Dark/Light Mode

Keadilan Tak Netral

Jumat, 13 Februari 2026 08:19 WIB
BUDI RAHMAN HAKIM
BUDI RAHMAN HAKIM
Wartawan Senior

RM.id  Rakyat Merdeka - Tidak berpihak sering kali berarti berpihak pada yang kuat. Dalam konflik sosial—dari sengketa lahan hingga perselisihan perburuhan—negara kerap berdiri di tengah dan menyebutnya netral. Di atas kertas, posisi itu tampak adil. Di lapangan, ia sering menjadi ilusi yang melanggengkan ketimpangan.

Netralitas prosedural memang penting. Hukum harus berlaku sama, aturan harus konsisten. Namun ketika dua pihak datang dengan daya tawar yang timpang—yang satu bermodal kuasa dan akses, yang lain hanya membawa kebutuhan hidup—netralitas tanpa keberpihakan substantif menjadi bias yang terselubung. Keadilan bukan sekadar sama rata, melainkan tepat sasaran.

Baca juga : Hak yang Menyempit

Dalam banyak kasus, negara memilih aman: memediasi tanpa menyentuh akar masalah, menunda keputusan demi stabilitas. Hasilnya adalah kompromi yang terlihat damai, tetapi menyisakan ketidakadilan. Yang lemah diminta menerima, yang kuat diminta sabar. Kedua-duanya terdengar seimbang, padahal dampaknya tidak setara.

Ketika konflik memanas, aparat hadir menjaga ketertiban. Ketertiban perlu, tetapi ia bukan tujuan akhir. Jika yang dijaga hanya tenangnya permukaan, sementara ketimpangan dibiarkan, maka keadilan menjadi kosmetik. Negara tampak netral, tetapi struktur tetap berat sebelah.

Baca juga : Layanan Tak Sabar

John Rawls mengusulkan prinsip perbedaan—bahwa ketidaksetaraan hanya dapat dibenarkan jika menguntungkan yang paling tidak beruntung (A Theory of Justice, 1971). Prinsip ini menantang netralitas kosong. Keadilan harus berpihak pada yang rapuh agar setara benar-benar tercapai.

Keberpihakan bukan berarti diskriminasi; ia adalah koreksi atas ketimpangan. Negara perlu alat untuk membaca konteks: siapa yang kehilangan lebih banyak, siapa yang menanggung risiko terbesar, siapa yang tak punya suara. Tanpa pembacaan ini, keputusan netral akan selalu lebih nyaman bagi yang sudah kuat.

Baca juga : Ketika Data Ditolak

Keadilan tak netral karena realitas tak netral. Jika negara mengakui ini dan berani bertindak, kepercayaan akan tumbuh. Jika tidak, konflik akan berulang dengan wajah berbeda. Netralitas yang sejati adalah keberanian menegakkan keseimbangan—bukan sekadar berdiri di tengah dan berharap semuanya selesai sendiri.

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.