BREAKING NEWS
 

Ancaman Perang Dunia III dan Target Ekonomi Tumbuh 8%

Reporter & Editor :
BUDI RAHMAN HAKIM
Rabu, 18 Juni 2025 04:26 WIB
BUDI RAHMAN HAKIM

RM.id  Rakyat Merdeka - Dunia tengah bergejolak. Ancaman Perang Dunia III sudah di depan mata, seiring dengan memanaskan situasi di Timur Tengah. Israel dan Iran sedang saling balas serangan dengan rudal-rudal canggih mereka. Amerika Serikat dicurigai berada di belakang Israel. Sementara Chin, Rusia, dan Turki siap membantu Iran.

Kondisi ini jelas menjadi tantangan berat bagi Pemerintah Indonesia untuk mewujudkan target pertumbuhan ekonomi sebesar 8 persen pada 2029. Dengan gejolak dunia saat ini saja, banyak jalur perdagangan terganggu. Harga komoditas juga melonjak. Apalagi jika Perang Dunia III meletus, otomatis ekonomi dunia akan semakin suram. Padahal, saat ini saja, kondisi ekonomi dunia belum pulih pasca-pandemi Covid-19. 

Di dalam negeri, kondisi ekonomi juga belum benar-benar kinclong. Kenaikan harga komoditas masih terjadi, Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) belum hilang, banyak industri yang gulung tikar, dan rupiah masih sering tertatih-tatih. Angka pengangguran dan kemiskinan juga masih lumayan besar.

Baca juga : Hati-hati dengan Jejak Digital

Dengan kondisi ini, banyak pakar memprediksi, ekonomi Indonesia tahun ini hanya akan tumbuh sekitar 5 persen. Pemerintah juga tidak muluk-muluk mematok pertumbuhan ekonomi tahun ini. Hanya sebesar 5,2 persen.

Adsense

Namun, untuk jangka panjang, Pemerintah masih sangat optimis bisa mencapai pertumbuhan ekonomi 8 persen. Dalam banyak kesempatan, Presiden Prabowo Subianto menegaskan, sangat yakin dengan target tersebut. Kepada pihak yang ragu, Prabowo menyebut, itu sebagai kelemahan elite Indonesia, yang memang kurang percaya diri.

Tapi, keyakinan saja tentu tidak cukup. Harus ada action, kerja keras, kebijakan yang tepat, dan langkah yang konkret. Berbagai potensi harus dioptimalkan. Peluang-peluang yang ada harus dimanfaatkan dengan baik. Hanya dengan begitu, pertumbuhan ekonomi tinggi bisa dicapai.

Baca juga : Memuliakan Yang Mulia

Kita tidak bisa lagi mengandalkan sisi konsumsi masyarakat dan belanja Pemerintah untuk menggenjot pertumbuhan. Itu cara tradisional. Harus ada cara baru. Seperti industrialisasi, hilirisasi, investasi, dan memperluas perdagangan global.

Selama ini, masih banyak barang kebutuhan masyarakat dan juga pemerintah yang didapat dari impor. Hal tersebut karena industri kita masih belum kompetitif. Kita masih kalah dari Malaysia, Vietnam, dan Thailand. Apalagi jika dibandingkan dengan India dan China, kita sangat jauh tertinggal. Di negara-negara itu, banyak kantor dan perusahaan internasional. Sedangkan di kita, sebagian perusahaan internasional masih ragu-ragu untuk masuk.

Untuk mencapai hal target besar itu, keinginan dan kebijakan harus segaris. Jika ingin industrialisasi, hilirisasi, dan investasi maju, maka kebijakan-kebijakan yang dibuat harus memudahkan hal tersebut. Sikap pejabat pelaksana harus tegak lurus dengan visi pimpinan. Jangan sampai ketika pimpinan berkata A, anak buat masih menerjemahkan menjadi B, C, D, dan seterusnya.

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Tags :

Berita Lainnya
 

TERPOPULER

Adsense