BREAKING NEWS
 

Mengurai Bahaya Politisasi Agama, Membangun Pilkada Serentak Harmonis

Reporter & Editor :
UJANG SUNDA
Rabu, 20 November 2024 16:29 WIB
Peneliti komunikasi politik Effendi Gazali (Foto: Tedy O Kroen/RM)

RM.id  Rakyat Merdeka - Peneliti komunikasi politik Effendi Gazali meminta semua pihak mewaspadai fenomena politisasi agama di masa-masa Pilkada 2024. Effendi menilai, fenomena ini cukup berbahaya jika digunakan hanya untuk meraup elektoral semata yang dapat mengganggu kerukunan dan persatuan, serta stabilitas politik di Indonesia. 

Menurutnya, ketika agama digunakan sebagai alat politik, sering kali muncul distorsi dalam penyampaian pesan keagamaan yang seharusnya netral. Hal ini membuat orang menganggap bahwa pandangan tertentu adalah kebenaran absolut, hanya karena dikemas dalam komunikasi religiusitas untuk mengatasi hambatan-hambatan atau batas fisik.

“Orang bisa membayangkan diri segera ke ‘surga’ dengan segala keindahan yang sangat amat indah dibandingkan dengan masalah-masalah yang sedang dihadapi di dunia nyata,” ucap Effendi, di Jakarta, Rabu (20/11/2024. 

Baca juga : Di Posisi Kelima, Macan Kemayoran Sudah Mengaum

Akibatnya, kata Effendi, objektivitas dalam pengambilan keputusan, baik secara pribadi maupun kolektif, menjadi bias. “Keadilan, kebenaran, hak asasi, hukum, kesuksesan ekonomi, kesejahteraan hidup, kebebasan beragama sudah diukur berdasarkan politisasi agama yang diajukan,” kata Effendi. 

Doktor lulusan Radboud University ini mengungkapkan, politisasi agama merupakan salah satu strategi komunikasi politik tertinggi. Mulainya masuk dari interpersonal lalu bersahut-sahutan dengan komunikasi intrapersonal yang membuat pertahanan batin seseorang menjadi lemah. Salah satu ciri penggunaan politisasi agama adalah adanya klaim-klaim penderitaan dan ketidakadilan yang dikaitkan dengan unsur dan nilai agama. 

Adsense

Effendi berpendapat, sulit untuk memerangi politisasi agama di era keterbukaan informasi ini. Menurutnya, aspek religius merupakan bagian dari kehidupan, tidak dapat dipisahkan dalam kehidupan sosial dan politik. Untuk itu, ia menyerukan nilai-nilai kebangsaan dan agama tetap harus diutarakan secara sejuk berbarengan di dalam politik. 

Baca juga : Menjaga Reputasi Lembaga Survei

“Komunikasi religiusitas kini tumbuh sebagai bidang ilmu yang terus menggali itu. Isu-isu ini harus didiskusikan dan tidak dibiarkan ditaruh di bawah karpet,” katanya.

Effendi menegaskan pentingnya membangun narasi dan diskusi positif baik di lingkungan rumah, kampus, maupun di dunia maya untuk mengimbangi narasi negatif yang disebar oknum penyebar politisasi agama. Selain itu, dibutuhkan peran tokoh agama dan tokoh masyarakat dalam menjaga stabilitas sosial dan menguatkan persatuan anak bangsa. 

“Amat penting mengajak tokoh-tokoh ulama yang dalam, sejuk, dan diterima rakyat.” 

Baca juga : Senangnya Jake Paul Bisa Tumbangkan Si Leher Beton

Selain itu, dia juga menyatakan pentingnya mengedukasi generasi muda agar lebih peka terhadap bahaya politisasi agama dalam narasi politik. Dibutuhkan kedewasaan dalam mencari dan mengelola informasi di media sosial.

“Media sosial kata kunci bagi generasi muda, kita ajak sebagian anak muda menjadi peduli dengan isu ini,” tandas Effendi.

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Tags :

Berita Lainnya
 

TERPOPULER

Adsense