RM.id Rakyat Merdeka - Sebagai pemenang Pilgub Jakarta, pasangan Pramono Anung-Rano Karno atau si Doel punya kekurangan dalam dukungan politik.
PDIP sebagai parpol pengusung Pram-Doel hanya menguasai 14 persen kursi di DPRD Jakarta. Kecilnya dukungan politik ini, membuat Pram-Doel rawan "dikerjain" partai-partai dari Koalisi Indonesia Maju (KIM) Plus di Jakarta.
Namun, kekhawatiran ini ditepis Ketua DPP PDIP Djarot Saiful Hidayat. Menurutnya, Pram merupakan figur pemimpin yang bisa diterima semua kalangan. Apalagi, komunikasi politik Pram dengan elite-elite parpol selama ini terjalin baik.
"Mas Pram itu sosok yang luwes dan mudah diterima semua kalangan. Beliau berteman baik dengan semua pimpinan-pimpinan partai. Tak perlu ada yang dikhawatirkan," kata Djarot saat menjadi narasumber di Podcast Ngegas Rakyat Merdeka. Podcast ini dipandu wartawan Rakyat Merdeka Siswanto.
Sebagai mantan gubernur Jakarta, Djarot menilai, dinamika politik di DPRD Jakarta sangat cair. Tak ada dendam-dendaman karena karena telah kalah dalam Pilkada. Sehingga, berbagai program yang akan dijalankan Pram-Doel, tak mungkin bakal dijegal DPRD Jakarta.
"Saya yakin nggak ada masalah. Karena di dewan itu sistemnya kolektif kolegial. Jadi hubungan antar fraksi juga cair," tuturnya.
Lagipula, usai dinyatakan sebagai pemenang, Pram-Doel langsung menjalin komunikasi dengan KIM Plus. Sehingga yang dipikirkan saat ini adalah membangun Jakarta dan mensejahterakan warganya.
Baca juga : Anggaran Stunting Jangan Habis Untuk Studi Banding
Tak hanya dengan partai, Djarot optimis bahwa Jakarta dipimpin Pram, tidak ada masalah dengan pemerintah pusat. Menurutnya, hubungan Pram dengan Presiden Prabowo Subianto cukup baik.
"Mereka berdua kan sama-sama pernah berada di dalam kabinet. Jadi, hubungannya baik," tegasnya.
Eks Wali Kota Blitar ini lantas membantah, bila ada persepsi bahwa Gubernur Jakarta akan menjadi oposisi bagi Pemerintah Pusat. Menurutnya, membangun Jakarta harus bersinergi dengan Pemerintah Pusat, bahkan daerah di sekitarnya. Publik harus bisa membedakan pertarungan Pilpres dan Pilkada, begitu juga dengan sikap PDIP di pusat maupun daerah.
"Jangan berpikiran sempit. Kami oposisi, berada di luar pemerintahan, selalu melawan. Ya nggak gitu. Apalagi komunikasi Mas Pram dengan Pak Prabowo baik, nggak ada masalah," tegas Djarot.
Menurut Djarot, saat ini terlalu jauh mengaitkan Pilkada Jakarta dengan Pilpres 2029. Apalagi, kalau kemudian menarik kesimpulan bahwa Pram atau Doel akan disiapkan sebagai calon rival untuk Prabowo di Pilpres mendatang.
Djarot mengakui, selama 2 kali Pilpres, Jakarta sudah menjadi barometer politik nasional. Dua mantan gubernur Jakarta ; Jokowi dan Anies Baswedan, secara berturut-turut maju sebagai calon presiden.
"Sekarang aja, Mas Pram belum bekerja. Masa mau tariknya ke Pilpres. Kejauhan lah," tegas Djarot sambil tertawa.
Baca juga : KPU Digugat Anak Menteri
Kendati demikian, Djarot tak menampik bila semua partai, termasuk PDIP pasti telah menyiapkan jagonya untuk Pilpres 2029. Jangankan partai, kata dia, orang di luar partai juga sudah ada yang ancang-ancang buat persiapan Pilpres 2029.
"Pak Jokowi juga sudah menyiapkan. Dia punya kepentingan 2029. Makanya dia nyiapin juga, meski sudah dipecat partai," ungkap Djarot.
Ia mengatakan, banyak variabel untuk sukses di Pemilu 2029. Contohnya Pilkada yang memiliki ragam variasi dan dinamika tergantung daerahnya. Kondisi ini membuat PDIP terkadang harus berkoalisi dengan Golkar atau Gerindra, yang notabene menjadi partai terbesar kedua dan ketiga setelah PDIP.
Pada Pilkada Serentak 2024, Djarot menyebut PDIP telah menang sekitar 45-46 persen. Misalnya di Kalimantan Barat (Kalbar). Dari 13 kabupaten/kota di sana, PDIP menang di 11 wilayah, termasuk provinsi.
Djarot menegaskan, pada dasarnya kader PDIP merupakan seorang petarung. Semakin ditekan, maka perlawanannya semakin tinggi. Hal ini telah terjadi pada 1999 dan dua periode kepemimpinan Presiden ke-6 Susilo Bambang Yudhoyono.
Kemenangan ini juga sebagai bukti bahwa konsolidasi partai berjalan dengan baik. Begitu juga dengan proses rekrutmen, kaderisasi, pendidikan politik dan penugasan partai ke jabatan strategis.
"Saya yakin 2029 itu PDIP masih pemenangnya. Karena PDIP ini partai yang teguh, di jalan kebenaran, di jalan ideologi. Contohnya di DKI kemarin," tegasnya.
Baca juga : Pelaku Usaha Nakal Bakal Dikenai Sanksi
Kenyataannya kandang Banteng di Jawa Tengah jebol? Djarot membantahnya. Kata dia, setelah 3 kali menang Pemilu Legislatif, kandang Banteng tersebar di berbagai wilayah, bukan cuma Jateng.
"Di Bali kita masih menang. Di Kalimantan Barat juga. Di Papua juga. Bahkan di Jateng, mayoritas untuk Kabupaten dan Kota, kita masih menang," ungkapnya.
Di Kota Semarang, misalnya. Sebagai Ibu Kota Jawa Tengah, kata Djarot, jagoan PDIP tetap menang meskipun melawan jagoan yang diusung banyak parpol.
"Jadi kandang banteng itu bukan hanya di Jateng. Kandang banteng itu sudah nyebar ke mana-mana itu. Pikirannya jangan Jateng saja. Contohnya Kalbar, Bali, Papua. Papua kami bisa menang gubernur 5 kalau nggak salah," pungkasnya.
Wawancara selengkapnya dengan Djarot bisa disaksikan di YouTube Rakyat Merdeka TV yang akan tayang pada Jumat (20/12/2024) sore
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.