Dark/Light Mode
Wartawan Senior
RM.id Rakyat Merdeka - Hampir setiap awal tahun, satu kata selalu muncul dari mulut penguasa: sabar. Rakyat diminta menunggu, memahami, dan memberi waktu. Kritik dijawab dengan imbauan menahan diri. Seolah kesabaran adalah sumber daya tak terbatas yang hanya dimiliki warga, bukan negara.
Dalam merespons kritik awal tahun—soal harga, layanan publik, hingga proyek yang tak kunjung terasa—negara sering mengambil posisi moral yang nyaman. Rakyat diajak tenang, tetapi kebijakan tetap berjalan dengan ritme lama. Kesabaran menjadi bahasa penundaan, bukan jembatan perbaikan.
Masalahnya bukan pada ajakan bersabar, melainkan pada ketimpangan beban. Warga diminta menahan dampak, sementara negara jarang diuji daya tahannya menghadapi koreksi. Ketika kebijakan keliru, yang menanggung adalah rumah tangga; ketika pelayanan lambat, yang kelelahan adalah warga. Negara nyaris tak pernah diminta bersabar menghadapi tuntutan.
Dalam etika politik, kesabaran bukan sekadar kebajikan personal, melainkan relasi timbal balik. John Rawls menegaskan bahwa keadilan menuntut institusi publik menanggung beban paling berat dari ketidakadilan yang mereka hasilkan (A Theory of Justice, 1971). Jika negara meminta kesabaran, maka ia wajib lebih dulu menunjukkan ketangguhan moral untuk berubah.
Baca juga : Demokrasi di Pagi Hari
Namun yang sering terjadi adalah pembalikan tanggung jawab. Kesabaran dijadikan alat disiplin sosial: kritik dianggap tergesa, protes dianggap berlebihan. Padahal, kritik adalah tanda kepedulian; protes adalah bentuk kesabaran yang hampir habis. Negara yang matang membaca kritik sebagai alarm, bukan ancaman.
Kesabaran yang adil menuntut simetri. Negara harus mampu menahan ego kekuasaan, menunda kebijakan bermasalah, dan membuka ruang koreksi. Tanpa itu, kesabaran warga berubah menjadi keletihan kolektif—dan keletihan adalah pintu masuk sinisme.
Baca juga : Pembangunan Mulai Lagi
Kesabaran tidak boleh selalu dibebankan ke bawah. Negara yang beretika adalah negara yang juga bersabar: mendengar lebih lama, memperbaiki lebih cepat, dan menanggung lebih banyak. Di situlah kesabaran kembali menjadi nilai bersama—bukan tuntutan sepihak.
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.