Dark/Light Mode

Negara di Antrean

Rabu, 14 Januari 2026 08:12 WIB
BUDI RAHMAN HAKIM
BUDI RAHMAN HAKIM
Wartawan Senior

RM.id  Rakyat Merdeka - Awal tahun ini republik tampak sibuk bergerak, tetapi bergerak di belakang rakyat. Negara hadir di antrean—bukan di depan. Warga sudah lebih dulu mengantre harga yang naik, biaya sekolah yang jatuh tempo, dan layanan publik yang kembali padat. Negara menyusul belakangan dengan penjelasan, klarifikasi, dan rencana. Di titik ini, kehadiran terasa, tetapi terlambat.

Antrean adalah bahasa paling jujur dari pelayanan publik. Ia memperlihatkan siapa yang didahulukan dan siapa yang menunggu. Ketika antrean memanjang di loket layanan, di puskesmas, di kantor kependudukan, pesan yang terbaca sederhana: negara ada, tetapi belum siap. Rakyat berdiri membawa waktu dan harapan; negara membawa prosedur dan alasan.

Baca juga : Rakyat Menunggu Negara

Awal tahun selalu menjadi ujian koordinasi. Kebijakan sudah ditetapkan, anggaran mulai berjalan, tetapi implementasi sering tertinggal satu langkah. Antrean lalu menjadi solusi diam-diam: menunda tanpa mengatakan menunda. Bagi birokrasi, antrean adalah mekanisme pengendali; bagi warga, ia adalah beban hidup. Waktu yang hilang tidak pernah kembali.

Hannah Arendt, dalam The Human Condition, mengingatkan bahwa kekuasaan kehilangan makna ketika ia berhenti hadir dalam tindakan yang relevan bagi kehidupan bersama. Antrean yang tak terkelola adalah tanda absennya tindakan itu. Negara terlihat, tetapi tidak bekerja pada tempo yang dibutuhkan. Dan ketika tempo tidak seiring, legitimasi mulai tergerus.

Baca juga : Elite Kembali Nyaman

Ironisnya, antrean sering dinormalisasi. “Wajar awal tahun”, “masih penyesuaian”, “sedang sinkronisasi”. Semua terdengar masuk akal, tetapi tidak menolong. Hidup rakyat tidak mengenal masa penyesuaian. Anak tetap sekolah, orang tetap sakit, kebutuhan tetap datang. Negara yang membiarkan antrean panjang berarti memindahkan beban manajemen ke pundak warga.

Negara yang kuat bukan negara tanpa antrean, melainkan negara yang mengelola antrean dengan hormat. Informasi yang jelas, waktu tunggu yang pasti, jalur cepat untuk yang rentan—itulah tanda kehadiran yang bekerja. Antrean tanpa kepastian melahirkan frustrasi; antrean yang manusiawi memulihkan kepercayaan.

Baca juga : Birokrasi Bangun Lambat

Januari ini, negara diuji bukan oleh kebijakan besar, tetapi oleh hal-hal kecil yang menentukan rasa. Apakah warga merasa dilayani atau sekadar disuruh menunggu. Jika negara terus berada di antrean, rakyat akan belajar berjalan tanpa negara. Dan ketika itu terjadi, yang hilang bukan sekadar waktu—melainkan kepercayaan yang sulit dibangun kembali.

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.