RM.id Rakyat Merdeka - Mengapa kita begitu bersemangat membicarakan perang di Timur Tengah, namun terasa sunyi ketika korupsi terjadi di halaman rumah sendiri? Padahal perang melawan korupsi adalah peperangan yang sangat lama yang dilalui bangsa ini. Dan sampai hari ini, tak kunjung kita menangi.
Di bulan Ramadan ini, dua kepala daerah justru diringkus KPK. Dimulai pada 3 Maret 2026 dengan penangkapan Bupati Pekalongan. Lalu menyusul Bupati Rejang Lebong pada 9 Maret. Hanya enam hari. Sebuah pencapaian yang pahit.
Ada yang berdalih mereka “hanya sedang sial”. Mungkin benar. Mereka hanya sedang apes di bawah radar hukum. Sebab di banyak pelosok negeri ini, korupsi bukanlah rahasia. Banyak yang tahu. Namun banyak juga yang diam.
Diam karena takut. Diam karena merasa tak berdaya. Atau diam karena tanpa sadar telah menjadi sekrup kecil dalam ekosistem ini.
Baca juga : Taruhan Nasib Seratusan Dolar
Lalu harus bagaimana? Memecah ke buntuan ini tentu butuh lebih dari sekadar kemarahan. Butuh sistem yang digerakkan dari berbagai arah. Dari bawah. Dari tengah. Terutama dari atas. Termasuk butuh keteladanan yang konsisten.
Transparansi, misalnya, harus berubah secara radikal. Anggaran tidak boleh lagi sekadar deretan angka di situs web yang sulit diakses. Anggaran harus (bisa) dibedah. Sampai satuan terkecil. Oleh publik.
Lalu perlindungan. Para peniup peluit, whistleblower, harus benar-benar dijaga. Mereka yang berani bicara tidak boleh dibiarkan berdiri sendirian. Harus ada jaminan hukum. Juga keamanan, supaya bisikbisik dari warung kopi tdak berhenti sebagai rumor. Tetapi bisa berubah menjadi bukti di meja hijau.
Selain itu, ada satu hal yang sering diremehkan: keberanian untuk bertanya dan mempertanyakan. Jangan biarkan bangunan sekolah yang roboh, jalan yang rusak, atau jembatan yang ambruk hanya dianggap musibah.
Baca juga : Generasi Perang Di Simpang Jalan
Tanyakan saja: mengapa itu terjadi? Kemana anggarannya? Pertanyaan itu tampak sederhana dan biasa saja. Namun sering kali justru di situlah perubahan bermula.
Tentu saja, itu hanya jalan keluar kecil. Masih banyak jalan keluar serta solusi lainnya. Disinilah kita membutuhkan peran Kemendagri dan DPR. Karena, bangsa ini butuh jalan keluar yang konkret, serius dan konsisten serta berkesinambungan. Segera.
Bangsa ini sudah terlalu lama “diam”. Bangsa ini sudah terlalu lama terlibat peperangan (melawan korupsi), dari rezim ke rezim, namun belum juga dimenangi.
Tampaknya, sekarang ada semangat kuat untuk memenangi peperangan ini. Jangan sampai momentumnya hilang. Apalagi tahun depan sudah memasuki tahun politik yang sibuk.
Baca juga : Generasi Perang Di Simpang Jalan
Kita boleh saja marah melihat api yang membakar rumah tetangga di Timur Tengah. Itu wajar. Tidak masalah. Tetapi, dapur kita sendiri juga sedang hangus. Perlahan tapi pasti. Dirampok dan digerogoti oleh korupsi. Ini tak bisa terus dibiarkan. Palagan ini harus dimenangi.
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.