RM.id Rakyat Merdeka - Riuhnya kritik yang belakangan membanjiri ruang publik mendapat sorotan dari Wakil Ketua Umum DPP Partai Golkar Bidang Kebijakan Publik, Idrus Marham. Dia mengaku prihatin melihat sebagian kritik yang beredar justru kehilangan kedalaman intelektual dan etika dialog.
Menurut Idrus, kritik sejatinya merupakan bagian penting dalam kehidupan demokrasi. Namun, kritik yang dilontarkan tanpa basis pengetahuan yang memadai justru berpotensi menyesatkan cara berpikir publik.
“Saya miris melihat narasi kritik yang begitu deras di ruang publik, termasuk yang datang dari kalangan mahasiswa yang seharusnya menjadi garda depan intelektualitas. Kritik yang lahir seharusnya dari kedalaman berpikir, bukan sekadar luapan emosi atau sensasi,” ujar Idrus dalam keterangannya, Selasa (17/3/2026).
Dia menegaskan, bangsa Indonesia sejak lama memiliki tradisi kritik yang kuat. Bahkan para pendiri bangsa kerap menghadirkan polemik pemikiran yang tajam dan berbobot sebagai bagian dari dinamika intelektual.
Baca juga : Dubes Jerman Ralf Beste Berburu Takjil Jelang Berbuka Puasa
“Di rumah besar Indonesia, kritik bukan barang baru. Founding fathers kita meninggalkan banyak tradisi polemik yang sangat bermutu. Kritik menjadi bagian dari proses pematangan gagasan kebangsaan,” jelasnya.
Idrus menambahkan, bahkan pada masa Pemerintahan terdahulu yang sering dianggap sensitif terhadap kritik, ruang untuk menyampaikan pandangan tetap tersedia. Kritik dipandang sebagai bentuk partisipasi, bukan pembangkangan.
“Di masa lalu, kritik tetap memiliki tempat. Dia dikelola sebagai masukan untuk penyempurnaan kebijakan dan praktik pembangunan. Kritik tidak diarahkan menjadi penolakan buta terhadap tatanan yang sedang dibangun,” katanya.
Dia menilai, hakikat kritik adalah aktivitas intelektual untuk membangun makna melalui penilaian rasional. Dengan kritik, masyarakat tidak hanya memahami kondisi yang ada, tetapi juga membangun imajinasi tentang masa depan yang lebih baik.
Baca juga : Marc Klok: Persib Harus Evaluasi Usai Ditahan Borneo FC
“Kritik yang sehat berakar pada kepentingan bersama, menjaga etika dialog, dan tetap terhubung dengan tujuan besar pembangunan nasional,” tegasnya.
Namun Idrus juga mengingatkan bahwa membungkam kritik bukanlah solusi. Sebaliknya, membiarkan kritik berkembang tanpa landasan moralitas dan rasionalitas juga berpotensi merusak kualitas diskursus publik.
“Membungkam kritik sama sia-sianya dengan menggantang asap. Tapi membiarkan kritik diobral tanpa dasar intelektual yang kuat juga berbahaya. Kritik yang amburadul bisa menyesatkan cara berpikir masyarakat,” ujarnya.
Menurut Idrus, kritik bukan sekadar retorika. Kritik membutuhkan proses intelektual yang matang dan tanggung jawab moral. “Kritik bukan panggung untuk mencari popularitas, apalagi ruang untuk mendiskreditkan orang lain. Kritik harus lahir dari pengetahuan, analisis, dan kejujuran intelektual,” katanya.
Baca juga : Tinjau Arus Mudik Di Pelabuhan Merak, Kapolri Pastikan Beri Pelayanan Maksimal
Idrus menjelaskan, secara konseptual kritik merupakan aktivitas intelektual yang memiliki standar. Dalam tradisi keilmuan, kritik harus diawali dengan deskripsi yang akurat, analisis yang kuat, serta berorientasi pada perbaikan.
“Karena itu kritik bukan penistaan. Kritik adalah proses kreatif yang dapat melahirkan gagasan baru,” ujarnya.
Selanjutnya
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.