RM.id Rakyat Merdeka - Situasi internal Dewan Pimpinan Daerah (DPD) Partai Golkar Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur (Jatim), memanas jelang Musyawarah Daerah (Musda), Selasa (30/12/2025). Sejumlah kader memprotes proses pendaftaran dan verifikasi bakal calon Ketua DPD Golkar Banyuwangi periode 2025-2030, yang dinilai tidak sesuai mekanisme organisasi.
Salah satu bakal calon ketua, Marifatul Kamila, menyampaikan keberatan atas berkurangnya dukungan yang telah dikumpulkan. Rifa, sapaan Marifatul Kamila, mendaftar sebagai kandidat calon ketua, di kantor DPD Golkar Banyuwangi, Minggu (28/12/2025.
Saat melakukan pendaftaran, klaim Rifa, pihaknya telah memenuhi 30 persen dukungan, sebagai syarat pendaftaran calon Ketua DPD Golkar Banyuwangi periode 2025-2030. Namun, hasil pleno hanya menyisakan 6 persen dukungan.
Baca juga : Muhammadiyah Minta Masyarakat, Hentikan Debat Status Kebencanaan Sumatera!
"Kami sudah mendaftar dan memenuhi syarat 30 persen. Tapi, setelah pleno, dukungan kami tinggal enam persen. Ini yang kami anggap tidak adil," tegasnya di Banyuwangi, Jatim, Senin (29/12/2025).
Sebelumnya, Ketua Penyelenggara Musda DPD Golkar Banyuwangi, Wahyudi mengatakan, bursa Ketua DPD Golkar Banyuwangi periode 2025–2030 mengerucut pada satu nama, yakni Eva Hestiyawati. Menurut dia, Eva dipastikan melaju sebagai calon tunggal setelah panitia merampungkan seluruh tahapan pendaftaran dan verifikasi bakal calon.
Dia menerangkan, pada fase pendaftaran, Minggu (28/12/2025), terdapat dua nama yang mendaftar sebagai calon ketua, yakni Eva Hestiyawati dan Marifatul Kamila. Setelah pendaftaran ditutup pada pukul 16.00 WIB, panitia melakukan verifikasi faktual terhadap dokumen dan dukungan yang disampaikan masing-masing kandidat.
Baca juga : Mangkir, Seorang Saksi Diminta Datang Ke KPK
Dalam proses itu, lanjut dia, panitia menemukan adanya dukungan ganda dari Pengurus Kecamatan (PK) Golkar. Selanjutnya, Panitia Musda DPD Golkar Banyuwangi berkoordinasi dengan panitia Musda di Provinsi Jatim, untuk menindaklanjuti temuan tersebut.
"Hasil koordinasi menetapkan, dukungan ganda dinyatakan tidak sah dan harus dicoret dari perhitungan. Dukungan ganda tidak hanya terjadi di tingkat PK, tapi juga terjadi pada organisasi masyarakat dan organisasi sayap Partai Golkar," ujar Wahyudi.
Setelah seluruh dukungan ganda dicoret, tambahnya, perolehan dukungan masing-masing kandidat berubah signifikan. "Ibu Marifatul Kamila memperoleh enam dukungan, sementara Ibu Eva Hestiyawati mendapatkan 20 dukungan," ungkapnya.
Baca juga : ASDP Perkuat Kesiapan Layanan Arus Balik Nataru
Melanjutkan keterangannya, Rifa mengatakan, berkurangnya dukungan terjadi akibat pencoretan (dukungan) dari sejumlah kecamatan. Dia menegaskan, pihaknya memiliki surat pencabutan dukungan dan mosi tidak percaya dari lima kecamatan, namun dokumen itu tidak dipertimbangkan secara proporsional dalam forum pleno.
Selanjutnya
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.