BREAKING NEWS
 

Masih Kecanduan Barang Impor

Reporter & Editor :
BUDI RAHMAN HAKIM
Rabu, 22 Januari 2025 04:55 WIB
BUDI RAHMAN HAKIM

RM.id  Rakyat Merdeka - Meski sudah banyak diingatkan, kita tetap masih kecanduan barang-barang impor. Jangankan untuk barang-barang berteknologi tinggi seperti komputer, laptop, ponsel, pesawat, drone, dan alat-alat kesehatan, barang yang kecil-kecil saja kita banyak impor. Bahkan, sapi dan alat pel sederhana juga banyak yang berasal dari impor.

Demikian juga produk pangan, buah-buahan, sayuran-sayuran, dan daging. Untuk bawang putih dan kedelai, wajar kita masih impor. Karena dua komoditas tersebut tidak tumbuh optimal di dalam negeri. Namun, yang aneh, kita masih banyak impor gula, jeruk, anggur, apel, dan yang juga beras.

Perkakas dan perabotan rumah, juga masih dibanjiri produk impor. Jika kita berbelanja di ritel modern, mayoritas yang disediakan adalah barang impor. Kasur, sofa, meja, kursi, sampai piring, gelas dan pernak-pernik, mayoritas impor.

Baca juga : Guncangan Ekonomi & Target Tumbuh 8 Persen

Produk mainan anak juga penuh dengan barang impor. Dari mainan canggih dengan remote control sampai mainan sederhana seperti cetakan istana pasir, kebanyakan juga. Hanya sebagian kecil yang dibuat di Indonesia.

Adsense

Kondisi ini jelas membuat miris. Dengan banyaknya impor tersebut, pasar begitu besar yang dimiliki Indonesia justru banyak dinikmati bangsa lain. Kita yang punya potensi, orang lain yang kaya.

Kalau saja kita bisa mengerem impor-impor tersebut, ekonomi dalam tentu lebih maju lagi. Para petani dan peternak akan mendulang untung lebih besar karena barang-barangnya laris manis. Demikian juga dunia industri, akan semakin menggeliat karena produk-produknya digunakan masyarakat. Kalau ini terjadi, jelas bisa membantu mewujudkan target pertumbuhan ekonomi 8 persen yang dicanangkan Pemerintah.

Baca juga : Pejabat Harus Bermental Baja

Mengurangi impor tersebut memang tidak mudah. Butuh kerja dan partisipasi semua pihak. Dari pemerintah, harus membuat regulasi yang lebih ketat. Jangan semua yang diajukan importir disetujui. Kalau barang-barang itu bisa dibuat atau diproduksi di dalam negeri, jangan berikan izin impor.

Di sisi lain, pemerintah juga harus terus memberi kemudahan bagi industri dan dunia pertanian agar semakin bergeliat. Sehingga bisa berproduksi tinggi, dengan kualitas barang-barang yang dihasilkan jempolan. Dan yang harus diingat adalah, insentif juga penting agar harga produk kita kompetitif.

Untuk pengusaha, jangan melulu mengutamakan keuntungan. Perhatian juga kondisi industri dan pertanian dalam negeri. Seraplah barang milik industri dan pertanian kita. Dengan begitu, selain mendapatkan untung, pengusaha juga ikut membantu membangkitkan ekonomi.

Baca juga : Menghentikan Ulah KKB Papua

Sedangkan untuk masyarakat, harus mulai peduli dengan produk yang dibeli. Pertimbangannya jangan cuma asal murah atau utamakan yang berkualitas tinggi, tapi juga tolong lihat produk itu buatan mana. Mari kita mulai mencintai dan menggunakan produk dalam negeri. Kalau kita mau sedikit berusaha mencari, banyak juga produk dalam negeri yang berkualitas.

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Tags :

Berita Lainnya
 

TERPOPULER

Adsense