Dark/Light Mode

Harga Pangan Bak Roller Coaster

Jumat, 10 Januari 2025 04:38 WIB
BUDI RAHMAN HAKIM
BUDI RAHMAN HAKIM
Wartawan Senior

RM.id  Rakyat Merdeka - Pergerakan harga pangan sudah seperti roller coaster. Naik-turunnya begitu cepat dan bikin gunjangan keras. Di suatu momen, mahalnya minta ampun. Tapi, di momen yang lain, harganya anjlok bahkan sampai tidak laku.

Gerakan roller coaster ini terjadi di hampir semua komoditas pagang. Naik-turunnya juga tidak kenal waktu. Gerakannya begitu cepat, sehingga sulit diprediksi masyarakat sebagai konsumen maupun petani dan peternak sebagai produsen.

Contohnya adalah cabe. Pada Oktober 2024, harga cabe begitu anjlok. Bahkan ada yang sampai Rp 3.500 per kilogram. Sebagian lagi tidak laku. Saat itu, banyak pertani cabe menjerit, karena merugi besar.

Baca juga : Tahun Baru, Masalah Masih Sama

Hanya selang dua bulan, harga cabe melonjak drastis. Bahkan meroket. Saat ini, di beberapa pasar di Jakarta, harga cabe rawit merah ada yang mencapai Rp 130 ribu per kilogram. Di daerah juga sama, harganya tinggi. Karena begitu mahal, harga cabe saat ini disebut sama dengan harga daging.

Kondisi ini jelas menjadi problematika. Saat harga naik, para petani dapat keuntungan lebih. Namun, kadang-kadang kenaikan pendapatan mereka tidak seberapa dibanding keuntungan yang didapat tengkulak. Apalagi, saat harga tinggi, produksi petani justru sedang sedikit. Jangankan di pasar, di kalangan petani pun, saat harga naik, cabe langka.

Untuk para konsumen, kenaikan ini jelas memberatkan. Emak-emak berteriak, karena kenaikan ini menyedot banyak uang dapur mereka. Para pelaku usaha industri makanan juga ketar-ketir dengan kenaikan harga tersebut. Terutama untuk industri yang mengandalkan sambel.

Baca juga : Eranya Politisi Muda

Saat harga turun, emak-emak giliran diuntungkan. Mereka bisa mendapat sisa uang belanja atau mendapatkan barang yang lebih banyak dengan uang belanja yang biasa. Tapi, para petani menjerit karena rugi. Modal mereka tidak tertutup karena rendahnya harga pangan yang dihasilkan.

Kondisi gerakan roller coaster ini tidak boleh dibiarkan berjalan tanpa kendali. Pemerintah harus mengatur dan menatanya, agar harga pangan tidak terus-terusan jumpalitan. Pemerintah harus bisa menciptakan stabilitas harga. Dengan begitu, masyarakat akan tenang dan petani pun senang.

Untuk menciptakan kondisi tersebut, Pemerintah bisa mengatur siklus tanam atau siklus pembibitan, agar panen bisa dilakukan setiap hari. Dengan begitu, komoditas tidak akan menumpuk di satu waktu dan tidak langka di waktu yang lain.

Baca juga : Siaga Bencana

Untuk komoditas yang gampang rusak, seperti cabe, bawang, tomat, ayam, telur, Pemerintah perlu segera menyediakan tempat penyimpanan yang baik, semacam kulkas raksasa. Dengan begitu, komoditas tersebut bisa lebih awet untuk waktu yang lama.

Saat terjadi panen massal dan kelebihan stok, komoditas tersebut bisa disimpan dengan baik tanpa takut busuk. Dengan begitu, harga tidak akan anjlok. Komoditas ini kemudian bisa digunakan saat pasokan di petani atau peternak sedang berkurang. Dengan begitu, harga di pasar tidak melonjak.

Untuk mencapai hal ini, dibutuhkan keseriusan dari para pejabat. Pejabat tidak cukup hanya sibuk saat terjadi kenaikan harga atau saat harga anjlok. Harus ada langkah konkret untuk mengatasi dua masalah tersebut agar tidak terus berulang.

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.