Dark/Light Mode
Wartawan Senior
RM.id Rakyat Merdeka - Bagaimana kita melihat serangan AS-Israel terhadap Iran? Lewat kecanggihan rudal? Brutalitas serangan udara? Pergantian rezim? Atau perdebatan nuklir yang tak usai?
Kita yang jauh, hanya menyaksikannya lewat jendela kecil di telapak tangan. Lewat laptop atau ponsel. Satu guliran (scroll) di ponsel, kita melihat reruntuhan sekolah di Teheran. Guliran berikutnya, muncul tarian yang sedang viral. Scroll lagi, ada rekomendasi kafe estetik.
Hanya butuh dua puluh detik untuk menyaksikan sebuah dunia runtuh di Teheran. Lalu, jempol kita bergerak lagi. Seolah tragedi hanyalah selingan sebelum konten berikutnya yang dianggap lebih menghibur.
Perang hari ini tidak lagi selalu mempertemukan mata dengan mata. Perang jarak jauh di layar monitor. Di satu sisi, seorang operator di ruang ber-AC, menekan tombol dengan ujung jarinya. Jaraknya ribuan kilometer dari titik ledak. Booom!
Baca juga : Mesin Politik, Mesin Dapur
Di sisi lain, seorang anak meringkuk di bawah meja berdebu akibat bom. Jari-jarinya gemetar. Inilah tragisnya: yang satu memegang tombol sambil melihat koordinat digital, yang lain merasakan debu mesiu masuk ke paru-paru.
Para penonton berada di tengah. Ada yang mengonsumsi perang itu di sofa kafe menjelang berbuka, di halte, atau di atas kasur seblum tidur. Aman. Nyaman. Jauh tapi dekat. Dekat tapi jauh. Lewat ponsel.
Perang kemudian berubah menjadi serupa permainan atau game. Tidak lagi terbayang dan terdengar suara jeritan yang tertahan di balik beton. Seolah yang meledak hanyalah semen dan baja, bukan anak. Bukan masa depan.
Inilah ironi terbesar zaman digital: kita melihat lebih banyak penderitaan dibanding generasi mana pun dalam sejarah. Tetapi merasakan empati yang jauh lebih sedikit.
Baca juga : Skor Yang Jadi Alarm
Di era pra-digital, berita perang terasa sakral. Ada duka berjamaah yang berbobot. Ada ketakutan. Ada kesedihan yang lama (ataukah ini hanya perasaan personal saya saja?)
Sekarang, video pendek 15 detik tentang mayat bocah di Teheran berpindah secepat kilat, di-scroll ke resep nasi goreng atau destinasi wisata yang ngetren. Emosi kita cepat beralih, diaduk sebentar, lalu hilang.
Di era digital ini, apakah kita sedang membangun “kemanusiaan baru”? Atau justru sedang mengikis kepekaan? Empati kita yang tampak lelah, membuat kita menjadi “konsumen” perang hanya lewat scroll dengan ujung jari.
Kita memang tidak memegang senjata di medan laga, tapi kita sedang berperang melawan pengikisan nurani sendiri. Dan, kita bisa dipaksa menelan kekalahan.
Baca juga : Empat Duka, Satu Cermin
Karena itu, jumlah korban, berapa pun, jangan hanya dimaknai sekadar angka. Bocah di NTT yang meninggal dalam kemiskinan, atau anak-anak di Iran yang tertimbun reruntuhan sekolah, keduanya tidak bisa dianggap sebagai data yang lewat. Itu data yang “hidup”.
Kemanusiaan mungkin tidak lagi trending seperti ponsel baru atau restoran instagramable. Namun, kemanusiaan tetaplah satu-satunya alasan yang membuat orang-orang di bumi ini, termasuk para penentu kebijakan, layak disebut manusia yang adil dan beradab. Di ujung jari mereka, dunia dipertaruhkan.
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.