Dark/Light Mode
BREAKINGNEWS
- Kemenag Terbitkan 40 Buku Digital PAI untuk Siswa PAUD hingga Mahasiswa
- Investasi 6 Perusahaan TPT Berpotensi Ciptakan Hampir 10.000 Lapangan Kerja
- Bos Toyota: Solusi Atasi Krisis Iklim Bisa Dari Lingkungan Sekitar
- Transjakarta Gandeng APKI-PERDOKI, Perkuat Standar Kesehatan Pramudi
- Umuh Muchtar Optimistis Maung Bandung Makin Kuat
Dukung Swasembada Gula, Sonny Minta Pabrik Nakal Ditindak Tegas
Rabu, 5 Agustus 2026 19:41 WIB
RM.id Rakyat Merdeka - Anggota Komisi IV DPR Fraksi PDI Perjuangan Sonny T. Danaparamita mendukung target pemerintah mewujudkan swasembada gula nasional. Namun, ia mengingatkan upaya tersebut harus dibarengi reformasi menyeluruh dari hulu hingga hilir, termasuk memperkuat kemitraan dengan petani dan menindak tegas pabrik gula yang tidak menyerap hasil panen rakyat.
Sonny menilai kebijakan yang mewajibkan industri gula rafinasi memiliki kebun tebu sendiri perlu dikawal secara cermat. Menurutnya, di tengah keterbatasan lahan, pembukaan kebun baru secara besar-besaran berpotensi menimbulkan inefisiensi jika tidak diimbangi dengan penguatan kemitraan bersama petani.
"Kita sepakat dan mendukung penuh semangat kemandirian gula nasional. Namun, mewajibkan industri rafinasi membuka lahan baru secara masif bukanlah satu-satunya jalan. Pemerintah justru harus mengawal ketat aturan kemitraan yang sudah ada agar industri benar-benar turun ke bawah membina petani," kata Sonny di Jakarta, Rabu (5/8/2026).
Legislator dari Daerah Pemilihan Jawa Timur III yang meliputi Banyuwangi, Situbondo, dan Bondowoso itu menegaskan kesejahteraan petani harus menjadi prioritas dalam setiap kebijakan menuju swasembada gula.
Baca juga : Presiden Wajibkan Pabrik Gula Punya Kebun Tebu Sendiri, Ini Aturannya
Ia mendukung langkah pemerintah mengusut perusahaan atau pabrik gula yang menolak menyerap tebu petani dengan berbagai alasan, seperti kendala logistik maupun keterbatasan kontainer.
"Untuk urusan ini kita tidak boleh berkompromi. Kesejahteraan dan kepentingan petani adalah prioritas mutlak yang tidak boleh diabaikan oleh korporasi mana pun. Negara harus hadir dan menindak tegas pabrik-pabrik yang mencari alasan untuk menghindari kewajibannya menyerap tebu rakyat," tegasnya.
Sonny mengingatkan, sesuai regulasi yang berlaku, pabrik gula diwajibkan memenuhi 20 persen kebutuhan bahan baku dari kebun sendiri dan 80 persen dari kebun kemitraan masyarakat. Ketentuan tersebut harus ditegakkan agar tidak ada perusahaan yang hanya mengejar kuota impor gula mentah (raw sugar) tanpa membina petani.
Menurut dia, daerah penghasil tebu seperti Banyuwangi, Situbondo, dan Bondowoso memiliki potensi besar menjadi penopang swasembada gula nasional. Namun, industri harus menjalankan perannya sebagai mitra petani dengan memberikan pendampingan teknologi, membantu penyediaan pupuk, serta menjaga stabilitas harga tebu.
Baca juga : Refleksi 30 Tahun Kudatuli, Sonny Danaparamita Ajak Rawat Nilai Demokrasi
Selain memperkuat kemitraan, Sonny juga meminta pemerintah mempercepat revitalisasi pabrik gula yang dinilai sudah mendesak, terutama di Situbondo dan Bondowoso yang masih didominasi pabrik tua dengan tingkat rendemen rendah.
"Revitalisasi pabrik-pabrik ini harus masuk prioritas utama pemerintah. Sementara untuk fasilitas modern seperti PG Glenmore di Banyuwangi, tugas kita bersama adalah memastikan rantai pasok tebu dari petani lokal tetap aman dan terintegrasi," ujarnya.
Di sisi hilir, Sonny menilai pengawasan terhadap tata niaga gula impor harus diperketat. Ia meminta pemerintah memastikan larangan impor diberlakukan ketika pasokan gula dalam negeri mencukupi serta mencegah gula rafinasi impor masuk ke pasar konsumsi karena dapat menekan harga Gula Kristal Putih (GKP) hasil produksi petani.
Sebagai langkah antisipasi, Sonny juga mengingatkan pemerintah agar memperhatikan dampak transisi kebijakan terhadap industri. Menurutnya, investasi awal di sektor perkebunan dan masa adaptasi peningkatan produktivitas tebu berpotensi meningkatkan biaya produksi gula rafinasi. Jika tidak dimitigasi, kondisi tersebut dapat memicu kenaikan harga gula bagi industri makanan, minuman, dan farmasi.
Baca juga : Rajiv: Korupsi Pakan Satwa KBS Khianati Mandat Konservasi
"Peningkatan produktivitas petani, ketegasan menindak korporasi nakal, perlindungan dari kebocoran impor, dan mitigasi harga untuk industri lanjutan adalah satu kesatuan yang tidak terpisahkan. Jika semua ini dijalankan secara disiplin, target swasembada gula pasti akan tercapai dengan fondasi yang sangat kuat," pungkas Sonny.
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
Tags :
Berita Lainnya