BREAKING NEWS
 

Tekanan dari Bawah

Reporter & Editor :
BUDI RAHMAN HAKIM
Senin, 2 Maret 2026 08:07 WIB
BUDI RAHMAN HAKIM

RM.id  Rakyat Merdeka - Tekanan tidak selalu datang dari luar negeri, pasar global, atau oposisi politik. Ia sering lahir dari bawah—dari antrean panjang, dari keluhan yang berulang, dari suara warga yang pelan tapi terus bertambah. Gelombang ini tidak meledak sekaligus, melainkan mengendap, mengumpul, dan perlahan mencari jalan keluar.

Awal Maret memperlihatkan akumulasi itu. Harga yang belum stabil, layanan yang belum rapi, dan kebijakan yang belum terasa manfaatnya mulai membentuk pola ketidakpuasan. Tidak selalu dalam bentuk demonstrasi besar, tetapi dalam keluhan sehari-hari yang makin sering terdengar. Negara mungkin tidak melihatnya sebagai krisis, tetapi warga mulai merasakannya sebagai beban.

Baca juga : Arah Perlu Dijaga

Ada kecenderungan lama dalam kekuasaan: lebih peka terhadap tekanan dari atas daripada dari bawah. Pasar bergerak sedikit, respons cepat disiapkan. Investor ragu, kebijakan segera disesuaikan. Namun, ketika warga mengeluh, negara sering meminta waktu, kesabaran, dan pengertian. Di sinilah ketimpangan perhatian mulai terasa.

Adsense

Masalahnya bukan pada kemampuan negara merespons, melainkan pada prioritasnya. Ketika suara bawah dianggap kurang mendesak, ia akan terus menumpuk. Ketika keluhan kecil diabaikan, ia berubah menjadi keresahan kolektif. Negara yang gagal membaca akumulasi ini sering terkejut ketika tekanan akhirnya meledak.

Baca juga : Merawat yang Rapuh

James C. Scott dalam kajiannya tentang perlawanan sehari-hari menunjukkan bahwa ketidakpuasan tidak selalu tampil dalam bentuk besar, melainkan tersembunyi dalam praktik kecil—keluhan, sinisme, dan penarikan diri (Weapons of the Weak, 1985). Justru di situlah tanda paling awal dari krisis sosial muncul.

Tekanan dari bawah adalah sinyal, bukan gangguan. Ia memberi kesempatan bagi negara untuk memperbaiki sebelum terlambat. Namun itu hanya mungkin jika negara mau mendengar sebelum dipaksa mendengar. Kepekaan ini tidak lahir dari laporan, melainkan dari kedekatan dengan realitas.

Baca juga : Negara yang Belajar

Negara sering kuat ke atas, tetapi rapuh menghadapi suara bawah. Jika pola ini terus dibiarkan, jarak akan melebar, dan kepercayaan akan menipis. Tekanan yang hari ini masih pelan bisa menjadi keras. Dan saat itu terjadi, yang hilang bukan hanya stabilitas, tetapi juga hubungan dasar antara negara dan warganya.

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Tags :

Berita Lainnya
 

TERPOPULER

Adsense