Dark/Light Mode

Rupiah yang Semakin Murah

Jumat, 19 Juli 2024 00:30 WIB
BUDI RAHMAN HAKIM
BUDI RAHMAN HAKIM
Wartawan Senior

RM.id  Rakyat Merdeka - Sudah tiga bulan berlalu, nilai tukar rupiah masih belum juga bisa bangkit. Nilainya selalu di atas Rp 16.000 per dolar AS. Bahkan sempat hampir menyentuh Rp 16.500 per dolar AS. Banyak sektor ekonomi yang terdampak dari lemahnya nilai tukar mata uang garuda ini.

Jika kita cermati, penurunan nilai rupiah ini terjadi setiap tahun dan sepanjang tahun. Kalaupun menguat, naiknya hanya satu tingkat. Setelah itu, turunnya dua tingkat. Begitu setiap tahun. Tidak heran, semakin ke sini, nilai tukar rupiah semakin murah. Tidak hanya terhadap dolar AS, tetapi terhadap banyak mata uang lain.

Baca juga : Kabinet Profesional

Untuk membuktikannya, kita ambil acuan pada Juli 2019. Saat itu, nilai tukar rupiah terhadap dolar AS Rp 13.900, terhadap riyal Arab Saudi Rp 3.700, terhadap dolar Singapura Rp 10.200, terhadap yuan China Rp 2.000. Saat ini, nilai tukar rupiah terhadap dolar AS mencapai Rp 16.200, terhadap riyal Arab Saudi Rp 4.300, terhadap dolar Singapura Rp 12.000, dan terhadap yuan China Rp 2.200.

Itu baru kita bandingkan dengan kondisi lima tahun lalu. Jika dibandingkan dengan kondisi 10 tahun lalu, penurunan nilai tukar rupiah semakin terasa. Penurunan yang paling besar terhadap dolar AS. Pada Juli 2014, harga dolar masih berkisar Rp 11.000-an.

Baca juga : Upah Buruh Vs Kenaikan Harga

Penurunan yang terus-terus terjadi ini bisa membuat ekonomi kita rapuh. Harga barang-barang akan terus-terusan naik, terutama yang berasal dari impor. Inflasi pun akan terus terjadi. Dari sisi statistik, ekonomi memang akan terlihat tumbuh. Namun, hal itu tidak akan mampu meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Sebab, uang yang mereka pegang nilainya semakin murah.

Untuk itu, diperlukan strategi yang jitu guna meredam penurunan nilai tukar rupiah. Jika tidak bisa membuat menguat, paling tidak nilai tukarnya stabil. Jangan turun lagi.

Baca juga : Hubungan Utang & Pertumbuhan Ekonomi

Bagaimana strateginya? Para pakar dan ekonom yang ada di pemerintahan mestinya tahu. Kalaupun tidak tahu, kita bisa mencontek cara negara lain dalam mempertahankan nilai mata uangnya. Seperti Arab Saudi. Selama lima tahun ini, nilai riyal terhadap dolar AS sangat stabil. Nilai lima tahun lalu sampai sekarang masih sama, yaitu 3,75 riyah Saudi per dolar AS.

Untuk melakukan hal ini, Pemerintah tentu tidak bisa bekerja sendirian. Semua stakeholder harus turun membantu, mulai dari Bank Indonesia, pengusaha ekspor impor, kalangan industri dalam negeri, sampai masyarakatnya. 

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.