyat,” ujarnya.
Azis juga menilai Indonesia dapat mengambil pelajaran dari negara lain, termasuk Malaysia, yang menghadapi tekanan fiskal dan harga energi dengan mempertajam sasaran subsidi serta mempersempit kebocoran.
Menurutnya, Indonesia perlu memastikan bahwa subsidi dan perlindungan sosial benar-benar diterima oleh kelompok yang membutuhkan, terutama petani, nelayan, pelaku UMKM, transportasi rakyat, dan masyarakat rentan.
“Dalam situasi tekanan global, setiap rupiah anggaran harus menghasilkan manfaat sosial yang optimal. Yang perlu dikurangi bukan perlindungan kepada rakyat kecil, melainkan kebocoran subsidi kepada kelompok yang tidak berhak,” kata Azis.
Baca juga : 9 WNI Pulang Selamat Dari Israel, Pemerintah Banjir Pujian Parpol
Dia menambahkan, Indonesia memiliki modal besar berupa pasar domestik lebih dari 280 juta jiwa, stok pangan nasional, jaringan Bulog, program Makan Bergizi Gratis, Koperasi Desa dan Kelurahan Merah Putih, serta ribuan pasar tradisional yang menjadi denyut utama ekonomi rakyat.
Apabila seluruh instrumen tersebut diorkestrasi secara terpadu, Azis meyakini tekanan ekonomi global justru dapat menjadi momentum memperkuat fondasi ekonomi nasional.
Selanjutnya
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
Tags :
Berita Lainnya