RM.id Rakyat Merdeka - Ketua DPD PDI Perjuangan Jawa Timur Said Abdullah mengingatkan, pemerintah daerah untuk memperkuat mitigasi kekeringan dan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang terjadi di sejumlah wilayah Jawa Timur selama musim kemarau.
Said menegaskan kekeringan dan karhutla tidak boleh terus dianggap sebagai kejadian musiman yang baru ditangani setelah masyarakat kesulitan mendapatkan air bersih atau api telanjur membakar kawasan hutan.
“Kita prihatin melihat saudara-saudara kita di berbagai daerah harus menghadapi krisis air, sementara pada saat yang sama kebakaran terjadi di sejumlah kawasan pegunungan. Kejadian seperti ini berulang hampir setiap musim kemarau. Karena itu yang harus diperkuat adalah mitigasinya. Jangan menunggu sumur mengering atau hutan terbakar baru semua bergerak,” kata Said dalam keterangan yang diterima di Surabaya, Selasa (20/10).
Ia mengatakan pemerintah daerah perlu memetakan desa-desa yang berulang kali mengalami kekeringan agar penanganan tidak hanya mengandalkan distribusi air bersih saat kondisi darurat.
“Kalau setiap tahun desa yang mengalami kekeringan relatif sama, persoalannya sebenarnya sudah bisa dipetakan. Tangki air sangat dibutuhkan dalam keadaan darurat, tetapi tugas kita adalah memastikan pada tahun-tahun mendatang masyarakat di desa tersebut tidak terus menunggu tangki datang,” ujarnya.
Menurut Said, kekeringan dan karhutla memiliki keterkaitan karena hutan berfungsi sebagai penyangga kehidupan sekaligus daerah tangkapan air. Kerusakan kawasan hutan, kata dia, dapat berdampak pada ketersediaan air dan kehidupan masyarakat di wilayah hilir.
Baca juga : Menhut Bekukan 32 Konsesi, 120 Kasus Karhutla Diproses
Karena itu, ia menilai perlindungan lingkungan perlu menjadi bagian dari upaya melindungi masyarakat dari dampak bencana.
Said juga mengingatkan pesan Ketua Umum PDI Perjuangan Megawati Soekarnoputri agar kader partai menjadi Pandu Ibu Pertiwi dengan berperan aktif menjaga dan memulihkan lingkungan.
“Pesan Ibu Megawati jelas, kader PDI Perjuangan harus menjadi Pandu Ibu Pertiwi. Artinya ketika alam terluka, kader tidak boleh hanya melihat. Harus hadir, bekerja dan ikut memulihkannya,” katanya.
Said mengatakan struktur dan kader PDI Perjuangan telah bergerak di sejumlah wilayah Jawa Timur selama beberapa bulan terakhir untuk membantu masyarakat yang terdampak kekeringan dan karhutla.
Di Bojonegoro, anggota DPR RI Fraksi PDI Perjuangan Abidin Fikri bersama jaringan partai telah menyalurkan sekitar 262 ribu liter air bersih ke 52 titik terdampak kekeringan.
Sementara itu, DPC PDI Perjuangan Gresik menyalurkan sekitar 20 ribu liter air bersih kepada masyarakat di Randuboto, Sidayu. Distribusi air juga dilakukan di Nganjuk, Tuban, Trenggalek, Tulungagung, Sampang, Banyuwangi, Bangkalan, Bondowoso, Lamongan, dan sejumlah daerah lainnya.
Baca juga : Prabowo Sebut Pelaku Karhutla Teroris Lingkungan: Ini Kejahatan Kemanusiaan
Di Lamongan, kader partai bersama unsur legislatif dan eksekutif menyalurkan air secara serentak ke enam desa di lima kecamatan.
Said mengatakan informasi mengenai kesulitan air dihimpun melalui struktur partai di tingkat ranting dan pengurus anak cabang (PAC) untuk kemudian ditindaklanjuti dengan bantuan kepada masyarakat.
“Kekuatan PDI Perjuangan ada pada struktur yang sampai ke desa. Ranting dan PAC harus menjadi mata dan telinga. Kalau sumber air mulai mengering, sawah mulai kekurangan air atau muncul titik api, informasi harus bergerak cepat agar pertolongan juga cepat,” ujarnya.
Dalam penanganan karhutla, struktur PDI Perjuangan di Kota Batu membantu memenuhi kebutuhan logistik petugas dan relawan yang menangani kebakaran Gunung Butak. Di Magetan, kader dikerahkan untuk membantu penanganan karhutla, sedangkan di Ngawi, penanganan kebakaran di kawasan Gunung Lawu dan Gunung Botak antara lain dilakukan melalui pembasahan dan pembuatan sekat bakar.
Untuk membantu masyarakat terdampak kebakaran di kawasan Arjuno, Ringgit, dan Welirang, PDI Perjuangan Jawa Timur juga menyiapkan 200 relawan dan 20 tangki air.
Said menegaskan gerakan tersebut bukan untuk mengambil alih tugas pemerintah, melainkan sebagai bentuk gotong royong sekaligus upaya mengetahui secara langsung persoalan yang dihadapi masyarakat.
Baca juga : Sekolah Partai PDIP Buka Diri untuk Generasi Muda
“Partai harus hadir ketika rakyat membutuhkan pertolongan. Tetapi dari lapangan kita juga harus belajar. Kalau setiap musim kemarau kita kembali membawa tangki ke desa yang sama, berarti ada persoalan yang belum diselesaikan. Bantuan darurat harus berjalan, solusi permanennya juga harus dikerjakan,” katanya.
Said juga meminta pemulihan kawasan hutan pascakebakaran menjadi bagian dari penanganan karhutla. Setelah api padam dan kondisi dinyatakan aman, evaluasi perlu dilakukan terhadap kerusakan vegetasi, habitat, sumber mata air, dan daerah tangkapan air.
Hasil evaluasi tersebut, menurut dia, perlu ditindaklanjuti dengan rehabilitasi yang disesuaikan dengan kebutuhan ekologis setiap kawasan.
“Api padam bukan berarti pekerjaan selesai. Hutan yang terluka harus dipulihkan, sumber air harus dijaga, dan masyarakat yang terdampak harus dipastikan kembali mendapatkan akses air. Menolong manusia dan merawat alam berasal dari tanggung jawab yang sama: menjaga kehidupan,” ujar Said.
Ia menekankan keberhasilan mitigasi tidak cukup diukur dari jumlah tangki air yang didistribusikan atau frekuensi pemadaman kebakaran, tetapi juga dari berkurangnya desa yang mengalami krisis air dan luas kawasan hutan yang terbakar.
“Ukuran keberhasilan yang sesungguhnya adalah semakin sedikit desa yang setiap tahun mengalami krisis air dan semakin kecil kawasan hutan yang terbakar. Itulah mitigasi yang harus kita bangun bersama,” kata Said.
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.