BREAKING NEWS
 

Perang Dunia & Periuk Nasi

Reporter & Editor :
SUPRATMAN
Selasa, 24 Juni 2025 06:42 WIB
SUPRATMAN

RM.id  Rakyat Merdeka - Eskalasi tertinggi perang Iran vs Israel-Amerika Serikat, adalah Perang Dunia III. Wacana ini sudah bergema. Ada yang menganggap serius dan berpotensi terjadi, ada juga yang menilainya masih jauh. Bahkan tidak akan terjadi.

Dunia harus mencegah, jangan sampai terjadi Perang Dunia. Tidak ada Perang Dunia saja tantangannya sangat kompleks dan berat. Apalagi kalau ada Perang Dunia III. Karena itu, sebisa mungkin harus dihindari.

Walau terkesan “kurang bergelora”, upaya diplomasi tetap diperlukan. Bahkan sangat penting. Sebebal-bebalnya seorang pemimpin, tetap ada titik dimana dia merenung, memikirkan dampaknya. Bukan hanya bagi diri dan keluarganya, tapi bagi negerinya. Juga dunia.

Kita ingat, Perang Dunia I yang berlangsung empat tahun (1914-1918), korbannya sangat banyak. Tentara yang tewas, 9-10 juta. Warga sipilnya lebih banyak lagi. Sekitar 12 juta.

Baca juga : Naik Ke Gigi Empat?

Perang Dunia II (1939-1945), ketika persenjataan bertambah canggih dan mematikan, korbannya lebih banyak lagi. Sekitar 70-85 juta jiwa. Kebanyakan warga sipil.

Sekarang, teknologi persenjataan jauh lebih canggih dan mematikan. Israel dan Iran, yang jaraknya sekitar 1,5 kali panjang pulau Jawa, masing masing bisa meluncurkan rudal dengan akurasi tinggi. Tepat sasaran. Perjalanan rudalnya juga relatif singkat. Tidak sampai 15 menit. Tanpa nyasar.

Bisa dibayangkan dampak apa yang ditimbulkan kalau terjadi Perang Dunia III yang melibatkan banyak negara. Menggunakan senjata nuklir pula. Dampak ekonomi, kemanusiaan, lingkungan yang ditimbulkannya akan jauh lebih mengerikan dan lebih panjang.

Adsense

Karena itu, jangan lelah untuk berdiplomasi dan mencari jalan damai. Indonesia sudah mengungkapkan hal tersebut ketika Presiden Prabowo berbicara dalam acara St. Petersburg International Economic Forum (SPIEF) 2025 di Rusia, Jumat (20/6/25) lalu.

Baca juga : Panggung Uang, Puji & Warning

Indonesia yang bergabung di berbagai lembaga internasional seperti ASEAN, Gerakan Non-Blok, OKI, PBB serta forum internasional lainnya, bisa lebih berperan dan berinisiatif.

Citra Indonesia yang independen dan netral serta ingin berkawan dengan banyak negara, mempermudah upaya diplomasi tersebut. Sekarang tergantung kelincahan Indonesia di dunia internasional. Termasuk kelincahan Kementerian Luar Negeri.

Inilah pentingnya untuk segera mengisi beberapa pos strategis, seperti Dubes Indonesia di Amerika Serikat yang sudah lama kosong.

Sempat ada beberapa nama, termasuk salah seorang menteri, yang diplot untuk menjadi Dubes Indonesia di AS. Namun, kabar tersebut pelan-pelan meredup. Dubes Indonesia di AS tetap kosong. Sampai sekarang.

Baca juga : Perang Sampai Ke Dapur

Dan yang tak kalah pentingnya, kelincahan di dunia internasional tetap harus berbasis kesejahteraan rakyat. Jangan sampai melupakan kondisi dalam negeri.

Saat ini saja, jumlah penduduk miskin di Indonesia masih sangat banyak. Menggunakan standar apa pun, jumlah tersebut bukanlah sekadar angka. Belum lagi persoalan-persoalan lainnya.

Kalau terjadi Perang Dunia III, kondisinya pasti lebih parah. Menciptakan perdamaian dunia: penting. Menciptakan kesejahteraan rakyat: itu yang utama

Keduanya perlu diupayakan serius. Karena sama-sama bisa mempengaruhi periuk nasi. Bagi sebagian rakyat, berjuang demi periuk nasi, itulah “perang dunia” sesungguhnya.

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Tags :

Berita Lainnya
 

TERPOPULER

Adsense