RM.id Rakyat Merdeka - Survei telah menjadi bagian tak terpisahkan dalam pertarungan politik. Hasil survei begitu memengaruhi keputusan parpol dalam menentukan calon yang diusung dalam kontestasi politik. Baik untuk Pilpres maupun Pilkada, banyak parpol menjadikan hasil survei sebagai salah satu indikator utama. Mereka sepertinya takut mengusung nama yang modal elektabilitasnya kecil.
Kondisi ini memang tidak mengherankan. Sebab, cita-cita semua parpol memang memenangkan Pemilu. Seperti yang pernah disampaikan Jusuf Kalla, semua parpol ingin menjadi penguasa. Kalah dan menjadi oposisi merupakan kecelakaan.
Makanya, hal pertama yang dilihat banyak parpol dalam mengusung calon adalah elektabilitas. Selanjutnya, mungkin "isi tas". Tak peduli kader atau bukan. Tak peduli teman lama atau mantan musuh. Yang penting, calon yang diusung punya potensi besar untuk menang.
Baca juga : Rupiah yang Semakin Murah
Sepertinya, di Pilkada 2024 nanti, fenomena ini akan terulang lagi. Indikasinya sudah terlihat. Banyak parpol mendekati calon-calon potensial dengan elektabilitas tinggi. Bahkan terkesan rebutan.
Secara sepintas, hal ini terlihat wajar. Namun, untuk kesehatan demokrasi dan kepemimpinan, ini buruk. Calon-calon yang memiliki kompetensi, integritas, dan kapabilitas akan selalu kalah dengan calon yang memiliki elektabilitas tinggi. Jangankan memenangkan pemilih, untuk dicalonkan saja mereka tidak bisa.
Celakanya lagi, para calon juga akan menghalalkan segala cara untuk mendongkrak elektabilitas. Salah satunya, dengan menyewa lembaga survei dan mengotak-atik data agar terlihat memiliki keterpilihan yang tinggi.
Baca juga : Kabinet Profesional
Dari sisi parpol, hal ini akan membuat pengkaderan tidak jalan. Ideologi dan nilai-nilai perjuangan partai juga akan hilang. Sebab, yang mereka usung terkadang sama sekali tak mewakili nilai perjuangan partai tersebut.
Agar demokrasi kita sehat, parpol-parpol itu harus segera sadar. Jangan hanya berpikir untuk memang, tapi pikirkan juga perjuangan ideologi dan pembangunan bangsa. Ingat, di negara kita, parpol masih menjadi tulang punggung demokrasi. Kalau parpol sudah diintervensi hasil survei, berarti tulang punggung itu telah bengkok. Telah mengalami skoliosis. Dampaknya selain tidak indah, juga sangat sakit.
Parpol-parpol tak perlu takut mengusung sosok yang belum punya elektabilitas. Asalkan sosok tersebut kompeten, kapabel, bersih, dan punya integritas tinggi, potensi menang tetap ada. Yang perlu dilakukan adalah memolesnya dengan baik, sehingga pontensi calon tersebut bisa dilihat publik.
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.