BREAKING NEWS
 

Presiden Jokowi Menjelang Periode ke-2 (1)

Setelah Rampung di MK, Semua Akan Rangkulan…

Reporter & Editor :
RIKY HANDAYANI
Selasa, 25 Juni 2019 06:19 WIB
Megawati bersama elite PDIP silaturahmi ke Presiden Jokowi di Istana Merdeka, Senin (24/6). Foto ini diambil sendiri oleh Puan Maharani. Puan juga yang pajang di instagramnya. (Foto: IG @puanmaharaniri)

RM.id  Rakyat Merdeka - Jokowi tidak berubah. Gesturnya tetap cair, rileks dan apa adanya. Di saat situasi politik memanas. Di saat semua pihak sedang menunggu putusan Mahkamah Konstitusi (MK) soal gugatan Pilpres, air muka Jokowi kelihatan adem saja. Begitulah Presiden kita. Hampir lima tahun di Istana, sikapnya tetap rendah hati, sederhana, membumi. Orisinal. Khas Jokowi.

Tim Rakyat Merdeka bersilaturahmi dengan Jokowi di Istana Merdeka, Senin (17/6), selepas tengah hari. Tanpa protokoler yang rumit, Jokowi menerima dan menyambut kami dengan hangat. Hari itu, Presiden mengenakan pakaian kerjanya, kemeja putih dan sepatu kets hitam yang tidak terlihat mereknya. Satu demi satu disalami. Margiono, Kiki Iswara Darmayana, Ratna Susilowati, Riki Handayani, dan Randy Tri Kurniawan. Udara siang Jakarta sangat terik, tapi panasnya tidak sampai ke dalam Istana.

Di tempat pertemuan, suhunya malah terasa hangat. Pendingin ruangan rupanya sengaja tidak dinyalakan. “Tidak pakai AC, dibuka semua,” kata Jokowi, kepada kami, sambil tertawa. Tangannya menunjuk jendela-jendela bangunan Istana Merdeka yang dibuka lebar-lebar, di sekeliling ruangan. Selama 50 menit bertemu, yang diobrolkan cukup banyak dan seru.

Margiono, Dirut Rakyat Merdeka sempat menyinggung tentang aksi demonstrasi terkait hasil pemilihan presiden yang hari-hari itu belum mereda. Padahal, Prabowo sudah menyerukan pendukungnya agar tidak turun ke jalan, dan mengikuti jalur hukum di Mahkamah Konstitusi. “Ini seperti ada yang salah. Seolah Pak Prabowo pemimpin yang tidak diikuti oleh pendukungnya, atau memang ada bawahannya yang bersikap liar,” kata Margiono.

Baca juga : PUPR Kebut Permak Sekolah & Madrasah Rusak

Jokowi terdiam. Lalu bilang, “Ya itu mungkin faksi yang lain. Bukan faksinya Pak Prabowo. Dilihat saja nanti, kelihatan siapa. Pak Prabowo juga tahu, bukan kelompoknya. Dalam politik, itu (beda faksi) biasa. Tapi jangan sampai, perbedaan itu merusak negara dan merusak demokrasi,” katanya.

Jokowi menegaskan, “Kalau rakyat sudah berdaulat dan menggunakan haknya berkehendak, masa mau dirusak dengan cara anarkis. Kalau sampai seperti itu, ya harus tegas.” Menurut Presiden, situasi politik saat ini sebenarnya sudah normal kembali. Rakyat sudah rukun lagi. Bahkan melihat hasil survei, mayoritas masyarakat menerima hasil pemilihan umum.

Adsense

“Jadi, yang di bawah sudah berangkulan, jangan lagi diajak yang aneh-aneh. Masyarakat sudah pergi ke sawah lagi, nelayan sudah melaut lagi. Orang kantoran pun sudah ngantor lagi. Yang tidak benar itu sebagian elit politiknya, sering manas-manasi, sering ngompor-ngompori,” kata Presiden.

Setelah pertandingan, biasanya yang menang merangkul yang kalah. Bagaimana dalam politik? Menurut Presiden, komunikasi dengan ketua- ketua partai saat ini baik sekali. “Apalagi menang, kondisi koalisi makin solid. Kami sering bertemu, makan siang bareng. Tidak usah serius-seriuslah. Urusan berangkulan, nanti setelah di Mahkamah Konstitusi rampung,” jawabnya.

Baca juga : Mendag Periode Mendatang Harus Mau Dengar Masukan DPR

Jokowi menyebut Prabowo dan Sandiaga Uno sebagai sahabat baiknya. Sehingga pasti akan ketemu setelah sengketa pilpres di MK selesai. “Setelah rampung di MK, akan berangkulan semuanya. Ketemunya sambil naik kuda, bisa. Naik MRT juga bisa. Ketemu di Istana pun bisa,” papar Jokowi sambil tertawa.

Presiden menyatakan, demi kepentingan membangun bangsa dan negara menjadi lebih baik, dia sangat terbuka bekerjasama dengan siapapun dan pihak manapun. Mungkinkah semua partai diajak ikut di pemerintahan? Jokowi menjawab, “Dalam politik, situasi apa pun sangat mungkin terjadi. Di Pemerintahan bareng- bareng? Kenapa tidak?” katanya.

Tapi, Presiden menimpali, sekali lagi, untuk sehatnya demokrasi dan manajemen pemerintahan yang baik, bagusnya ada mekanisme check and balances. “Meskipun kita tidak mengenal oposisi murni, tapi jalannya pemerintahan harus ada yang mengawasi,” tambahnya.

Bagi Jokowi, kritik dan pengawasan itu penting. “DPR ngawasi, pers ngawasi dan oposisi mengritik. Silakan. Tidak apa-apa. Apalagi kalau kritiknya konstruktif, itu sangat baik,” katanya. Jokowi bilang, sudah terbiasa menerima kritik. Sekeras apa pun, tidak kaget. Dia sudah pengalaman. Sudah makan asam garam politik.

Baca juga : Meraih Bintang Jadi Meraih Kemenangan

Soal ikut pemilihan, sudah pengalaman berkali-kali dan menang terus. “Dua kali jadi walikota, dua putaran pilkada gubernur DKI, dua kali pilpres. Dan menang terus. Bukan sombong ini. Jadi saya biasa-biasa saja. Tidak ada kritikan yang mengagetkan,” kata Jokowi sambil tertawa. Bersambung

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Tags :

Berita Lainnya
 

TERPOPULER

Adsense