BREAKING NEWS
 

Ketika Data Ditolak

Reporter & Editor :
BUDI RAHMAN HAKIM
Jumat, 6 Februari 2026 08:16 WIB
BUDI RAHMAN HAKIM

RM.id  Rakyat Merdeka - Angka bisa benar, tapi rasa bisa lebih jujur. Itulah ketegangan yang kian terasa ketika data resmi diumumkan, sementara pengalaman hidup warga berkata sebaliknya. Statistik menenangkan, tetapi cerita harian gelisah. Di titik ini, data bukan ditolak karena salah, melainkan karena tak menjawab yang dirasakan.

Pemerintah bekerja dengan indikator: inflasi sekian, kemiskinan turun sekian, layanan membaik sekian persen. Warga hidup dengan pengalaman: harga terasa mahal, akses terasa jauh, pelayanan terasa dingin. Dua dunia ini kerap tak bertemu. Ketika jarak itu melebar, publik meragukan bukan hanya angka—melainkan niat di baliknya.

Baca juga : Kebijakan Bertemu Rakyat

Penolakan terhadap data sering dibaca sebagai anti-sains. Itu keliru. Yang ditolak adalah klaim finalitas: seolah angka sudah cukup menjelaskan kenyataan. Padahal, data adalah ringkasan; ia memilih, menyederhanakan, dan menghilangkan nuansa. Kehidupan sehari-hari justru bergerak di nuansa yang tak tertangkap tabel.

Adsense

Masalahnya bertambah ketika data dipakai untuk menutup diskusi. “Angkanya sudah jelas,” kata kebijakan, sambil melangkah maju. Padahal yang dibutuhkan adalah dialog: mengapa angka dan rasa berbeda? Di sinilah negara diuji—mau mendengar pengalaman sebagai bukti, bukan gangguan.

Baca juga : Keberanian Pertama

Theodore M. Porter mengingatkan bahwa angka memberi otoritas karena tampak objektif, tetapi objektivitas itu dibangun melalui pilihan metodologis dan nilai tertentu (Trust in Numbers, 1995). Ketika kepercayaan publik rapuh, mengandalkan angka semata justru mempercepat erosi kepercayaan.

Solusinya bukan mengurangi data, melainkan memperkaya makna. Gabungkan statistik dengan kisah lapangan, survei dengan kesaksian, indikator dengan audit pengalaman pengguna. Negara yang cerdas tak hanya mengukur hasil, tetapi juga mendengarkan proses—bagaimana kebijakan dialami oleh mereka yang paling terdampak.

Baca juga : Arah Masih Terbuka

Ketika data ditolak, itu alarm. Bukan untuk meninggalkan angka, melainkan untuk menambatkan angka pada kehidupan. Jika negara berani membuka ruang ini—mengakui jarak, memperbaiki metode, dan merespons rasa—maka data kembali dipercaya. Tanpa itu, angka akan terus benar, dan rakyat akan terus merasa tidak didengar.

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Tags :

Berita Lainnya
 

TERPOPULER

Adsense