BREAKING NEWS
 

Merawat yang Rapuh

Reporter & Editor :
BUDI RAHMAN HAKIM
Rabu, 25 Februari 2026 08:09 WIB
BUDI RAHMAN HAKIM

RM.id  Rakyat Merdeka - Pembangunan sering diukur dari yang terlihat kuat: jalan yang selesai, angka yang naik, proyek yang berdiri. Namun ukuran paling jujur justru tersembunyi pada yang rapuh—mereka yang hidup di tepi, yang mudah jatuh ketika sistem goyah. Di situlah kualitas sebuah negara diuji.

Kelompok rentan bukan sekadar kategori statistik. Mereka adalah wajah konkret dari risiko sosial: buruh informal, lansia tanpa perlindungan, anak-anak di keluarga miskin, warga yang hidup di batas layanan. Ketika kebijakan tak menjangkau mereka, pembangunan kehilangan maknanya.

Baca juga : Negara yang Belajar

Awal tahun memperlihatkan satu hal: banyak program berjalan, tetapi tidak semua menyentuh yang paling membutuhkan. Bantuan tersalur, namun tidak selalu tepat. Layanan tersedia, namun tidak selalu terakses. Yang rapuh sering kali kalah cepat dari prosedur, kalah kuat dari persyaratan.

Adsense

Ada kecenderungan melihat kerentanan sebagai beban, bukan prioritas. Padahal justru di situlah letak keadilan. Negara yang memprioritaskan yang kuat akan tampak efisien, tetapi tidak adil. Negara yang merawat yang rapuh mungkin tampak lambat, tetapi membangun fondasi kepercayaan yang lebih dalam.

Baca juga : Pemimpin Saat Salah

Amartya Sen menegaskan bahwa pembangunan sejati adalah perluasan kemampuan manusia untuk hidup bermakna, terutama bagi mereka yang paling terbatas (Development as Freedom, 1999). Jika yang paling lemah tak mengalami perbaikan, maka pertumbuhan hanya menjadi angka tanpa jiwa.

Merawat yang rapuh bukan sekadar kebijakan sosial, melainkan pilihan moral. Ia menuntut keberpihakan dalam anggaran, fleksibilitas dalam layanan, dan kepekaan dalam desain program. Ia juga menuntut keberanian untuk mengubah prioritas—dari mengejar capaian ke memastikan perlindungan.

Baca juga : Etika yang Terlewat

Pembangunan gagal bila yang rapuh dibiarkan runtuh. Sebaliknya, pembangunan berhasil ketika yang paling lemah bisa berdiri lebih tegak. Di situlah negara menemukan maknanya—bukan sebagai pengelola angka, tetapi sebagai penjaga kehidupan.

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Tags :

Berita Lainnya
 

TERPOPULER

Adsense