RM.id Rakyat Merdeka - Anggota Komisi IV DPR RI dari Fraksi PDI Perjuangan Sonny T. Danaparamita meminta pemerintah memperkuat sistem distribusi pangan nasional seiring dengan klaim keberhasilan swasembada pada sejumlah komoditas pangan.
Menurut Sonny, keberhasilan swasembada pangan tidak cukup diukur dari capaian produksi nasional. Ketersediaan pangan juga perlu diikuti dengan distribusi yang lancar agar pasokan dapat menjangkau seluruh daerah dan memberikan manfaat bagi masyarakat maupun petani.
Sonny menyampaikan hal tersebut menanggapi klaim pemerintah mengenai keberhasilan swasembada delapan komoditas pangan yang disampaikan Presiden Prabowo Subianto dalam Pidato Kenegaraan pada Sidang Tahunan MPR RI 2026.
Delapan komoditas tersebut yakni beras, jagung, gula konsumsi, ayam ras, telur ayam ras, cabai besar, cabai rawit dan bawang.
Sonny mengapresiasi peningkatan produksi pangan nasional. Namun, dia mengingatkan angka produksi secara agregat belum sepenuhnya menggambarkan kondisi pangan di setiap daerah.
“Capaian tersebut disampaikan oleh Presiden Prabowo Subiyanto dalam Pidato Kenegaraan pada Sidang Tahunan MPR RI Tahun 2026. Saya meminta agar para pembantu Presiden dalam melaporkan hasil kinerjanya bisa lebih obyektif dan komprehensif agar berbagai tantangan ke depan dapat disusun antisipasinya,” ujar Sonny dalam keterangan tertulis, Jumat (15/8/2026).
Dia menilai pemerintah perlu menggunakan data yang riil dan faktual dalam mengukur capaian swasembada pangan. Penggunaan angka proyeksi ketersediaan pangan, kata dia, perlu dibedakan dengan realisasi produksi di lapangan.
Baca juga : Bamsoet Apresiasi Capaian Kerja Prabowo: Dari Swasembada Pangan hingga Reformasi BUMN
Distribusi Jangan Terabaikan
Sonny mencontohkan produksi beras nasional yang mencapai 34,71 juta ton pada 2025. Capaian tersebut dinilai positif, tetapi tetap perlu dilihat dari sisi distribusi karena sentra produksi padi masih terkonsentrasi di sejumlah wilayah, terutama Pulau Jawa.
Kondisi tersebut dapat membuat daerah di luar sentra produksi menghadapi tantangan pasokan dan harga ketika distribusi mengalami gangguan.
Menurut Sonny, situasi serupa juga terjadi pada komoditas hortikultura. Produksi cabai dan bawang merah yang mencukupi kebutuhan nasional tidak otomatis menjamin petani mendapatkan harga yang baik jika distribusi hasil panen terkendala.
Ia menyoroti gangguan jalur logistik seperti antrean kendaraan di penyeberangan Ketapang-Gilimanuk yang dapat memperlambat pengiriman hasil pertanian.
“Lumpuhnya jalur distribusi logistik, seperti antrean berhari-hari di penyeberangan Ketapang-Gilimanuk, menyebabkan panen membusuk di jalan dan harganya anjlok,” katanya.
Karena itu, Sonny meminta pemerintah memperkuat rantai pasok pangan dari sentra produksi hingga konsumen. Infrastruktur distribusi dan pascapanen dinilai penting untuk menjaga kualitas hasil pertanian sekaligus mengurangi kerugian petani.
Baca juga : Sonny Danaparamita Perkuat Ketahanan Pangan Bersama LPPNU Banyuwangi
Perkuat Data Pangan
Selain distribusi, Sonny mendorong pemerintah memperbaiki tata kelola data pangan. Menurutnya, perbedaan definisi dan metode pencatatan antarlembaga perlu diselesaikan agar pemerintah memiliki satu rujukan dalam mengambil kebijakan.
Ia mengusulkan rekonsiliasi data antara Kementerian Pertanian, Badan Pangan Nasional, Badan Pusat Statistik, Bulog dan Kementerian Perdagangan.
“Jangan menjebak Presiden dengan laporan yang sekadar di atas kertas,” tegasnya.
Sonny juga meminta pemerintah tidak hanya berfokus pada komoditas yang sudah dinilai surplus. Komoditas yang masih memiliki ketergantungan impor tinggi, seperti bawang putih, kedelai dan daging sapi, juga perlu mendapatkan perhatian.
Di sektor peternakan, ia menilai penguatan produksi ayam dan telur perlu dibarengi dengan penguatan sektor hulu. Ketergantungan bahan baku pakan impor dinilai dapat membuat biaya produksi peternak rentan terhadap perubahan harga global dan nilai tukar rupiah.
“Beberapa waktu lalu kita semua menyaksikan bagaimana para peternak ayam petelur ramai-ramai membagikan ayamnya karena sudah tidak mampu lagi bertahan akibat harga pakan yang mahal namun harga jual telurnya murah,” ujarnya.
Baca juga : DPR: Usut, Beri Sanksi Tegas
Untuk mendukung ketahanan pangan, Sonny juga mendorong pembangunan fasilitas pascapanen seperti cold chain storage dan pusat pengeringan terpadu di sentra hortikultura.
Fasilitas tersebut diharapkan dapat mengurangi susut hasil panen, menjaga kualitas komoditas dan membantu menekan fluktuasi harga antarwilayah.
Menurut Sonny, ukuran keberhasilan swasembada pangan pada akhirnya bukan hanya jumlah produksi, tetapi juga kemampuan negara memastikan pangan tersedia, terjangkau dan memberikan kesejahteraan bagi petani.
“Kedaulatan pangan tidak diukur dari deretan angka surplus di dokumen kementerian, tetapi dari hadirnya negara dalam memastikan akses, keterjangkauan, dan kesejahteraan petani di lapangan,” pungkasnya.
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.