Dark/Light Mode

Pembangunan Mulai Lagi

Senin, 19 Januari 2026 08:08 WIB
BUDI RAHMAN HAKIM
BUDI RAHMAN HAKIM
Wartawan Senior

RM.id  Rakyat Merdeka - Pembangunan resmi dimulai lagi. Pita dipotong, papan proyek ditegakkan, dan pidato kembali berderet rapi. Kalender negara bergerak maju, seolah luka-luka sosial ikut sembuh dengan sendirinya. Padahal, banyak yang belum pulih—bukan karena lupa, melainkan karena tak pernah ditangani.

Kick-off proyek nasional 2026 menghadirkan optimisme administratif. Angka-angka kembali dibacakan, target ditetapkan, dan tenggat waktu dirapikan. Namun di balik itu, ada ingatan publik yang belum mendapat keadilan: konflik agraria yang menggantung, kompensasi yang tak tuntas, dan janji pemulihan yang menguap bersama pergantian tahun.

Baca juga : Negara di Antrean

Negara kerap menganggap pembangunan sebagai tombol “lanjutkan”. Yang tertunda dibiarkan tertinggal, yang bermasalah diserahkan pada waktu. Logika ini efisien di meja rapat, tetapi timpang di lapangan. Masyarakat yang terdampak tidak bergerak dengan kalender fiskal; mereka hidup dengan konsekuensi yang menetap.

Pembangunan yang melaju tanpa penyelesaian keadilan menciptakan paradoks: kemajuan fisik yang memperlebar jarak moral. Jalan baru dibangun di atas keluhan lama; bendungan berdiri di atas proses yang belum beres. Di titik ini, pembangunan berisiko menjadi repetisi—bukan perbaikan.

Baca juga : Rakyat Menunggu Negara

Amartya Sen mengingatkan bahwa pembangunan bukan sekadar pertumbuhan, melainkan perluasan kebebasan substantif manusia—termasuk rasa aman, pengakuan, dan keadilan prosedural. Tanpa itu, proyek hanya menambah aset, bukan martabat. Infrastruktur bertambah, tetapi kepercayaan publik berkurang (Sen, Development as Freedom, 1999).

Ada pilihan yang sering dihindari: berhenti sejenak untuk merapikan yang tertinggal. Bukan menghentikan pembangunan, melainkan menyejajarkan langkahnya dengan pemulihan. Audit sosial, mekanisme keluhan yang efektif, dan penyelesaian konflik yang transparan bukan penghambat—mereka fondasi agar pembangunan tak rapuh.

Baca juga : Elite Kembali Nyaman

Jika pembangunan memang “mulai lagi”, ia seharusnya mulai dari keberanian menyelesaikan yang lama. Negara yang kuat bukan yang tercepat melanjutkan proyek, melainkan yang sanggup menutup luka sebelum menambah bangunan. Tanpa itu, kita hanya bergerak—tanpa benar-benar maju.

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.