Dark/Light Mode

Perang Sampai Ke Dapur

Selasa, 17 Juni 2025 06:19 WIB
SUPRATMAN
SUPRATMAN
Wartawan Senior

RM.id  Rakyat Merdeka - Perang Israel-Iran bisa berlangsung panjang dan meluas. Indonesia harus bersiaga penuh. Dampaknya bahkan bisa sampai ke urusan dapur dan rumah tangga.

Dampak yang cepat terdata adalah kenaikan harga minyak dunia. Perang yang sudah berlangsung selama empat hari tersebut menyebabkan harga minyak dunia mengalami kenaikan.

Kalau Israel menargetkan pergantian rezim di Teheran, perangnya bisa lebih panas dan panjang. Apalagi ada “aroma” AS dan beberapa negara Eropa akan ikut terlibat.

Kalau itu terjadi, Iran bisa membalas dengan mengeluarkan kartu truf: menutup Selat Hormuz. Selat sepanjang 39 km ini merupakan pintu keluar ke lautan lepas. Dari selat ini, negara-negara Teluk memasok seperenam produksi minyak global, termasuk ke Indonesia.

Baca juga : Menghindari “National Fatigue”

Sebagai negara pengimpor minyak, Indonesia akan terkena dampaknya. Menteri ESDM Bahlil Lahadalia mengatakan, impor migas Indonesia bisa mencapai 35-40 miliar Dolar AS per tahun. Relatif tinggi.

Kalau rantai pasok terganggu, Indonesia harus berupaya mencari sumber alternatif, yang tentu saja, biayanya bisa lebih tinggi.

 Ini jelas membebani anggaran. Anggaran negara maupun anggaran dapur rakyat, yang sekarang saja sudah sangat mengkhawatirkan.

Kekhawatiran disertai kesiagaan itu tergambar dari pernyataan Menteri Keuangan Sri Mulyani. “Perang Berkecamuk Di Dunia, Sri Mulyani Waswas,” begitu judul headline halaman depan Rakyat Merdeka, Minggu (15/6/25) lalu.

Baca juga : Mencari “Pencuci Piring”

Sri Mulyani lantas teringat sejarah kelam dunia yang pernah terjadi pada awal-awal tahun 1930 dan 1940.

Pada periode tersebut, kata Sri Mulyani, terjadi krisis ekonomi yang sangat parah yang dikenal dengan great depression (depresi berat). “Ini adalah sesuatu yang sedang dan akan terus terjadi,” sebut Bendahara Negara itu.

Sekarang, harga minyak dunia terkerek naik. Ancaman dan dampaknya bisa kemana-mana. Dalam skala kecil misalnya, transportasi untuk mengangkut sayur mayur ke pasar-pasar, pasti akan terdampak.

Dengan demikian, harga sayur mayur akan naik, harga gorengan naik, makan di warteg juga naik. Di tengah kondisi yang sedang tidak baik-baik saja dan daya beli yang melemah, tentu ini akan sangat berat bagi rakyat.

Baca juga : Orkestrasi “Bersih-bersih”

Karena itulah, kita berharap, ada terobosan, skema serta strategi yang cepat dan tepat untuk menyelamatkan perekonomian negara. Juga menyelamatkan dapur-dapur rakyat di seluruh Indonesia supaya bisa tetap ngebul.

Selain itu, pemberantasan korupsi yang sekarang sedang hangat-hangatnya, bisa lebih tegas dan terus digencarkan. Semua lembaga negara, termasuk lembaga hukum, harus lebih ditata dan diberdayakan untuk mendukung program tersebut.

Jalan keluar ini perlu diorkestrasi dengan baik. Kalau perlu, kabinet ditata kembali supaya lebih gesit dan lebih siap menghadapi peperangan serta geopolitik yang bergejolak.

Dalam kondisi seperti sekarang, Indonesia membutuhkan kabinet kerja, bukan kabinet politis.

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.